BODOH

Disebutkan, seorang pria Tionghoa pergi ke suatu bank di New York City dan berniat
untuk meminjam uang sebesar US$ 5.000. Uang itu akan digunakan untuk perjalanan bisnis ke China selama dua minggu.

Bankir yang melayani pria tersebut mengatakan bahwa bank membutuhkan suatu jaminan untuk pinjaman tersebut. Pria Tionghoa itu setuju. Ia menawarkan mobil Ferrari baru yang diparkir di depan bank sebagai jaminan atas pinjamannya.

Bankir setuju menggunakannya sebagai jaminan. Setelah pria Tionghoa tersebut pergi, sang bankir dan pegawai-pegawai bank tersebut menertawainya. Mereka menganggap pria Tionghoa itu bodoh. Siapa yang tidak bodoh, jika menggunakan mobil Ferrari baru seharga US$ 250.000 sebagai jaminan terhadap pinjaman sebesar US$ 5.000 saja.

Seorang petugas kemudian memarkir mobil Ferrari tersebut ke dalam underground garage milik bank tersebut. Dua minggu kemudian, pria Tionghoa tersebut kembali. Segera ia membayar utang sebesar US$ 5.000 ditambah bunganya sebesar US$ 15.41.

Pegawai bank berkata, “Tuan, kami sangat senang bisa berbisnis dengan anda, dan transaksi ini berjalan dengan lancar. Tetapi terus terang saja, kami sedikit bingung. Ketika Anda pergi, kami mengecek informasi tentang Anda dan mengetahui bahwa anda adalah seorang miliarder. Mengapa Anda repot-repot meminjam uang sebesar US$ 5.000?”

Si pria Tionghoa membalas sambil tersenyum, lalu berkata “Dimana lagi tempat di New York City yang bisa digunakan untuk memarkir mobil saya dengan aman hanya dengan harga $15.41, selama dua minggu?”

Ceritanya berhenti sampai disitu. Lalu apa maknanya?
“jangan sok pintar, tetapi tetaplah merasa bodoh, dan bertanyalah untuk dapat memahami pola pikir orang lain yang Anda anggap lebih sukses dan lebih bahagia dari Anda”. Merasa bodoh itu penting, sepanjang hal itu mendorong kita untuk maju. Bukan begitu?

(Email dari andreas harefa)

Didiklah Anak Sedari Dini Hari

Ngaji Supoyo Aji


Sejak dimulai dari pemilihan bibit bagi sang calon Ibu dan pemilihan bagi sang calon ayah, sejak semula, semua pasangan sudah ada niat mencari dan menyiapkan bibit yang unggul, sehat, baik dan shalih.

Ketika semua orang telah memiliki pasangan dan dikaruniai calon bayi, benih itu dipupuk, dijaga, diberi makan yang teratur. Diajarkan mengaji sejak dalam kandungan dengan suara merdu sang ibu setiap saat, juga makanan jasmani dan ruhaninya melalui sikap dan tingkah laku orangtua (ortu).

Ia harus diberi makanan pencerdas otak sejak awal kandungan, akhlaq mulia dengan prilaku sang Ibu. Dilarang membiasakan kata-kata kotor penuh nada ejekan atau hinaan dari sang ibu dimulai dari anak dalam kandungan, agar sang anak kelak tak terbiasa mendengarkannya.

Para ibu, juga dilarang ada hati yang sombong, angkuh, kikir, karena jiwa sang Ibu berpengaruh pada sang bayi ketika ia hamil.

Para ibu, juga diperintahkan sebaik mungkin menghindari penyakit-penyakit hati, namun melakukan kebaikan hati, karena getaran dada dirasakan sang bayi
Semua ajaran di atas telah tercantum dalam firman Allah. Termasuk dalam Q.S Al-Baqarah, Luqman Al Hujuraat, dan surah lain-lainnya.

Setelah ia lahir disusukan dengan ASI yang murni sampai berumur 2 tahun penuh (sebagaimana ajaran Islam).

Ketika anak berumur 7 tahun, Islam memerintahkan untuknya shalat. Jika telah berumur 10 tahun, ia bahkan boleh dipukul, tapi pukulan penuh didikan bukan menyakiti.

Ketika anak sudah mulai bisa membedakan yang baik dan yang buru, maka Islam meminta agar anak diajarkan berenang, memanah, naik kuda, dll.

Anak juga harus diajarkan mengenal Allah Ta’ala, Nabinya, serta agamanya.

Anak Ibarat Pohon

Kenapa sejak kecil anak diajarkan shalat dan tahu agamanya? Ini adalah pendidikan ruhaninya kelak agar dewasa dia bisa mandiri, tahu apa yang harus dilakukannya saat menghadapi segala macam permasalahan.

