OTAK TENGAH Menurut Sarlito Wirawan

OTAK TENGAH Menurut Kajian Sarlito Wirawan Sarwono (Guru Besar Fakultas Psikologi UI)

Tanggal: Selasa, 21 September, 2010, 1:05 AM “Teori otak tengah sudah jelas penipuan”

Dengan berpikir atau bertanyasedikit, setiap orang bisa tahu bahwa ini adalah penipuan. Namun orang Indonesia itu malas bertanya dan ingin yang serba instan. Termasuk kaum terpelajar dan orang berduitnya. Jadi kita gampang sekali jadi sasaran penipuan. Inilah menurut saya yang paling memprihatinkan dari maraknya kasus otak tengah ini.

Saturday, 18 September 2010

Di suasana Lebaran ini mestinya saya menulis sesuatu tentang Lebaran,tepatnya tentang bermaaf-maafan, wabil-khusus tentang psikologi maaf. Namun,draf tulisan yang sedang saya siapkan terpaksa saya sisihkan dulu saking gemasnya mengamati perkembangan pseudo-science (ilmu semu)yang sangat membahayakan akhir-akhir ini tentang otak tengah(midbrain). Mudah-mudahan artikel ini bisa menjadi bahan bacaan alternatif yang menarik di tengah tengah banjirnya (lebih parah dari banjir Pakistan) artikel dan siaran tentang Idul Fitri di hari-hari seputar Lebaran ini.

Otak tengah adalah bagian terkecil dari otak yang berfungsi sebagai relay station untuk penglihatan dan pendengaran. Dia juga mengendalikan gerak bola mata. Bagian berpigmen gelapnya yang disebut red nucleus (inti merah) dan substantia nigra juga mengatur gerak motorik anggota tubuh. Karena itu kelainan atau gangguan di otak tengah bisa menyebabkan parkinson.

Untuk keterangan lebih lanjut silakan berkonsultasi dengan dokter.

Namun, yang jelas, otak tengah tidak mengurusi inteligensi, emosi, apalagi aspek-aspek kepribadian lain seperti sikap, motivasi, dan minat. Para pakar ilmu syaraf(neuroscience) Richard Haier dari Universitas California dan Irvineserta Rex Jung dari Universitas New Mexico, Amerika Serikat, menemukan bahwa inteligensi atau kecerdasan yang sering dinyatakan dalam ukuran IQ tidak terpusat pada satu bagian tertentu dari otak, melainkan merupakan hasil interaksi antar beberapa bagian dari otak.

Makin bagus kinerja antar bagian- bagian otak itu, makin tinggi tingkat kecerdasan seseorang (teori parieto-frontal integration). Di sisi lain, pusat emosi terletak di bagian lain dari otak yang dinamakan amygdala, tak ada hubungannya dengan midbrain. Sementara itu aspek kepribadian lain seperti minat dan motivasi lebih merupakan aspek sosial (bukan neurologis) dari jiwa, yang lebih gampang diamati melalui perilaku seseorang ketimbang dicari pusatnya di otak.

Sampai dengan tahun 1980-an (bahkan sampai hari ini) masih banyak yang percaya bahwa keberhasilan seseorang sangat tergantung pada IQ-nya. Makin tinggi IQ seseorang akan makin besar kemungkinannya untuk berhasil. Itulah sebabnya banyak sekolah mempersyaratkan hasil tes IQ di atas 120 untuk bisa diterima di sekolah yang bersangkutan. Namun, sejak Howard Gardner menemukan teori tentang multiple intelligence (1983) dan Daniel Goleman memublikasikan temuannya tentang Emotional Intelligence (1995), maka para pakar dan awam pun tahu bahwa peran IQ pada keberhasilan seseorang hanya sekitar 20–30% saja.

Selebihnya tergantung pada faktor-faktor kepribadian lain seperti usaha, ketekunan, konsentrasi, dedikasi, kemampuan sosial. Walaupun begitu, beberapa bulan terakhir ini, marak sekali kampanye tentang pelatihan otak tengah.

Bahkan rekan saya psikolog psikolog muda ada yang bersemangat sekali mengampanyekan otak tengah sambil mengikutsertakan anak-anak mereka kepelatihan otak tengah yang biayanya mencapai Rp3,5 juta/anak (kalau dua anak sudah Rp 7 juta, kan) hanya untuk dua hari kursus.

