Di Gaza, Kau Hanya Punya 58 Detik Untuk Hidup

alaqsha

Di Gaza, Kau Hanya Punya 58 Detik Untuk Hidup

JALUR GAZA, Kamis (SMPalestine): Langit jernih. Tidak ada awan yang menyembunyikan bunyi dengung pesawat tanpa awak di atas rumahmu. Meski berada ribuan meter di atasmu, kamera pesawat tersebut melihat jelas segala sesuatu. Kau bertanya-tanya, apakah operator pesawat tanpa awak yang sedang duduk nyaman di ruangan sejuk sedang membuat kontak mata denganmu.

Kau dengar suara gesekan yang samar, lalu kau dengar ledakan keras. Penjajah baru saja ‘mengetuk’ rumahmu. Cepat! Kamu hanya punya 58 detik untuk bisa keluar hidup-hidup dari rumahmu. Rudal yang baru saja menyerang rumahmu tidak dilengkapi dengan peledak. Ini sengaja. “Kau telah diperingatkan”, artinya. Tetanggamu seluruhnya melongokkan kepala dari jendela mereka dan berteriak padamu, “Cepat lari keluar rumah!”

Kau hanya punya 40 detik tersisa. Karena tembakan peringatan telah mengetuk atap rumahmu. Apa manfaat sebuah peringatan yang tujuannya adalah untuk membunuhmu? Ketika kau berlari melewati ruang keluarga, terlihat foto nenekmu yang telah wafat.

Dua puluh dua detik lagi. Kau berlari mengikuti keluargamu keluar rumah. Tidak banyak waktu tersisa. Tetapi bagimu, ini lebih dari cukup untuk menantang balik. Kau tatap pesawat tanpa awak itu. Sesuatu memberitahumu bahwa pengendaranya menatapmu kembali, lantas berpaling.

Dua belas detik lagi, sebelas, sepuluh… Ada waktu untuk berlari ke deretan rumah berikutnya.

Detik terus berjalan. Lima, empat, tiga. Ibumu berhenti berlari dan berputar arah menujumu. Tetapi kau melambaikan tangan. Pergi, Mama, teruslah berlari. Aku akan mengejarmu, kau bilang.

Dua.

Seorang tetanggamu menarik tanganmu dan memasukkanmu ke dalam rumahnya. Dia menyuruhmu berlutut.

Satu.

Tetanggamu menutup telinganya. Kau tidak.

Nol. * (SMPalestine|Sahabat Al-Aqsha)

ANAK NAKAL (2)

ANAK NAKAL ITU TIDAK ADA

ANAK terlahir dalam keadaan suci, tidak memiliki dosa sedikit pun. Namun, banyak orangtua yang mengklaim anak mereka sebagai anak yang nakal. Padahal, anak tersebut memiliki sifat yang nakal lantaran orangtuanya yang sendiri menghakiminya.
Begitulah kalimat yang terlontar dari bibir psikolog anak dan Ketua Dewan Pembina Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Seto Mulyadi.
“Tidak ada anak yang nakal. Yang menjadikan anak itu nakal, orangtuanya sendiri. Anak sedang lucu-lucunya dicuekin. Saat dia melakukan kesalahan, dimarahi habis-habisan dan dicap sebagai anak nakal. Padahal, anak itu kan tidak mengerti apa-apa. Dia melakukan apa yang menyenangkan bagi dirinya, orangtua harusnya mampu menjaga dengan baik dan menasihati dengan baik, bukan malah menghakimi,” tuturnya kepada Okezone yang diwawancarai langsung di kediamananya di Cirendeu Permai, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Pria ramah berusia 62 tahun ini mengatakan, anak yang dimarahi orangtuanya akan semakin penasaran dengan apa yang dia lakukan. Sehingga anak akan terus-menerus melakukan kebodohan tersebut.
“Anak itu kan sedang belajar. Jika dia berbuat kesalahan, jangan dimarahi. Harusnya diberi arahan, harusnya seperti ini. kalau dia sering corat-coret tembok, beri dia ruang untuk dapat mencorat-coret khusus untuknya. Itu solusinya, bukan malah memarahi anak dan mencap dia nakal. Karena dari sana, dia akan menjadi anak yang nakal berkat doa dan omongan orangtuanya,” ungkapnya.
Pria yang kerap disapa Kak Seto ini mengatakan bahwa orangtua harusnya memiliki pendidikan khusus bagaimana cara merawat dan melindungi anak. Agar tidak ada lagi kasus kekerasan terhadap anak. Dengan bekal pendidikan bagi orangtua, mereka tentu akan sadar bagaimana memerlakukan anak dengan baik dan benar.

