Kalila wa Dimna, Dongeng Fabel Menarik dari Dunia Muslim

Kisah macam ‘Kancil Mencuri Timur’ juga dikenal di dunia Arab. Salah satu buku dongeng binatang yang dikenal Muslim sejak lama ialah “Kalila wa Dimna”. Buku ini adalah salah satu karya terlaris selama dua ribu tahun dan hingga kini masih digemari banyak orang di dunia Arab.

Buku yang berarti Kalila dan Dimna–dinamai dari dua anjing hutan yang menjadi karakter utama–ditulis sebagai panduan dan instruksi pelayanan sipil. Kisah-kisahnya begitu menghibur hingga diterima di setiap kelas, menjadi dongeng rakyat di dunia Muslim. Orang Arab membawa kisah-kisah itu ke Spanyol, di sana buku tersebut diterjemahkan ke Bahasa Spanyol Tua, pada abad ke-13. Saat diterjemahkan ke dalam Bahasa Italia, itu merupakan kali pertama buku tampil dalam versi cetak, setelah mesin cetak ditemukan.

Kalila dan Dimna aslinya ditulis dalam Bahasa Sansekerta, diperkirakan dari Kashmir pada abad ke-4. Dalam Sansekerta buku ini disebut Panchatantra atau “Lima Wacana”. Buku tersebut sebenarnya ditulis untuk tiga pangeran muda yang telah membuat guru mereka putus asa dan sang ayah terganggu.

Raja takut memercayakan kerajaannya ke para putranya yang tak mampu menguasai pelajaran paling mendasar. Raja mendatangi wazirnya yang bijaksana  untuk meminta bantuan dan si wazir pun menulis Panchatantra. Buku itu mengungkapkan kebijaksanaan besar dalam kisah-kisah fabel binatang yang mudah dicerna.

Enam bulan kemudian para pangeran sudah berada di jalan kebijaksanaan. Ketika raja mangkat, mereka menggantikan kepemimpinan ayahnya dengan penuh keadilan.

Dua ratus tahun kemudian, seorang shah Persia mengutus dokter pribadinya, Burzoe, ke India untuk menemukan jenis herbal tertentu yang konon mampu menghadirkan kehidupan abadi bagi mereka yang memakannya. Alih-alih, Burzoe malah membawa satu salinan Panchatantra, yang ia klaim sama baiknya dengan herbal ajaib karena ia menghadirkan kebijaksanaan besar ke pembacanya.

Shah memerintahkan Burzoe mengalihbahasakan ke Pehlavi, bentuk kuno Bahasa Persia. Ia begitu menyukai buku itu hingga menyimpannya dalam satu ruang khusus di dalam istananya.

Tiga ratus tahun berselang, setelah Muslim menguasai Persia dan Timur Dekat, seorang Persia yang telah memeluk Islam, bernama Ibnu al Mukaffah, menemukan buku itu dalam bahasa Pehlavi terjemahan Burzoe. Ia pun mengalihbahasakan lagi ke Arab dengan gaya penuturan begitu mengalir hingga sampai sekarang orang masih menganggapnya model prosa asli Arab.

Keberadaan buku tersebut menyebar ke berbagai negara termasuk Yunani, yang menjadi cikal sumber terjemahan versi berbagai bahasa di Eropa, mulai Latin, Slavia dan Jerman. Sementara versi Bahasa Arabnya juga diterjemahkan ke Bahasa Ethopia, Suriah, Persia, Turki, Melayu, Jawa, Laos dan Siam. Pada abad ke-19 Kalila wa Dimna diterjemahkan ke Hindustan, dengan demikian melengkapi siklus yang dimulai 1.700 lalu di Kashmir.

Tidak semua versi adalah terjemahan sederhana. Buku itu sudah diperluas, diperpendek, mengalami modifikasi, penambahan dan penghilangan figur serta dipermak oleh sejumlah penerjemah dengan jumlah tak terhitung.

Salah satu kisah di bawah ini tidak termasuk dalam versi Sansekerta, juga tak ada di sebagian besar manuskrip Arab salinan Ibnu al Mukaffah, namun yang menarik ia telah memasuki daratan Eropa–masih dianggap dongeng dari Arab–dan menjadi kisah cukup terkenal di sana, berjudul “Memasang Bel ke Leher Kucing.

Cerita serupa mungkin bisa ditemukan di antologi dongeng lain, juga dalam Brothers Grimm. Bedanya, tikus-tikus Arab menyelesaikan masalah mereka jauh lebih tajam ketimbang sepupu mereka di barat. Berikut kisahnya.

Memasang Bel ke Leher Kucing

“Dahulu di tanah para Brahma terdapatlah sebuah rawa bernama Dawran yang membentang di semua penjuru dengan jarak ribuan kilometer. Di tengah rawa tersebut ada sebuah kota bernama Aydazinum. Kota itu memiliki banyak daya tarik, keistimewaan dan penduduknya sangat sejahtera hingga bisa mendapatkan apa pun yang mereka mau.

Dalam kota ada seekor tikus bernama Mahraz, ia memimpin seluruh tikus yang hidup di kota itu dan juga desa-desa di pinggir kota. Ia memiliki tiga wazir yang siap memberi nasehat untuk bermacam urusan.

Suatu hari para wazir berkumpul di hadapan raja tikus untuk mendiskusikan berargam masalah. Di tengah perbincangan, raja berkata, “Apakah mungkin membebaskan diri kita dari teror turun-menurun yang kita dan juga nenek moyang kita rasakan terhadap kucing?”