Hasilnya adalah bahwa anak-anak itu dalam dua hari bisa menggambar warna dengan mata tertutup. Wah, bangganya bukan main para ortu itu. Mereka pikir setelah bisa menggambar dengan mata tertutup, anak-anak mereka langsung akan jadi cerdas, bisa konsentrasi di kelas, bersikap sopan santun kepada orang tua, bersemangat belajar tinggi, percaya diri, dan sebagainya seperti yang dijanjikan oleh kursus-kursus seperti ini.

Mungkin mereka mengira bahwa dengan menginvestasikan Rp3,5 juta untuk dua hari kursus, orang tua tidak usah lagi bersusah payah menyuruh anak mereka belajar (karena mereka akan termotivasi untuk belajar sendiri), tidak usah membayar guru les lagi (karena otomatis anak akan mengerti sendiri pelajarannya), dan yang terpenting anak pasti naik kelas, malah bisa masuk peringkat. Inilah yang saya maksud dengan “berbahaya” dari tren yang sedang berkembang pesat akhir-akhir ini.

Untuk orang tua yang berduit, uang sebesar Rp3,5 juta mungkin tidak ada artinya. Namun, kasihan anaknya jika ternyata dia tidak bisa memenuhi harapan orang tuanya. Selain bisa menggambar dengan mata tertutup (sebagian hanya berpura-pura bisa dengan mengintip lewat celah penutup mata dekat hidung), ternyata dia tidak bisa apa-apa.

Konsentrasi tetap payah, motivasi tetap rendah, dan emosi tetap meledak-ledak tak terkendali. Pasalnya memang tidak ada hubungannya antara otak tengah dengan faktor faktor kepribadian itu.

Namun, orangtua sepertinya tidak mau tahu. Dia sudah membayar Rp3,5 juta dan sudah mendengarkan ceramah Dr David Ting, pakar otak tengah dari Malaysia itu.

Kata Dr Ting, anak yang sudah ikut pelatihan otak tengah bukan hanya jadi makin pintar, tetapi jadi jenius. Karena itu nama perusahaannya juga Genius Mind Corporation. Malah bukan itu saja. Menurut Dr Ting, anak yang sudah terlatih otak tengahnya bisa melihat di balik dinding, bisa melihat apa yang akan terjadi (seperti almarhumah Mama Laurenz), bahkan bisa mengobati orang sakit. Ya, itulah yang dijanjikannya dalam iklan-iklan Youtube-nya di internet. Dan dampaknya bisa dahsyat sekali karena angka KDRT pada anak bisa langsung melompat naik gara-gara banyak anak dicubiti atau dipukuli pantatnya sampai babak-belur oleh mama-mama mereka sendiril antaran tidak bisa melihat di balik tembok, meramal atau mengobati orang sakit.***

Untuk menyiapkan tulisan ini, saya sengaja menelusuri nama David Ting di Google. Ternyata ada puluhan pakar di dunia yang bernama David Ting dan David Ting yang menganjurkan otak tengah ini ternyata bukan pakar ilmu syaraf, kedokteran, biologi, atau psikologi. Dia disebutkan sebagai pakar pendidikan dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syaraf (neuroscience).

Maka saya ragu akan ilmunya. Apalagi saya hanya mendapati beberapa versi Youtube yang diulang-ulang saja, beberapa tulisan kesaksian, dan cerita-cerita yang sulit diverifikasi kebenarannya. Saya pun lanjut dengan menelusuri jurnal-jurnal ilmiah online, siapa tahu tulisan-tulisan ilmiahnya sudah banyak, tetapi saya belum pernah membacanya. Namun hasilnya juga nol.

Maka saya makin tidak percaya.

Saya yakin bahwa teori David Ting tentang otak tengah hanyalah pseudo-science atau ilmu semu karena seakan-akan ilmiah, tetapi tidak bisa diverifikasi secara ilmiah. Sama halnya dengan teori otak kanan-otak kiri yang juga ilmu semu atau astrologi atau palmistri (membaca nasib orang dengan melihat garis-garis telapak tangannya). Masalahnya, astrologi dan palmistri yang sudah kuno itu tidak merugikan siapa-siapa karena hanya dilakukan oleh yang mempercayainya atau sekadar iseng-iseng tanpa biaya dan tanpa beban apaapa. Kalau betul syukur, kalau salah yo wis.