ADAKAH ANAK NAKAL ITU (1)

Anak Nakal Itu Ada

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Ada anak yang ketika kecil nakal sekali, saat dewasa justru menjadi orang besar yang kehadirannya memberi manfaat bagi ummat manusia. Tetapi ini bukan berarti untuk menjadi orang besar, masa kecilnya harus nakal. Imam Syafi’i rahimahullah, semasa kecil menunjukkan antusiasme belajar yang sangat besar, saat beranjak besar semakin berkobar-kobar semangatnya, dan di usia yang masih amat belia, yakni 16 tahun,telah memiliki kepatutan untuk memberikan fatwa. Sebuah kedudukan yang sangat tinggi bagi seseorang yang mendalami agama ini. Beliau juga menjadi peletak dasar ushul fiqh yang sangat berpengaruh hingga kini.

Tak sedikit pula kita membaca dalam sejarah tentang orang-orang yang membawa kerusakan di masa dewasanya, ternyata saat kecil telah menunjukkan perilaku nakalnya. Bermula dari masa kecil yang tak tertangani dengan baik, keburukan itu melekat padanya hingga masa dewasa. Ia rusak dan merusak orang lain.

Apa yang ingin saya katakan dengan tulisan ini? Menyederhanakan masalah bahwa kenakalan anak justru bermanfaat untuk keberhasilannya di masa dewasa, merupakan kesimpulan yang terlalu gegabah. Sederhana itu memang tanda kebijaksanaan (simplexveri sigillum), tetapi terlalu menyederhanakan persoalan tanda kurang wawasan dan dangkal berpikir. Sama kelirunya menganggap kenakalan anak merupakan pertanda masa depan yang sangat buruk. Ini juga terlalu menyederhanakan masalah.

Di sebuah seminar, seorang bapak dari Dinas Pendidikan setempat menyampaikan dengan sangat mantap. Ia berkata, “Anak nakal itu tidak ada. Sekali lagi, tidak ada. Yang ada adalah over-kreatif.” Ini ungkapan yang indah, memukau dan membodohkan. Jika benar kenakalan itu merupakan bentuk over kreatif, maka mafhum mukhalafah-nya yang tidak nakal pastilah menjadi orang-orang yang sangat kreatif. Tetapi yang kita jumpai tidak demikian. Yang nakal, tidak kreatif. Yang tidak nakal pun sama: tidak kreatif.

Bapak yang terhormat tersebut melanjutkan perkataannya, “Kenakalan itu tidak ada. Yang adalah over energi. Anak memiliki energi sangat besar, tetapi tidak tahu bagaimana menyalurkannya.” Hmm…., bapak kita ini rupanya lupa bahwa salah satu masalah serius kita adalah hilangnya gairah belajar sehingga seakan mereka tak punya energi. Ditakut-takuti tidak takut, diiming-imingi tidak kepingin. Dan ada anak-anak yang justru menunjukkan perilaku tidak mau mengikuti perintah serta aturan. Semakin ia didorong melakukan, semakin ia menunjukkan keengganan. Ia mengembangkan perilaku dawdling; makin disuruh, makin malas ia bergerak.

Bedakan Memahami dan Menjuluki

Belakangan ini banyak orangtua maupun guru yang menghindari kata nakal dengan keyakinan bahwa itu justru dapat menjadikan anak benar-benar nakal. Mereka bersibuk menghalus-haluskan kata, mengindah-indahkan istilah sehingga justru semakin membingungkan. Makin dihalus-haluskan, makin jauh dari makna aslinya dan bahkan rancu dengan berbagai istilah lain.