“Meski kita hidup nyaman dan memiliki banyak kesenangan dalam hidup, ketakutan kita terhadap Kucing telah melenyapkan semua kenikmatan tersebut. Saya harap kalian bisa memberi saran bagaimana mengatasi masalah ini. Apa yang kalian pikir harus kita lakukan?”

“Saran saya,” ujar wazir pertama, “adalah mengumpulkan sebanyak mungkin lonceng kecil dan mengalungkan bel itu ke leher setiap kucing sehingga kita dapat mendengar mereka datang dan memiliki waktu untuk bersembunyi di lubang-lubang kita.”

Raja menoleh ke wazir kedua dan berkata,” Bagaimana menurut kamu saran kolegamu?”

“Saya kira itu saran buruk,” ujar wazir kedua. “Setelah mengumpulkan semua bel yang dibutuhkan, lalu siapa yang berani memasang ke leher bahkan anak kucing terkecil sekalipun, apalagi tipe kucing jalanan veteran?”

“Dalam opini saya, kita harus bermigrasi dari kota dan tingga di desa selama setahun hingga orang-orang kota berpikir bahwa mereka dapat mulai mengeluarkan kucing karena tak punya sumber buruan. Orang-orang akan menendang mereka keluar, atau mungkin membunuh para kucing. Mereka akan tersebar dan hidup liar dan tak lagi cocok untuk kucing rumahan. Lalu kita dapat pulang kembali dengan aman ke kota dan hidup selamanya tanpa cemas terhadap kucing.”

Raja, sepertinya masih tak puas dengan jawaban wazir kedua menolah lagi ke wazir ketiga, yang terbijak. “Bagaimana dengan ide tersebut?”

“Gagasan yang sangat menyedihkan,” balas wazir ketiga, “Jika kita meninggalkan kota dan tinggal di desa bagaimana kita pastikan bahwa kucing-kucing itu akan menghilang dalam satu tahun? Bagaimana pula dengan kesulitan yang akan kita alami? Kehidupan di alam penuh dengan binatang liar yang juga suka makan tikus, dan mereka bisa melakukan hal lebih buruk ketimbang yang dilakukan kucing.”

“Kamu benar tentang itu,” ujar sang raja. “Jadi apa yang kamu pikir seharusnya dilakukan?”

“Saya dapat menyarankan satu rencana yang paling masuk akal. Raja harus memanggil seluruh tikus di kota dan kawasan sub urban dan memerintahkan mereka membangun lorong di dalam rumah-rumah orang terkaya yang menghubungkan ke semua ruang dalam rumah,” ujar wazir ketiga.

“Lalu kita akan masuk ke terowongan itu, tapi kita tak akan menyentuh makanan manusia. Alih-alih kita konsentrasi merusak pakaian, tempat tidur dan karpet mereka. Ketika melihat kerusakan itu, ia akan berpikir. ‘Wah satu kucing sepertinya tak bisa mengatasi banyak tikus di sini!’ Dan ia pasti akan menambah satu lagi kucing piaraan,” ujar Wazir.

“Begitu kucing ditambah, kita pun menambah jumlah kerusakan, benar-benar merobek pakaian-pakaian mereka. Ia pasti akan menambah satu lagi kucing, lalu kita tambah lagi kerusakan hingga tiga kali lipat. Itu seharusnya membuat mereka berhenti dan berpikir ‘Hei, kerusakan hanya sedikit ketika aku memiliki satu kucing. Makin banyak kucing, semakin banyak tikus,’ seolah-olah itulah yang terlihat” ujar wazir ketiga lagi.

“Jadi ia akan mencoba sebuah eksperimen. Ia akan menyingkirkan satu kucingnya. Saat itu pula kita akan turunkan jumlah kerusakan, menjadi dua pertiga saja. Si pemilik pasti berpikir, ‘Aneh sekali,’. Ia lalu menyingkirkan satu lagi kucing lain. Lagi, kita pun kurangi kerusakan hingga hanya sepertiganya. Ia pun akan terdorong untuk menyingkirkan satu lagi kucing tersisa.

Saat itu pula kita hentikan aksi dan tidak merusak apa pun. Ia akan menemukan hal besar. ‘Wah ternyata bukan tikus,’. Ia pasti bakal pergi ke para tetangga kaya lain untuk memberi tahu itu. Karena ia adalah orang terkaya dan dihormati maka semua akan mempercayainya dan mulai membuang kucing-kucing mereka ke jalan atau bahkan membunuh mereka. Kemudian setiap kali melihat kucing, mereka akan mengejar dan membunuhnya.”

Raja Mahraz pun mengikuti saran wazir ketiga. Butuh waktu tak terlalu lama hingga tidak satupun kucing berada di kota tersebut. Bila mereka melihat lubang di pakaian mereka, orang-orang tetap yakin bahwa itu adalah ulah kucing.

Kini, jika tu terjadi, mereka pasti berkata, “Seekor kucing pasti menyelinap ke rumah tadi malam. Seekor kucing pasti mengendap-endap di kota tadi malam.” Alhasil, dengan strategi itu, para tikus benar-benar berhasil membebaskan diri dari warisan rasa takut turun-temurun terhadap kucing.

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
Sumber: Muslim Heritage (Republika.co.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s