OTAK TENGAH Menurut Sarlito Wirawan

OTAK TENGAH Menurut Kajian Sarlito Wirawan Sarwono (Guru Besar Fakultas Psikologi UI)

Tanggal: Selasa, 21 September, 2010, 1:05 AM “Teori otak tengah sudah jelas penipuan”

Dengan berpikir atau bertanyasedikit, setiap orang bisa tahu bahwa ini adalah penipuan. Namun orang Indonesia itu malas bertanya dan ingin yang serba instan. Termasuk kaum terpelajar dan orang berduitnya. Jadi kita gampang sekali jadi sasaran penipuan. Inilah menurut saya yang paling memprihatinkan dari maraknya kasus otak tengah ini.

Saturday, 18 September 2010

Di suasana Lebaran ini mestinya saya menulis sesuatu tentang Lebaran,tepatnya tentang bermaaf-maafan, wabil-khusus tentang psikologi maaf. Namun,draf tulisan yang sedang saya siapkan terpaksa saya sisihkan dulu saking gemasnya mengamati perkembangan pseudo-science (ilmu semu)yang sangat membahayakan akhir-akhir ini tentang otak tengah(midbrain). Mudah-mudahan artikel ini bisa menjadi bahan bacaan alternatif yang menarik di tengah tengah banjirnya (lebih parah dari banjir Pakistan) artikel dan siaran tentang Idul Fitri di hari-hari seputar Lebaran ini.

Otak tengah adalah bagian terkecil dari otak yang berfungsi sebagai relay station untuk penglihatan dan pendengaran. Dia juga mengendalikan gerak bola mata. Bagian berpigmen gelapnya yang disebut red nucleus (inti merah) dan substantia nigra juga mengatur gerak motorik anggota tubuh. Karena itu kelainan atau gangguan di otak tengah bisa menyebabkan parkinson.

Untuk keterangan lebih lanjut silakan berkonsultasi dengan dokter.

Namun, yang jelas, otak tengah tidak mengurusi inteligensi, emosi, apalagi aspek-aspek kepribadian lain seperti sikap, motivasi, dan minat. Para pakar ilmu syaraf(neuroscience) Richard Haier dari Universitas California dan Irvineserta Rex Jung dari Universitas New Mexico, Amerika Serikat, menemukan bahwa inteligensi atau kecerdasan yang sering dinyatakan dalam ukuran IQ tidak terpusat pada satu bagian tertentu dari otak, melainkan merupakan hasil interaksi antar beberapa bagian dari otak.

Makin bagus kinerja antar bagian- bagian otak itu, makin tinggi tingkat kecerdasan seseorang (teori parieto-frontal integration). Di sisi lain, pusat emosi terletak di bagian lain dari otak yang dinamakan amygdala, tak ada hubungannya dengan midbrain. Sementara itu aspek kepribadian lain seperti minat dan motivasi lebih merupakan aspek sosial (bukan neurologis) dari jiwa, yang lebih gampang diamati melalui perilaku seseorang ketimbang dicari pusatnya di otak.

Sampai dengan tahun 1980-an (bahkan sampai hari ini) masih banyak yang percaya bahwa keberhasilan seseorang sangat tergantung pada IQ-nya. Makin tinggi IQ seseorang akan makin besar kemungkinannya untuk berhasil. Itulah sebabnya banyak sekolah mempersyaratkan hasil tes IQ di atas 120 untuk bisa diterima di sekolah yang bersangkutan. Namun, sejak Howard Gardner menemukan teori tentang multiple intelligence (1983) dan Daniel Goleman memublikasikan temuannya tentang Emotional Intelligence (1995), maka para pakar dan awam pun tahu bahwa peran IQ pada keberhasilan seseorang hanya sekitar 20–30% saja.

Selebihnya tergantung pada faktor-faktor kepribadian lain seperti usaha, ketekunan, konsentrasi, dedikasi, kemampuan sosial. Walaupun begitu, beberapa bulan terakhir ini, marak sekali kampanye tentang pelatihan otak tengah.

Bahkan rekan saya psikolog psikolog muda ada yang bersemangat sekali mengampanyekan otak tengah sambil mengikutsertakan anak-anak mereka kepelatihan otak tengah yang biayanya mencapai Rp3,5 juta/anak (kalau dua anak sudah Rp 7 juta, kan) hanya untuk dua hari kursus.

Hasilnya adalah bahwa anak-anak itu dalam dua hari bisa menggambar warna dengan mata tertutup. Wah, bangganya bukan main para ortu itu. Mereka pikir setelah bisa menggambar dengan mata tertutup, anak-anak mereka langsung akan jadi cerdas, bisa konsentrasi di kelas, bersikap sopan santun kepada orang tua, bersemangat belajar tinggi, percaya diri, dan sebagainya seperti yang dijanjikan oleh kursus-kursus seperti ini.