Sesungguhnya menghapuskan kata nakal samasekali berbeda dengan mengatasi kenakalan. Kekhawatiran para pendidik terhadap istilah nakal agaknya bermula dari kerancuan antara memahami kenakalan dengan menjuluki anak dengan sebutan nakal. Keduanya sangat berbeda. Kita memang tak seharusnya memberi label negatif dengan menjuluki anak sebagai nakal, bandel dan sejenisnya. Tetapi bukan berarti kenakalan itu tidak ada. Sama halnya seorang da’i harus memahami tentang berbagai bentuk kemaksiatan, tetapi bukan berarti ia patut berkata kepada seseorang yang melakukan maksiat dengan ungkapan, “Wahai Ahli Maksiat!”

Tetapi…

Sebagaimana kita tidak boleh menutup mata bahwa kenakalan itu ada, orangtua maupun guru juga tidak boleh gegabah menilai perilaku anak sebagai kenakalan. Kerap terjadi apa yang dianggap sebagai kenakalan anak, sesungguhnya adalah keengganan orangtua untuk mau berpayah-payah sedikit saja. Kadangkala yang bermasalah ketika anak dianggap bertingkah justru kita selaku pendidik. Karenanya, kita perlu berusaha memahami perilaku anak –termasuk kenakalan—dengan benar. Dan memahami kenakalan tidak sama dengan menjuluki nakal kepada anak!

Ketahui Sebabnya, Selesaikan Masalahnya

Secara umum, ada empat sebab kenakalan anak. Kerap disebut juga tujuan anak melakukan kenakalan, yakni memperoleh perhatian, motif kekuasaan, melakukan balas dendam atau menghindari kegagalan.Yang disebut terakhir ini sebenarnya lebih merujuk kepada kondisi ketika anak dituntut untuk sempurna, tetapi ia merasa tidak akan sanggup memenuhinya, makaia bertindak nakal justru agar dimaklumi jika nantinya gagal. Jadi, kenakalan merupakan pelarian ketika ia merasa tidak akan berhasil. Tetapi orang lain melihat sebaliknya, yakni ia gagal karena nakal.

Tiap-tiap jenis kenakalan memiliki ciri khas (karakteristik) yang berbeda-beda. Salah satu kunci menyelesaikan masalah adalah dengan memahami betul ciri khas kenakalan anak, sehingga dapat secara tepat memahami tujuan kenakalan anak. Jika kita dapat memastikan tujuan kenakalan –dan itu hanya satu di antara empat—maka akan lebih mudah bagi kita melakukan tindakan yang diperlukan untuk mengatasi kenakalan tersebut.

Ada kenakalan yang bersumber dari rumah, ada pula yang tidak. Ini kita perlu ketahui agar dapat memetakan masalah dengan jelas. Dalam kasus kenakalan untuk memperoleh perhatian, sumbernya bisa berasal dari rumah, bisa juga berasal dari sekolah. Itu sebabnya, kadang ada anak yang baik di rumah, tapi di sekolah memusingkan guru. Begitu pun sebaliknya, kita dapati kasus anak yang di rumah bikin orangtua sakit kepala nyaris tiap hari, tapi di sekolah baik-baik saja. Jadi, kenakalan karena ingin memperoleh perhatian umumnya muncul di tempat dimana ia sangat menginginkan perhatian.

Yang kadang dirancukan dengan motif memperoleh perhatian adalah kenakalan karena anak melakukan balas dendam. Bersebab kita menganggap sama, tindakan yang dilakukan orangtua atau guru (jika kasusnya muncul di sekolah) juga cenderung serupa dengan penanganan terhadap kenakalan karena ingin memperoleh perhatian. Ini berakibat penanganan menjadi tidak efektif.

Perbincangan tentang kenakalan karena ingin memperoleh perhatian dan kenakalan untuk melakukan balas dendam hanyalah sekedar contoh. Saya hanya ingin menekankan bahwa kita perlu mengetahui sebabnya dengan baik, memahami sumbernya, memetakan secara tepat dan sesudah itu dapat mengambil langkah yang sesuai dengan jenis kenakalan anak.