Lain halnya dengan pelatihan otak tengah dan dulu pernah juga populer pelatihan otak kanak-otak kiri. Bahkan, saya pernah memergoki, di sebuah gedung pertemuan (kebetulan saya ke sana untuk keperluan lain), sebuah pelatihan diselenggarakan oleh sebuah instansi pemerintah yang judulnya “Meningkatkan Kecerdasan Salat”. Semuanya dijual sebagai pelatihan dengan biaya (istilah mereka“biaya investasi”) yang mahal. Ini sudah masuk ke masalah membohongi publik, sebab mana mungkin dengan satu pelatihan selama dua har iseorang anak bisa disulap menjadi jenius yang serbabisa, bahkan bisa melihat di balik dinding seperti Superman.

Lagipula, apa hubungannya antara menggambar dengan mata tertutup dengan jenius?

Einstein, Colombus, Thomas Edison, Bill Gates, Barack Obama, dan masih banyak lagi adalah kaum jenius tingkat dunia, tetapi tak satu pun bisa menggambar dengan mata tertutup.

Teori otak tengah sudah jelas penipuan. Dengan berpikir atau bertanya sedikit, setiap orang bisa tahu bahwa ini adalah penipuan.

Namun orang Indonesia itu malas bertanya dan ingin yang serba instan. Termasuk kaum terpelajar dan orang berduitnya. Jadi kita gampang sekali jadi sasaran penipuan.

Inilah menurut saya yang paling memprihatinkan dari maraknyakasus otak tengah ini.

(*)SARLITO WIRAWAN SARWONO Guru Besar Fakultas Psikologi UI

saya copy & paste dari face book Suriyah Yayah Manis’z Universitas Indonesia, 30 September 2010

AKTIVASI OTAK TENGAH DIKRITISI PAKAR TUMBUH KEMBANG ANAK

Percayakah anda bila ada orang yang mampu mendesain kejeniusan anak dalam tempo 2 hari? kalau itu benar, sungguh ini menjadi temuan spektakuler. Plus ke depan kita berharap bakal muncul orang-orang jenius di negeri ini. Apalagi menurut Nur hidayanto, direktur eksekutif Anak jenius Indonesia (AJI), lembaga yang menawarkan program menjeniuskan anak-anak, sejak dibuka di jogjakarta sejak  April 2010 sampai sekarang, ada sekitar 250 anak mengikuti program ini.Ini baru disatu kota, dikota lain tentu juga ada ratusan atau bahkan ribuan anak mengikuti  program penjeniusan dengan raining selamama 2 hari. Konon konsep dasarnya adalaj mengaktivasi otak tengah.

Training yang diberikan untuk mengasah kepekaan indera penciuman, pendengaran dan peraba sang anak. Indera itulah yang nantinya akan menggantikan indera mata yang selalu digunakan untuk menangkap yang terlihat. Tak heran anak yangmengikuti training bisa membaca, mewarnai, dengan sempurna dan menebak  warna dalam keadaan mata tertutup. Menurut Nur Hadiyanto, training yang diberikan kepada peserta, dengan konsep learning by playing.

Jer basuki mawa bea. Prinsip ini berlaku pula dalam upaya mendesain anak menjadi jenius. Sekali mengikuti program, peserta harus membayar Rp 3 juta. Jadi hitung saja, bila sejak April sampai Agustus ada 250 anak ikut program, maka uang yang berhasil diraup dari program ini Rp 750 juta.

“Ukuran jenius tidak terbatas pada IQ di atas rata-rat. Jenius yang kami maksud adalah anak-anak yang bisa menciptakan sesuatu yang berguna. Mereka bisa menguasai satu dari delapan aspek: musik, logika dan matematika, visual, naturaly, interpersonal, intra personal, kinestetik dan linguistik. Menguasai satu saja sudah kami anggap jenius,” paparnya.

Apakah otak tengah itu?

Menurut Nur hadiyanto, merupakan wilayah tengah otakyang disinyalir lebih mudah menangkap informasi yang diterima indera. Sedangkan untuk mendapatkan hasil maksimal, latihan lanjutan di rumah sangat penting dilakukan.

Cara aktivasi otak tengah, dengan cara memperedengarkan musik, membawa mereka kedalam keadaan relaks. Memberikan motivasi kepeada peserta dan memberikan sugesti positif.