Kenapa sejak kecil anak juga harus diajarkan memanah, berenang, naik kuda dan sebagainya dari olahraga? Lihatlah bagaimana sikap seorang pemanah dari sisi saat ia memanah dengan tepat, lihatlah orang yang berenang dalam menjaga keseimbangan tubuhnya, saat orang naik kuda mengendalikan kuda yang larinya kencang sekalipun. Jadi bukan dari sisi permainan itu saja diambil hikmahnya, tetapi substansi hikmah di belakang dari semua itu.

Mendidik anak yang sudah besar, itu sama saja kita mencoba meluruskan pohon bengkok sejak semula. Karenanya, akan sangat sulit sekali lurusnya. Kalau diluruskan dengan paksaan ia akan patah. Karena itu selagi dia masih kecil, dan masih bisa dibentuk, maka bentuklah sedari dini hari, jangan sampai siang hari, nanti kesiangan, apalagi senja hari, nanti rabun senja. Lebih parah kalau dibentuk sudah malam hari, mata udah rabun, gelap, pandangan dan samar-samar.

Orangtua kalau sudah dibentuk ketika tuanya tentu akan sulit, karena pandangan di malam hari juga sudah pada gelap. Orang siap-siap mau tidur, waktu malam hari hanyalah banyak berdo’a dan beribadah saja. Seperti begitulah orangtua, seharusnya masa-masanya sudah dekat ke kubur siap-siap menghadapi maut.

Jangankan yang sudah tua, masih muda saja kita selalu siap-siap ke kubur, itu sebabnya pohon itupun disirami sejak dari dalam tanah, sejak dari bibitnya. Kalau pohon sudah rindang, sudah tua, sudah tinggi yang diharapkan hanyalah siraman hujan dari langit, dan hidayah dari Allah ta’a’la.

Siklus kehidupan, rotasi alam, akan seperti itu ke itu saja adanya. Sunnatullah, dari bibit, menjadi benih, tunas kecil, pohon remaja dan lagi ranum-ranumnya, dan akhirnya berbuah.

Tatkala dia berbuah, dia menghasilkan biji, benih yang baru untuk penerus kehidupannya. Kehidupannya tadi digantikan lagi oleh benih yang baru, begitulah seterusnya.

Lantas, dilihat dari perputaran siklus kehidupan tanaman tadi, apakah tidak terpikir oleh kita, bagaimana sebenarnya hakikat jati diri kita?

Buat apa kita hidup, dari mana asal kita hidup, untuk apa kita hidup, pada akhirnya ke mana jalan akhir hidup kita?

Bibit, benih yang kita tanam tadi, setelah sekian tahun baru kita memetik hasilnya. Saat kita petikpun tak begitu lama, datang masa akhir hayat kita. Lantas, sudah siapkah diri kita menghadapi kehidupan nan abadi dan kekal di akhirat nanti?

Waktu yang diberikan buat bekal itu hanyalah sedikit sekali, sementara yang akan kita capai dan akan kita jalani kelaknya adalah sangat terlalu panjang, apakah tidak terfikir oleh kita untuk mempersiapkan segala sesuatunya buat diri kita sendiri dalam menghadap illahi?

Sudahkah kita menghitung amalan dan dosa-dosa kita? Masa akhirat, hari pembalasan masa kiamat adalah masa-masa sang anak lupa pada ibunya, ibu sendiri lupa pada janin yang ada dalam kandungannya, semua lupa pada siapa, yang difikirkannya hanyalah kondisi nasib dirinya sendiri.

Masa itu tak ada naungan dan pertolongan selain naungan dan pertolongan Allah Ta’ala semata.

Namun kenapa di saat-saat kita sadar diri, masih muda, masih kaya, masih memiliki akal sehat, masih punya banyak waktu, kita jarang berinteraksi dan memohon hanya padaNya?

Tetapi kita memohon pada selainNya dalam bentuk apapun itu, kita sadari ataupun tak kita sadari. Termasuk kesalahan-kesalahan kita dalam mendidik anak.

Lantas, apakah tidak ada rasa malu dalam diri kita, di saat kita nanti berada dalam kondisi serba sulit di hari akhirat, kita baru datang kepada Allah Ta’ala untuk meminta perlindungan?

Cobalah saja kita membayangkan diri kita.

Bagaimana perasaan kita, andaikan ada teman, saudara, istri, suami, anak atau siapa saja, di saat dia senang, bahagia dia lupa sama kita, dia malah ingat sama yang lainnya. Tidak tahunya di saat-saat dia berada dalam kesulitan dia datang ke kita, mengadu pada kita.

Allah juga maha pencemburu. Sungguh tak masuk diakal yang waras dan cerdas, apabila kita datang ke Allah di saat-saat kita berada dalam kesulitan. Semata, saat sehat, saat bahagia, saat kaya kita tak ingat padaNya. Lupa ibadah, lupa berinfaq, lupa memberi padaNya, lupa mengingatNya.