Semoga perbincangan sederhana ini bermanfaat.

 

Jangan Remehkan Dakwah Kepada Anak

248848_188730301176106_2347724_n

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Jangan remehkan dakwah kepada anak-anak!

Jika telah terikat hatinya dengan Islam, mereka akan mudah bersungguh-sungguh menetapi agama ini setelah dewasa. Jika engkau gembleng mereka untuk siap menghadapi kesulitan, maka kelak mereka tak mudah ambruk hanya karena langkah mereka terhalang oleh kendala-kendala yang menghadang. Tetapi jika engkau salah membekali, mereka akan menjadi beban bagi ummat ini di masa yang akan datang. Cemerlangnya otak sama sekali tidak memberi keuntungan jika hati telah beku dan kesediaan untuk berpayah-payah telah runtuh.

Maka, ketika engkau mengurusi anak-anak di sekolah, ingatlah sejenak. Tugas utamamu bukan sekedar mengajari mereka berhitung. Bukan! Engkau sedang berdakwah. Sedang mempersiapkan generasi yang akan mengurusi umat ini 30 tahun mendatang. Dan ini pekerjaan sangat serius. Pekerjaan yang memerlukan kesungguhan berusaha, niat yang lurus, tekad yang kuat serta kesediaan untuk belajar tanpa henti.

Karenanya, jangan pernah main-main dalam urusan ini. Apa pun yang engkau lakukan terhadap mereka di kelas, ingatlah akibatnya bagi dakwah ini 30 40 tahun yang akan datang. Jika mereka engkau ajari curang dalam mengerjakan soal saja, sesungguhnya urusannya bukan hanya soal bagaimana agar mereka lulus ujian. Bukan. Yang terjadi justru sebaliknya, masa depan umat sedang engkau pertaruhkan!!! Tidakkah engkau ingat bahwa induk segala dusta adalah ringannya lisan untuk berdusta dan tiadanya beban pada jiwa untuk melakukan kebohongan.

Maka, ketika mutu pendidikan anak-anak kita sangat menyedihkan, urusannya bukan sekedar masa depan sekolahmu. Bukan. Sekolah ambruk bukan berita paling menyedihkan, meskipun ini sama sekali tidak kita inginkan. Yang amat perlu kita khawatiri justru lemahnya generasi yang bertanggung-jawab menegakkan dien ini 30 tahun mendatang. Apa yang akan terjadi pada umat ini jika anak-anak kita tak memiliki kecakapan berpikir, kesungguhan berjuang dan ketulusan dalam beramal?

Maka…, ketika engkau bersibuk dengan cara instant agar mereka tampak mengesankan, sungguh urusannya bukan untuk tepuk tangan saat ini. Bukan pula demi piala-piala yang tersusun rapi. Urusannya adalah tentang rapuhnya generasi muslim yang harus mengurusi umat ini di zaman yang bukan zamanmu. Kitalah yang bertanggung-jawab terhadap kuat atau lemahnya mereka di zaman yang boleh jadi kita semua sudah tiada.

Hari ini, ketika di banyak tempat, kemampuan guru-guru kita sangat menyedihkan, sungguh yang paling mengkhawatirkan adalah masa depan umat ini. Maka, keharusan untuk belajar bagimu, wahai Para Guru, bukan semata urusan akreditasi. Apalagi sekedar untuk lolos sertifikasi. Yang harus engkau ingat adalah: “Ini urusan umat. Urusan dakwah.” Jika orang-orang yang sudah setengah baya atau bahkan telah tua, sulit sekali menerima kebenaran, sesungguhnya ini bermula dari lemahnya dakwah terhadap mereka ketika masih belia; ketika masih kanak-kanak. Mereka mungkin cerdas, tapi adab dan iman tak terbangun. Maka, kecerdasan itu bukan menjadi kebaikan, justru menjadi penyulit bagi mereka untuk menegakkan dien.

Wahai Para Guru, belajarlah dengan sungguh-sungguh bagaimana mendidik siswamu. Engkau belajar bukan untuk memenuhi standar dinas pendidikan. Engkau belajar dengan sangat serius sebagai ibadah agar memiliki kepatutan menjadi pendidik bagi anak-anak kaum muslimin. Takutlah engkau kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sungguh, jika engkau menerima amanah sebagai guru, sedangkan engkau tak memiliki kepatutan, maka engkau sedang membuat kerusakan.