Mungkin mereka mengira bahwa dengan menginvestasikan Rp3,5 juta untuk dua hari kursus, orang tua tidak usah lagi bersusah payah menyuruh anak mereka belajar (karena mereka akan termotivasi untuk belajar sendiri), tidak usah membayar guru les lagi (karena otomatis anak akan mengerti sendiri pelajarannya), dan yang terpenting anak pasti naik kelas, malah bisa masuk peringkat. Inilah yang saya maksud dengan “berbahaya” dari tren yang sedang berkembang pesat akhir-akhir ini.

Untuk orang tua yang berduit, uang sebesar Rp3,5 juta mungkin tidak ada artinya. Namun, kasihan anaknya jika ternyata dia tidak bisa memenuhi harapan orang tuanya. Selain bisa menggambar dengan mata tertutup (sebagian hanya berpura-pura bisa dengan mengintip lewat celah penutup mata dekat hidung), ternyata dia tidak bisa apa-apa.

Konsentrasi tetap payah, motivasi tetap rendah, dan emosi tetap meledak-ledak tak terkendali. Pasalnya memang tidak ada hubungannya antara otak tengah dengan faktor faktor kepribadian itu.

Namun, orangtua sepertinya tidak mau tahu. Dia sudah membayar Rp3,5 juta dan sudah mendengarkan ceramah Dr David Ting, pakar otak tengah dari Malaysia itu.

Kata Dr Ting, anak yang sudah ikut pelatihan otak tengah bukan hanya jadi makin pintar, tetapi jadi jenius. Karena itu nama perusahaannya juga Genius Mind Corporation. Malah bukan itu saja. Menurut Dr Ting, anak yang sudah terlatih otak tengahnya bisa melihat di balik dinding, bisa melihat apa yang akan terjadi (seperti almarhumah Mama Laurenz), bahkan bisa mengobati orang sakit. Ya, itulah yang dijanjikannya dalam iklan-iklan Youtube-nya di internet. Dan dampaknya bisa dahsyat sekali karena angka KDRT pada anak bisa langsung melompat naik gara-gara banyak anak dicubiti atau dipukuli pantatnya sampai babak-belur oleh mama-mama mereka sendiril antaran tidak bisa melihat di balik tembok, meramal atau mengobati orang sakit.***

Untuk menyiapkan tulisan ini, saya sengaja menelusuri nama David Ting di Google. Ternyata ada puluhan pakar di dunia yang bernama David Ting dan David Ting yang menganjurkan otak tengah ini ternyata bukan pakar ilmu syaraf, kedokteran, biologi, atau psikologi. Dia disebutkan sebagai pakar pendidikan dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syaraf (neuroscience).

Maka saya ragu akan ilmunya. Apalagi saya hanya mendapati beberapa versi Youtube yang diulang-ulang saja, beberapa tulisan kesaksian, dan cerita-cerita yang sulit diverifikasi kebenarannya. Saya pun lanjut dengan menelusuri jurnal-jurnal ilmiah online, siapa tahu tulisan-tulisan ilmiahnya sudah banyak, tetapi saya belum pernah membacanya. Namun hasilnya juga nol.

Maka saya makin tidak percaya.

Saya yakin bahwa teori David Ting tentang otak tengah hanyalah pseudo-science atau ilmu semu karena seakan-akan ilmiah, tetapi tidak bisa diverifikasi secara ilmiah. Sama halnya dengan teori otak kanan-otak kiri yang juga ilmu semu atau astrologi atau palmistri (membaca nasib orang dengan melihat garis-garis telapak tangannya). Masalahnya, astrologi dan palmistri yang sudah kuno itu tidak merugikan siapa-siapa karena hanya dilakukan oleh yang mempercayainya atau sekadar iseng-iseng tanpa biaya dan tanpa beban apaapa. Kalau betul syukur, kalau salah yo wis.

Lain halnya dengan pelatihan otak tengah dan dulu pernah juga populer pelatihan otak kanak-otak kiri. Bahkan, saya pernah memergoki, di sebuah gedung pertemuan (kebetulan saya ke sana untuk keperluan lain), sebuah pelatihan diselenggarakan oleh sebuah instansi pemerintah yang judulnya “Meningkatkan Kecerdasan Salat”. Semuanya dijual sebagai pelatihan dengan biaya (istilah mereka“biaya investasi”) yang mahal. Ini sudah masuk ke masalah membohongi publik, sebab mana mungkin dengan satu pelatihan selama dua har iseorang anak bisa disulap menjadi jenius yang serbabisa, bahkan bisa melihat di balik dinding seperti Superman.

Lagipula, apa hubungannya antara menggambar dengan mata tertutup dengan jenius?

Einstein, Colombus, Thomas Edison, Bill Gates, Barack Obama, dan masih banyak lagi adalah kaum jenius tingkat dunia, tetapi tak satu pun bisa menggambar dengan mata tertutup.

Teori otak tengah sudah jelas penipuan. Dengan berpikir atau bertanya sedikit, setiap orang bisa tahu bahwa ini adalah penipuan.

Namun orang Indonesia itu malas bertanya dan ingin yang serba instan. Termasuk kaum terpelajar dan orang berduitnya. Jadi kita gampang sekali jadi sasaran penipuan.