Manusia saja tidak bisa dibegitukan, apatah lagi Allah yang maha kuasa, maha pencemburu.

Mari sama-sama kita merenungkan semua ini. Semua bermula dari benih, bibit, anak, karena itu pantaslah anak kita katakan anugerah. Karena dari perkembangan bibit, benih, anaklah, kita dapat mengambil hikmah besar dari kehidupan ini, untuk mencapai tujuan akhir hidup kita, yakni RidhaNya semata, tak lebih dari itu.

Dan sesungguhnya, Allah telah memperlihatkan pada kita semua semua ilmunya. ALlah bahkan memilima melihat dengan “Mata Hati”, bukan “Mata Telanjang”. Sayangnya, kita sering alpa dalam masalah ini.

وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?.” [QS.Adz Zaariyah: 21]

Semoga, kita semua mampu menjadi orangtua yang peka, yang bisa melihat dengan “Mata Hati”. *

Rahima Rahim, Ibu rumah tangga, kuliah Jurusan Ushuluddin di Universitas al Azhar As-Syarif, berdomisili di Bukittinggi

Aduhai Indah-Nya Cahaya-Mu

Sekiranya mereka yang menyangsikan kemahabesaran-Mu menemui kebenaran-Mu,
tentulah tak mungkin mereka beradu pendapat!
Andaikan mereka kuajak menemui-Mu,
tentulah sadar bahwa firman-Mu benar tanpa banyak pendapat!
Akankah aku Engkau perintahkan untuk memberitakan kebenaran-Mu?

Allah, demi Zat-Mu Yang Maha Mulia,
aku hanyalah seorang yang tak berdaya,
takkan mungkin menerima beritaku semua orang yang masih tertutup mata hatinya!
Padahal cahaya-Mu begitu indah dipandang mata orang yang telah Engkau singkap tabir yang menghalanginya!
Cahaya-Mu menerangi gelapnya pandangan manusia yang mengunggulkan pikirannya!

Allah, kini kusadar betapa lemahnya diriku di dalam kekuasaan-Mu!
Deritaku di dunia hanyalah kemuliaan yang tiada tertulis dalam buku harianku,
akan tetapi Engkau ukir di Lohmahfuz-Mu yang tercatat dengan ‘Pena’-Mu!
Bagaimana aku tak meyakini seluruh firman-Mu yang mulia itu?
Duhai Allah, tutuplah hidupku dengan kemuliaan-Mu. Amin.

Continue reading

MENGENAL ALLAH YUK

.

Ananda tersayang… Apabila Engkau ditanya : Siapakah Tuhanmu ? Maka katakanlah : tuhanku adalah Allah, yang memelihara diriku dan memelihara semesta alam ini dengan segala ni’mat yang dikurniakan-Nya. Dan dialah sembahanku, tiada sesembahan yang benar selain Dia.

Ananda … Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Segala puji hanya milik Allah Tuhan Pemelihara semesta alam”.  

(Al-Faatihah : 1).
Semua yang ada selain Allah disebut Alam, dan aku adalah salah satu dari semesta alam ini.  

Selanjutnya jika ananda ditanya : Melalui apa dirimu mengenal Tuhan ? Maka hendaklah anda jawab : Melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah : malam, siang, matahari dan bulan. Sedang di antara ciptaan-Nya ialah : tujuh langit dan tujuh bumi beserta segala mahluk yang ada di langit dan di bumi serta yang ada di antara keduanya.

Ananda, kita bisa membacanya dalam alquran, Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang,  matahari dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan janganlah (pula kamu bersujud) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu benar-benar hanya kepada-Nya beribadah” (Fushshilat : 37). 

Dan firman-Nya :
“Artinya : Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang telah menciptakan  langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas  ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang, sentiasa mengikutinya  dengan cepat. Dan Dia (ciptakan pula) matahari dan bulan serta   intang-bintang (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah hanya hak Allah mencipta dan memerintah itu. Maha Suci Allah Tuhan semesta    alam”. (Al-A’raaf : 54).
Tuhan inilah yang haq disembah. Dalilnya, firman Allah Ta’ala :
“Artinya : Wahai manusia ! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan  kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertaqwa, (Tuhan)  yang telah menjadikan untukmu bumi sebagai hamparan dan langit  sebagai atap, serta menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu  Dia menghasilkan segala buah-buahan sebagai rizki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”. (Al-Baqarah : 22). 