Sungguh, jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah saatnya (kehancuran) tiba.

Ingatlah hadis Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat,” Dia (Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?” Beliau menjawab, “Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat!” (HR. Bukhari).

Maka, keharusan untuk belajar dengan sungguh-sungguh, terus-menerus dan serius bukanlah dalam rangka memenuhi persyaratan formal semata-mata. Jauh lebih penting dari itu adalah agar engkau memiliki kepatutan menurut dien ini sebagai seorang guru. Sungguh, kelak engkau akan ditanya atas amanah yang engkau emban saat ini.

Wahai Para Guru, singkirkanlah tepuk tangan yang bergemuruh. Hadapkan wajahmu pada tugas amat besar untuk menyiapkan generasi ini agar mampu memikul amanah yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka. Sungguh, kelak engkau akan ditanya di Yaumil-Qiyamah atas urusanmu.

Jika kelak tiba masanya sekolah tempatmu mengajar dielu-elukan orang sehingga mereka datang berbondong-bondong membawa anaknya agar engkau semaikan iman di dada mereka, inilah saatnya engkau perbanyak istighfar. Bukan sibuk menebar kabar tentang betapa besar nama sekolahmu. Inilah saatnya engkau sucikan nama Allah Ta’ala seraya senantiasa berbenah menata niat dan menelisik kesalahan diri kalau-kalau ada yang menyimpang dari tuntunan-Nya. Semakin namamu ditinggikan, semakin perlu engkau perbanyak memohon ampunan Allah ‘Azza wa Jalla.

Wahai Para Guru, sesungguhnya jika sekolahmu terpuruk, yang paling perlu engkau tangisi bukanlah berkurangnya jumlah siswa yang mungkin akan terjadi. Ada yang lebih perlu engkau tangisi dengan kesedihan yang sangat mendalam. Tentang masa depan ummat ini; tentang kelangsungan dakwah ini, di masa ketika kita mungkin telah tua renta atau bahkan sudah terkubur dalam tanah.

Ajarilah anak didikmu untuk mengenali kebenaran sebelum mengajarkan kepada mereka berbagai pengetahuan. Asahlah kepekaan mereka terhadap kebenaran dan cepat mengenali kebatilan. Tumbuhkan pada diri mereka keyakinan bahwa Al-Qur’an pasti benar, tak ada keraguan di dalamnya. Tanamkan adab dalam diri mereka. Tumbuhkan pula dalam diri mereka keyakinan dan kecintaan terhadap As-Sunnah Ash-Shahihah. Bukan menyibukkan mereka dengan kebanggaan atas dunia yang ada dalam genggaman mereka.

Ini juga berlaku bagi kita.

Ingatlah do’a yang kita panjatkan:

“اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ”

“Ya Allah, tunjukilah kami bahwa yang benar itu benar dan berilah kami rezeki kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukilah kami bahwa yang batil itu batil, serta limpahilah kami rezeki untuk mampu menjauhinya.”

Inilah do’a yang sekaligus mengajarkan kepada kita agar tidak tertipu oleh persepsi kita. Sesungguhnya kebenaran tidak berubah menjadi kebatilan hanya karena kita mempersepsikan sebagai perkara yang keliru. Demikian pula kebatilan, tak berubah hakekatnya menjadi kebaikan dan kebenaran karena kita memilih untuk melihat segi positifnya. Maka, kepada Allah Ta’ala kita senantiasa memohon perlindungan dari tertipu oleh persepsi sendiri.