Psikolog klinik Tumbuh kembang anak RSUP Dr Sardjito, Dr Indria L Gamayanti Msi mengatakan, belum ada penelitian ilmiah tentang aktivasi otak tengah. “Perlu diadakan penelitian apakah aktivasi otak tengah itu bisa dipertanggung jawabkan. Harus kritis menyikapi fenomena aktivasi otak tengah,” katanya saat ditemui diruang kerjanya, Rabu (1/9).

Indria mengungkap, dokter anak spesialis kejiwaan dan spesialis syaraf mengadakan diskusi mengenai otak tengah. “Harus diluruskan arti jenius. Tidak mungkin bisa mengubah anak menjadi jenius dalam waktu singkat,” tegasnya.

Sedangkan dokter anak RSUP Dr Sardjito, dr Retno Sutomo SpA PhD mengatakan tak mungkin stimulasi otak hanya dilakukan pada otak tengah.”Otak tengah atau midbrain memang ada dalam ilmu kedokteran. Otak terbagi atas menjadi otak besar, otak kecil dan batang otak. Batang otak terdiri dari midbrain dan medula. Batang otak berfungsi sebagai tempat keluar masuknya syaraf otak. Tetapi dari penjelasan yang disampaikan salah satu penyelenggara aktivasi otak tengah, saat diskusi beberapa waktu lalu otak tengah tersebut berbeda arti denan dunia medis. Mereka kadang menyebutnya otak tengah dengan Talamus, sedangkan talamus adalah bagian dari otak besar yang berfungsi sebagai terminal utama yang menghubungkan dari otak kecil ke sumsum tulang belakang. Mereka juga menyebut bahwa otak tengah sebagai jembatan yang menghubungkan otak kiri dan kanan. Seolah-olah otak kiri dan kanan berfungsi karena ada jembatannya. Saya belum bisa terima dan pahami itu kalau dikaji secara medis,”paparnya.

Retno Sutomo meminta masyarakat untuk berhati-hati menyikapi fenomena ini.:Mungkin ada manfaatnya tapi harus disikapi secara hati-hati. Ini sesuatu yang sulit dipahami secara medis,” tegasnya.

11 thoughts on “OTAK TENGAH Menurut Sarlito Wirawan

  1. Julia Maria van Tiel
    kompasiana.com/gifted-disinkroni.com
    segaintil@yahoo.com
    Submitted on 2010/10/25 at 7:05 pm

    Pers Rilis: Aktivasi Otak Tengah Bukan Jalan Pintas Menuju Jenius

    Maraknya pelatihan aktivasi otak tengah berbiaya mahal bagi anak usia 5 – 15 tahun yang diklaim oleh penggiatnya sebagai upaya jalan pintas membuat anak
    jenius, perlu kami sikapi secara tegas. Publikasi yang gencar melalui berbagai
    media, sudah memberikan tingkat keprihatinan kita semua. Sementara itu tindakan
    pemerintah dalam hal ini masih sangat minim, kalau boleh dikata, tidak ada.
    Melihat hal ini, maka sebagai pembina dan nara sumber kegiatan diskusi orang
    anak gifted (cerdas luar biasa/cerdas istimewa) yang tergabung dalam mailing
    list anakberbakat@yahoogroups.com mengambil sikap, yaitu sama sekali tidak
    mendukung kegiatan tersebut, dan mendesak pemerintah untuk menyikapinya dengan
    tegas, di samping itu juga mendesak agar semua ikatan profesi, keahlian, dan
    praktisi pendidikan dan kesehatan menjalankan peranannya sebagai pendidik
    masyarakat berdasarkan asas keilmuan yang benar (evidence based practice).

    Kegiatan dan publikasi aktivasi otak tengah jelas bisa menjerumuskan pemahaman
    masyarakat baik orang tua maupun guru terhadap pemahaman jenius secara ilmiah,
    yang pemahamannya itu sudah didukung oleh berbagai penelitian panjang di
    berbagai bidang ilmu lebih dari seratus tahun. Publikasi aktivasi otak tengah
    yang mengklaim dilandasi oleh pengetahuan ilmiah itu, nampaknya sungguh tidak
    ilmiah, karena jauh dari pemahaman tentang jenius itu sendiri.

    Istilah jenius dalam pemahaman ilmu psikologi hanya diberikan kepada mereka yang
    mempunyai tingkat inteligensi luar biasa (dengan IQ yang termasuk kategori “very
    superior” atau dua standar deviasi di atas rata-rata), dengan kreativitas yang
    luar biasa, dan yang penting lagi harus sudah mempunyai prestasi yang luar
    biasa. Contohnya sebagaimana misalnya Einstein, atau Thomas Alfa Edison. Bukan
    anak yang hanya bisa membaca, mewarnai gambar, atau naik sepeda dengan mata
    ditutup.