Inilah menurut saya yang paling memprihatinkan dari maraknyakasus otak tengah ini.

(*)SARLITO WIRAWAN SARWONO Guru Besar Fakultas Psikologi UI

saya copy & paste dari face book Suriyah Yayah Manis’z Universitas Indonesia, 30 September 2010

AKTIVASI OTAK TENGAH DIKRITISI PAKAR TUMBUH KEMBANG ANAK

Percayakah anda bila ada orang yang mampu mendesain kejeniusan anak dalam tempo 2 hari? kalau itu benar, sungguh ini menjadi temuan spektakuler. Plus ke depan kita berharap bakal muncul orang-orang jenius di negeri ini. Apalagi menurut Nur hidayanto, direktur eksekutif Anak jenius Indonesia (AJI), lembaga yang menawarkan program menjeniuskan anak-anak, sejak dibuka di jogjakarta sejak  April 2010 sampai sekarang, ada sekitar 250 anak mengikuti program ini.Ini baru disatu kota, dikota lain tentu juga ada ratusan atau bahkan ribuan anak mengikuti  program penjeniusan dengan raining selamama 2 hari. Konon konsep dasarnya adalaj mengaktivasi otak tengah.

Training yang diberikan untuk mengasah kepekaan indera penciuman, pendengaran dan peraba sang anak. Indera itulah yang nantinya akan menggantikan indera mata yang selalu digunakan untuk menangkap yang terlihat. Tak heran anak yangmengikuti training bisa membaca, mewarnai, dengan sempurna dan menebak  warna dalam keadaan mata tertutup. Menurut Nur Hadiyanto, training yang diberikan kepada peserta, dengan konsep learning by playing.

Jer basuki mawa bea. Prinsip ini berlaku pula dalam upaya mendesain anak menjadi jenius. Sekali mengikuti program, peserta harus membayar Rp 3 juta. Jadi hitung saja, bila sejak April sampai Agustus ada 250 anak ikut program, maka uang yang berhasil diraup dari program ini Rp 750 juta.

“Ukuran jenius tidak terbatas pada IQ di atas rata-rat. Jenius yang kami maksud adalah anak-anak yang bisa menciptakan sesuatu yang berguna. Mereka bisa menguasai satu dari delapan aspek: musik, logika dan matematika, visual, naturaly, interpersonal, intra personal, kinestetik dan linguistik. Menguasai satu saja sudah kami anggap jenius,” paparnya.

Apakah otak tengah itu?

Menurut Nur hadiyanto, merupakan wilayah tengah otakyang disinyalir lebih mudah menangkap informasi yang diterima indera. Sedangkan untuk mendapatkan hasil maksimal, latihan lanjutan di rumah sangat penting dilakukan.

Cara aktivasi otak tengah, dengan cara memperedengarkan musik, membawa mereka kedalam keadaan relaks. Memberikan motivasi kepeada peserta dan memberikan sugesti positif.

Psikolog klinik Tumbuh kembang anak RSUP Dr Sardjito, Dr Indria L Gamayanti Msi mengatakan, belum ada penelitian ilmiah tentang aktivasi otak tengah. “Perlu diadakan penelitian apakah aktivasi otak tengah itu bisa dipertanggung jawabkan. Harus kritis menyikapi fenomena aktivasi otak tengah,” katanya saat ditemui diruang kerjanya, Rabu (1/9).

Indria mengungkap, dokter anak spesialis kejiwaan dan spesialis syaraf mengadakan diskusi mengenai otak tengah. “Harus diluruskan arti jenius. Tidak mungkin bisa mengubah anak menjadi jenius dalam waktu singkat,” tegasnya.

Sedangkan dokter anak RSUP Dr Sardjito, dr Retno Sutomo SpA PhD mengatakan tak mungkin stimulasi otak hanya dilakukan pada otak tengah.”Otak tengah atau midbrain memang ada dalam ilmu kedokteran. Otak terbagi atas menjadi otak besar, otak kecil dan batang otak. Batang otak terdiri dari midbrain dan medula. Batang otak berfungsi sebagai tempat keluar masuknya syaraf otak. Tetapi dari penjelasan yang disampaikan salah satu penyelenggara aktivasi otak tengah, saat diskusi beberapa waktu lalu otak tengah tersebut berbeda arti denan dunia medis. Mereka kadang menyebutnya otak tengah dengan Talamus, sedangkan talamus adalah bagian dari otak besar yang berfungsi sebagai terminal utama yang menghubungkan dari otak kecil ke sumsum tulang belakang. Mereka juga menyebut bahwa otak tengah sebagai jembatan yang menghubungkan otak kiri dan kanan. Seolah-olah otak kiri dan kanan berfungsi karena ada jembatannya. Saya belum bisa terima dan pahami itu kalau dikaji secara medis,”paparnya.

Retno Sutomo meminta masyarakat untuk berhati-hati menyikapi fenomena ini.:Mungkin ada manfaatnya tapi harus disikapi secara hati-hati. Ini sesuatu yang sulit dipahami secara medis,” tegasnya.

Advertisements