Pelajarilah dengan sungguh-sungguh apa yang benar; apa yang haq, lebih dulu dan lebih sungguh-sungguh daripada tentang apa yang efektif. Dahulukanlah mempelajari apa yang tepat daripada apa yang memikat. Prioritaskan mempelajari apa yang benar daripada apa yang penuh gebyar. Utamakan mempelajari hal yang benar dalam mendidik daripada sekedar yang membuat sekolahmu tampak besar bertabur gelar. Sungguh, jika engkau mendahulukan apa yang engkau anggap mudah menjadikan anak hebat sebelum memahami betul apa yang benar, sangat mudah bagimu tergelincir tanpa engkau menyadari. Anak tampaknya berbinar-binar sangat mengikuti pelajaran, tetapi mereka hanya tertarik kepada caramu mengajar, tapi mereka tak tertarik belajar, tak tertarik pula menetapi kebenaran.

***

Jangan sepelekan dakwah terhadap anak! Kesalahan mendidik terhadap anak kecil, tak mudah kelihatan. Tetapi kita akan menuai akibatnya ketika mereka dewasa. Betapa banyak yang keliru menilai. Masa kanak-kanak kita biarkan direnggut TV dan tontonan karena menganggap mendidik anak yang lebih besar dan lebih-lebih orang dewasa, jauh lebih sulit dibanding mendidik anak kecil. Padahal sulitnya melunakkan hati orang dewasa justru bersebab terabaikannya dakwah kepada mereka di saat belia.

Wallahu a’lam bish-shawab. Kepada Allah Ta’ala kita memohon pertolongan. Maafkan saya.