    Metoda aktivasi otak tengah yang tujuannya agar anak menjadi jenius, dilihat
    dari sudut ilmu apapun, tidak dapat memberikan dukungan bagi pengembangan
    penelitian baginya. Ilmu psikologi yang mengupas tentang anak jenius tidak
    mungkin bisa memberikan dukungan secara teoritis, terutama tentang orijinalitas
    eksistensi kejeniusan. Sebab inteligensi luar biasa adalah sebuah hal yang
    diturunkan, yaitu merupakan natur genetik. Natur genetik ini masih membutuhkan
    dukungan lingkungan agar si anak bisa menghasilkan prestasi luar biasanya
    sebagai karya jenius. Karya jenius adalah sebuah karya yang orijinal, yang
    merupakan pengembangan inteligensinya dengan kreativitas yang tinggi serta
    dikembangkannya sendiri. Seseorang yang hanya meniru atau mengikuti perintah
    sebagaimana anak-anak yang dilatih dalam kegiatan aktivasi otak tengah itu,
    dalam ilmu psikologi tidak dapat dikategorikan sebagai anak jenius. Penggunaan
    ini hanya menyalahgunakan istilah yang dapat menggiurkan masyarakat.

    Dari sudut pandang ilmu kedokteran sendiri, baik ilmu syaraf yang mempelajari
    fungsi otak, maupun kedokteran anak yang mempelajari tumbuh kembang anak, jelas
    kedua cabang ilmu ini juga tidak bisa mendukung secara teoritis. Karena klaim
    aktivasi otak tengah tidak bisa berkorelasi dengan teori dalam keilmuan
    kedokteran itu.

    Dari sudut ilmu pendidikan kegiatan aktivasi otak tengah juga menisbikan dan
    menolak keragaman yang terdapat pada tiap-tiap individu dan bertentangan dengan
    ragam teori dan kepustakaan ilmiah dibidang tumbuh kembang kognisi manusia
    (Cognitive & learning theories). Keragaman yang ditentukan oleh potensi dasar
    seseorang akan mempengaruhi gaya belajar, cara berfikir dan cara menyerap suatu
    informasi. Dengan prinsip yang ditawarkan oleh kegiatan aktivasi otak tengah,
    maka secara tidak langsung menjanjikan harapan-harapan palsu terhadap orang tua
    dan anak didik.
    Dari sudut ilmu antropologi kesehatan, kegiatan aktivasi otak tengah lebih tepat
    dikelompokkan sebagai kelompok psedo-ilmiah, dengan ciri-ciri yang sangat khas
    yaitu mengklaim sebagai kegiatan ilmiah menggunakan bahasa ilmiah, padahal tidak
    ilmiah.

    Mailinglist anakberbakat@yahoogroups.com sudah berdiri sejak Oktober 2001,
    berisi orang tua dengan anak-anak yang terdeteksi sebagai anak-anak gifted
    (cerdas istimewa) baik yang bermasalah dalam pencapaian prestasi, perilaku,
    emosi, bicara dan bahasa, serta masalah perkembangan, maupun anak-anak yang
    mampu berprestasi dengan baik.

    Pers Rilis ini dikeluarkan tanggal 5 September 2010.

    PETISI STOP AKTIVASI OTAK TENGAH
    http://www.ipetitions.com/petition/stop-aktivasi-otak-tengah/

    MARI DUKUNG PETISI INI

    Meningkatnya kegiatan berasas bisnis yang mengatasnamakan kegiatan ilmiah demi
    pendidikan dan masa depan anak-anak Indonesia yang kegiatannya yang dilakukan
    oleh sekelompok orang berupa kegiatan Aktivasi Otak Tengah, serta dipublikasi
    dapat memberikan hasil anak menjadi jenius, sementara itu kegiatan ini terus
    berlanjut sekalipun sudah banyak orang yang melakukan protes,

    maka demi masa depan anak-anak Indonesia, kami menyatakan bahwa:

    1. Mendukung penggugatan terhadap kegiatan aktivasi otak tengah yang bertujuan
    anak menjadi jenius.

    2. Mendesak pada pemerintah cq Kementerian Kesehatan, Kementrian Pendidikan,
    Lembaga Perlindungan Anak,Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan
    Perlindungan Anak, serta Kepolisian, agar menyikapi kegiatan pengaktivan otak
    tengah.

    3. Mendesak kepada berbagai ikatan profesi , keahlian dan praktisi yang
    berkaitan dengan pendidikan dan kesehatan untuk senantiasa memberikan pendidikan
    kepada masyarakat tentang pelayanan pendidikan dan kesehatan berbasis ilmiah
    (Evidence Based Practice).

    4. Menolak bentuk-bentuk pelayanan pendidikan dan kesehatan yang pseudocience.

    Individu jenius adalah seseorang highly gifted (Inteligensi serta kreativitas
    yang luar biasa), dimana ia sudah menghasilkan prestasi yang luar biasa.

    STOP PENYALAHGUNAAN ISTILAH JENIUS

    Pembina dan narasumber anakberbakat@yahoogroups.com
    1. DR. Endang Widyorini, psikolog ahli gifted children
    2. Adi D Adunigroho, PHD, special education specialist
    3. Dr. Arman Yurisaldi, SpS,MS, dokter spealis syaraf
    4. Kasandra A Putranto, psi, HIMPSI Jaya
    5. Dr. M Nashim, dokter offshore
    6. Dr Waldi Nurhamzah, SpA, dokter spesialis anak
    7. DR Julia Maria van Tiel, doktor antropologi kesehatan
    http://edukasi.kompasiana.com/2010/09/14/pers-rilis-aktivasi-otak-tengah-bukan-jalan-pintas-menuju-jenius/

  2. Kak Bimo harus lebih kritis
    berpendapat dan mengupload pendapat orang lain,
    meskipun ia seorang pakar sekalipun.

    Para psikolog berbeda “selera” dengan para pakar pendidikan itu biasa. Apalagi dengan teknokrat. Berbeda pandang 180 derajat juga sangat biasa.

    yang seolah tak masuk akal, belum tentu itu tak mungkin dilakukan.
    yang seolah ilmiah belum tentu pula benar adanya.

    kalau kita bisa belajar membaca Qur’an dengan metode iqra’ yang lebih cepat, mengapa kita selalu katakan, metode lama lebih selamat karena para salafussaleh tak menggunakan Iqra’? Bahkan sekarang ada metode belajar baca qur’an sistem 2 jam. Apakah kita akan katakan metode baca Qur’an cepat itu ada “JIN-nya”

    Jangan menyebar fitnah, bila kita tak memahami suatu masalah.
    Introspeksi diri, muhasabah diri…

  3. Ada banyak orang yang kami tahu melakukan penelitian dan diam.
    Tetapi yang tidak melakukan penelitian berbicara
    .Memang mudah sih membuat pernyataan negatif.
    Memang mudah sih menyanggah pernyataan seseorang dengan pernyataan yang lain. Memang mudah sih ngomong negatif tentang otak tengah tanpa melakukan penelitian.
    Yuk kita ubah pola pikir kita.

    • Bismillah,,Innal hamdalillah,,Allahumma Shali’ala Muhammad,,
      Saudara2 Seiman,,Allah mengkaruniakan Kita panca Indra Untuk Kita Lebih Khusyuk Dalam Beribadah KepadaNya,,Segala Sesuatu Yg Berhubungan Dengan Pengoptimalan Kinerja Organ Panca Indera SECARA INSTANT DAN DALAM HITUNGAN HARI,,InsyaAllah Itu Menyalahi SUNATULLAH(Termasuk Aktivasi Otak Tengah),,Bisa Dibuktikan:
      #Anak Yg Sudah Diaktivasi Otak Tengahnya Diruqyah Secara Syar’i Dan Benar,,,InsyaAllah Kemampuan Yg Anak Tersebut Dapat Selama Aktivasi Otak Tengah Pasti Hilang,,Ini Menunjukkan Bahwa AKTIVASI OTAK TENGAH Hal Yg Tidak Wajar/Menyalahi Sunatullah,,
      Coba Buka Hati Dan Pikiran Kita,,Jangan terpancing Hasil Yg Dicapai,,Baik Dari Sisi Harta ataupun kemampuan Yg Didapat,,,kalo Itu Dengan cara Yg Tidak Syar’i Dan Cenderung MERUSAK AQIDAH Kita,,,Astaqfirullah’aladziim,,,Wallahu’alam Bishowab,,