Kekeliruan Haramkan Kata ‘Jangan’ Pada Anak

mitos jangan

Salah seorang pendidik pernah berkata, “pintu terbesar yang paling mudah dimasuk oleh yahudi adalah yaitu dunia psikologi dan dunia pendidikan. Karena itulah, berangkat dari hal ini. Kita akan mengupas beberapa “kekeliruan” pada buku-buku pendidikan, seminar, teori pendidikan, dan lainnya.
Saking masifnya sebaran tersebut, kita juga terkadang kesulitan untuk tidak mengucapkan kata jangan pada anak-anak kita. Terasa mengganjal di benak kita karena bertentangan dengan fitrah manusia apabila dalam kondisi panik dan terjepit akan mengucapkan kata ‘jangan’.
Misalnya saja anak kita sudah akan jatuh ke dalam lubang sumur, tak mungkin dalam waktu yang sepersekian detik akan mengatakan “ayo lebih baik main disini”. Tentu anak kecil tak mengerti makna itu’ dan tentu parahnya anak tak sempat berhenti dan jatuh ke dalam sumur.
Berbeda jika kita secara refleks katakam pada anak kita “jangan nak nanti jatuh, berbahaya…” Sang anak akan kaget dan menhentikan langkahnya.
…misalnya saja anak kita sudah akan jatuh ke dalam lubang sumur, tak mungkin dalam waktu yang sepersekian detik akan mengatakan “ayo lebih baik main disini”. Anak kecil tak mengerti makna itu’ dan tentu parahnya anak tak sempat berhenti dan jatuh ke dalam sumur.
Sudah menjangkiti beberapa para pendidik muslim, baik para ayah dan ibu, yang tercuci otaknya dan melarang berkata “Jangan” pada anak.
Mari kita lihat, beberapa perkataan-perkataan ‘dalam pendidikan’ tentang larangan mengucapkan kata jangan pada anak.
Diantaranya Ayah Edy, dia mengatakan pada bukunya yang berjudul ‘Ayah Edy Menjawab hal. 30, “..gunakan kata-kata preventif, seperti hati-hati, berhenti, diam di tempat, atau stop. Itu sebabnya kita sebaiknya tidak menggunakan kata ‘jangan’ karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata ‘jangan’.
Pada media online, detik.com, pernah menulis judul artikel ‘Begini Caranya Melarang Anak Tanpa Gunakan Kata ‘Tidak’ atau ‘Jangan’, atau “…Tak usah bingung, untuk melarang anak tak melulu harus dengan kata jangan atau tidak…”
Pada sebuah artikel lain, berjudul, “Mendidik Anak Tanpa Menggunakan Kata JANGAN” tertulis, “Kata ‘jangan’ akan memberikan nuansa negatif dan larangan dari kita sebagai orang tua, maka dari itu coba untuk mengganti dengan kata yang lebih positif dan berikan alasan yang dapat diterima anak…”
Nah, inilah syubhat (keraguan) yang digembar-gemborkan media sekuler dayng merujuk pada psikolog atheis dan Yahudi. Indah nampaknya, tapi di dalamnya terkandung bahaya yang kronis.
Mari kita bahas syubhat yang mereka gelontorkan. Sebelumnya, kalau kita mau teliti, mari kita tanyakan kepada mereka yang melarang kata ‘jangan’, apakah ini punya landasan dalam al-Qur’an dan hadits? Apakah semua ayat di dalam al-Qur’an tidak menggunakan kata “Laa (jangan)”?
Mereka pun mengatakan jangan terlalu sering mengatakan jangan. Sungguh mereka lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata “jangan”.
Allahu akbar, banyak sekali! Mau dikemanakan ayat-ayat kebenaran ini? Apa mau dibuang? Dan diadopsi dari teori dhoif? Kalau mereka mengatakan kata jangan bukan tindakan preventif (pencegahan), maka kita tanya, apakah Anda mengenal Luqman AL- Hakim?
Dalam Al Quran ada surat Luqman ayat 12 sampai 19. Kisah ini dibuka dengan penekanan Allah bahwa Luqman itu orang yang diberi hikmah, orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya (“ walaqod ataina luqmanal hikmah….” . dst)
Apa bunyi ayat yang kemudian muncul? Ayat 13 lebih tegas menceritakan bahwa Luqman itu berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, JANGANLAH engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu termasuk dosa yang besar”.
Inilah bentuk tindakan preventif yang ada dalam al-Qur’an. Sampai pada ayat 19, ada 4 kata “ laa ” (jangan) yang dilontarkan oleh Luqman kepada anaknya, yaitu “laa tusyrik billah”, “fa laa tuthi’humaa”, “Wa laa tusha’ir khaddaka linnaasi”, dan “wa laa tamsyi fil ardli maraha”.
Luqman tidak perlu mengganti kata “jangan menyekutukan Allah” dengan (misalnya) “esakanlah Allah”.
Luqman tidak perlu mengganti kata “jangan menyekutukan Allah” dengan (misalnya) “esakanlah Allah”.
Pun demikian dengan “Laa” yang lain, tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat anjuran.
Mengapa Luqmanul Hakim tidak menganti “jangan” dengan “diam/hati-hati”?Karena ini bimbingan Alloh.
Perkataan “jangan” itu mudah dicerna oleh anak, sebagaimana penuturan Luqman Hakim kepada anaknya. Dan perkataan jangan juga positif, tidak negatif. Ini semua bimbingan dari Alloh subhanahu wa ta’ala, bukan teori pendidikan Yahudi.
Adakah pribadi psikolog atau pakar parenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman? Tidak ada.
Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allah dalam Kitab suci karena ketinggian ilmunya. Dan tidak satupun ada nama psikolog kita temukan dalam kitabullah itu.
Membuang kata “jangan” justru menjadikan anak hanya dimanja oleh pilihan yang serba benar. Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang dalam agama, tetapi karena lebih memilih berdamai.
Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya.
Dan, kelak, ia tidak berzina bukan karena takut adzab Alloh, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya. Nas alulloha salaman wal afiyah.
Anak-anak hasil didikan tanpa “jangan” berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum. Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiatan bertebaran, tidak perhatian lagi dengan amar ma’ruf nahi mungkar, tidak ada lagi minat untuk mendakwahi manusia yang dalam kondisi bersalah, karena dalam hatinya berkata “itu pilihan mereka, saya tidak demikian”.
Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi “mereka memang begitu, yang penting saya tidak melakukannya”.
Itulah sebenar-benar paham liberal, yang ‘humanis’, toleran, dan menghargai pilihan-pilihan. Jadi, yakini dan praktikkanlah teori parenting Barat itu agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal. Simpan saja AL-Qur’an di lemari paling dalam dan tunggulah suatu saat akan datang suatu pemandangan yang sama seperti kutipan kalimat di awal tulisan ini. Astagfirulloh!
Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala memberi taufik kepada kita semua..
Penulis : Ummu Hanim, [adivammar/voaislam.com]