  4. Saya hanya mediator saja, Gak ada kata fitnah dan jin disitu kan, kalau ada yang bilang begitu, coba sama-sama muhasabah dan introspeksi..kata-kata siapa itu? bukan saya kan !?
    Coba kirimi saya tulisan yang memuaskan soal aktivasi otak tengah ini, ntar saya up load sebagai pembandingannya oke.
    Polemik ini sebagi jawaban saya pada orang yang bertanya pada saya soal ini, agar orang banyak belajar dari banyak sumber, dan agar tidak menganggap yang belum belajar mesti lebih bodoh, seperti orang yang belajar hanya kapitalisme yang dia tahu dan dianggap benar adalah sistem itu, sistem sosialisme dan komunisme keliru, lalu menyebut sistem syariah sudah hampir pasti dianggap salah dan berbahaya.
    seperti sebagian trainer NLP (yang baru kenal dg ilmu ini saja) yang menganggap model AMT udah lapuk, apalagi pengajian kampus yang monologis.
    kenapa begini ya? mungkin dikarenakan ia menganggap ilmunya yang lebih benar, lebih tinggi dan lebih up to date
    Komentar anda saya terima dengan rela hati, meski pahit … saya memaafkan anda

  5. hati-hati mengumbar opini, kalau salah bisa jadi fitnah….
    tanyakanlah pada ahlinya.. buat Kak Bimo..sajikan informasi yang BAL (benar akurat lengkap) apalagi hal-hal yang kontroversial….info terbaru: ada beberapa bisnis aktivasi otak yang sudah mendapat sertifikat kehalalan dari MUI…tapi ada juga beberapa yang dimasuki misi pendangkalan aqidah….

  6. teliti dan tanya asal usul sumbernya baru tanya ahlinya. Siapa ahli yg pro dan siapa yg kontra,kmd perbandingkan dr keduanya. Ttg kehalalan dr MUI tak pernah saya temukan di bbg situs dsb.soal missi mem terselubung memang urusan kami
    coba anda buka website info halal MUI. saya jamin tak akan anda temukan.

  7. “wa qoddimnaa maa ‘amiluu min ‘amalin faja’alnaahu habaa an mantsuuron.” (Al-Furqon :23)

    memangnya kak bimo sudah pernah bertanya kepada MUI kok bisa menyimpulkan FITNAH…!!

  8. Saya justru mengingatkan kepada sesiapa yg pernah menyatakan adanya sertifikasi halal MUI, Seraya menyebutkan satu situs provider Aktivasi mi dbrain, stlh sy buka2 situs dan history nya sm skl tak ada berita tsb, mohon agar lembaga luhur MUI jangan disebut telah menyatakan Halal, jk kenyataannya sumber beritanya tidak ada. Trims nasehatnya, stp ayat Alquran adlh nasehat terbaik jk disampaikan dg niatan yg baik. Adakah makalah pembanding 2 tulisan di atas? Agar sy dan public bs bandingkan?

  9. sebenarnya persoalan ini mjd lebih sederhana, apabila:
    1. Ada kontributor ttg ilmiahnya Aktivasi otak tengah, mnrt pakar ttg otak dan syaraf. Tt bukan dr praktisi yg skr tahu paket pengetahuan ttg hal ini. Kirim ke qnaulia@yahoo.com . Nanti saya up load spy seimbang
    2. Bantu saya dgn menginformasikan, lembaga mana yg tlah mencantumkan label halal MUI Program ini, kmd no administrasi sertifikatnya berapa, kmd akan saya upload di laman ini pula.
    3. Dari bahasa dan materi sahabat yg memberi komentar saya sdh mengetahui sumber primer nya. Kenapa tidak lbh baik untuk langsung menasehati dan mengajari akan keshahihan program ini pd saya? Bgm jk ngobrol spt dulu saja, silaturahim lebih utama kan.

  10. Sahabatku Kak Imung pendongeng Nasional dari Purwokerto memberikan komentar via SMS kepada saya demikian “Pendidikan yang berkarakter fitrah dan dilaksanakan dalam keadaan penuh kesadaran. karenna rasulullah sang perubah peradaban dunia memulainya dengan mengubah pola pikir & attitude para sahabat dalam keadaan sadar sepenuh kesadaran mereka, bukan hipnosis atau aktivasi otak tengah”.
    Demikian sumbangan komentar saya tulis apa adanya

Comments are closed.