Dan macam-macam ibadah yang diperintah Allah itu, antara lain : Islam (Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji), Iman, Ihsan, Do’a, Khauf (takut), Raja’ (pengharapan),Tawakkal, Raghbah (penuh minat), Rahbah (cemas), Khusyu’ (tunduk), Khasyyah(takut), Inabah (kembali kepada Allah), Isti’anah (memohon pertolongan), Isti’adzah (meminta perlindungan), Istighatsah (meminta pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan), Dzabh (penyembelihan) Nadzar dan macam-macam ibadah lainnya yang diperintahkan oleh Allah. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah,  karena itu janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya di  samping (menyembah) Allah”. (Al-Jinn : 18).
Karena itu barangsiapa yang menyelewengkan ibadah tersebut untuk selain Allah, maka dia adalah musyrik dan kafir. Firman Allah Ta’ala :
“Artinya : Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain di  samping (menyembah) Allah, padahal tidak ada satu dalilpun baginya  tentang itu, maka benar-benar balasannya ada pada tuhannya. Sungguh  tiada beruntung orang-orang kafir itu”. (Al-Mu’minuun :117).
Dalil-dalil macam Ibadah : 

1.    Dalil Do’a.
Firman Allah Ta’ala :

“Artinya : Dan Tuhanmu berfirman : Berdo’alah kamu kepada-Ku niscaya   akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya, orang-orang yang enggan untuk beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan  hina-dina”. (Ghaafir : 60).
Dan diriwayatkan dalam hadits : 

“Artinya : Do’a itu adalah sari ibadah”. ( Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam  Al-Jaami’ Ash-Shahiih, kitab Ad-Da’waat, bab 1. “Maksud hadits ini  adalah bahwa segala macam ibadah, baik yang umum maupun yang  khusus, yang dilakukan seorang mu’min, seperti mencari nafkah yang   halal untuk keluarga, menyantuni anak yatim dll, semestinya diiringi  dengan permohonan redha Allah dan pengharapan balasan ukhrawi. Oleh karena itu Do’a (permohonan dan pengharapan tersebut) disebut oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sari atau otak ibadah, karena sentiasa harus mengiringi gerak ibadah”).

2.    Dalil Khauf (takut).
Firman Allah Ta’ala :
“Artinya : Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah  kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (Ali ‘imran : 175).
3.    Dalil Raja’ (pengharapan).
Firman AllahTa’ala.
“Artinya : Untuk itu barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhanya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah  mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (Al-Kahfi : 110).
4.    Dalil Tawakkal (berserah diri).
Firman Allah Ta’ala :
“Artinya : Dan hanya kepada Allah-lah supaya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.  

(Al-Maa’idah : 23).

“Artinya : Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang akan mencukupinya”.

(Ath-Thalaaq : 3).
5.    Dalil Raghbah (penuh minat), Rahbah (cemas) dan Khusyu’ (tunduk).
Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Sesungguhnya mereka itu sentiasa berlomba-lomba dalam  (mengerjakan) kebaikan-kebaikan serta mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh minat (kepada rahmat Kami) dan cemas (akan siksa Kami), sedang mereka itu selalu tunduk hanya kepada Kami”. (Al-Anbiyaa : 90).
6.    Dalil Khasy-yah (takut).
Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku”. (Al-Baqarah : 150).
7.    Dalil Inabah (kembali kepada Allah).
Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu serta berserah dirilah  kepada-Nya (dengan mentaati perintah-Nya), sebelum datang adzab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat tertolong (lagi)”.  

(Az-Zumar : 54).
8.    Dalil Isti’anah (memohon pertolongan).
Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan”. (Al-Faatihah : 4).
Dan diriwayatkan dalam hadits. 

“Artinya : Apabila kamu memohon pertolongan, maka memohonlah pertolongan kepada Allah”. (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jaami’  ‘Ash-Shahiih, kitab Shifaat Al-Qiyaamah wa Ar-Raqa’iq wa Al-Wara : bab 59 dan riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad. Beirut Al-maktab Al-Islami 1403H jilid 1 hal. 293, 303, 307).

9.    Dalil Isti’adzah (meminta perlindungan).
Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Katakanlah Aku berlindung kepada Tuhan yang Menguasai subuh”. (Al-Falaq : 1).
Dan firman-Nya :  

“Artinya : Katakanlah Aku berlindung kepada Tuhan manusia. Penguasa manusia”. (An-Naas : 1-2).

10.    Dalil Istighatsah (meminta pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan).
Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : (Ingatlah) tatkala kamu meminta pertolongan kepada Tuhanmu untuk dimenangkan (atas kaum musyrikin), lalu diperkenankan-Nya bagimu”. (Al-Anfaal : 9).
11.    Dalil Dzabh (penyembelihan).
Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Katakanlah. Sesungguhnya shalatkku, penyembelihanku,  hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam, tiada  sesuatu-pun sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri (kepada-Nya)”. (Al-An’am : 162-163).
“Artinya : Allah melaknat orang yang menyembelih (binatang) bukan karena Allah”. (Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya, kitab  Al-Adhaahi, bab 8 dan riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad, jilid 1, hal. 108, 118 dan 152)
12.    Dalil Nadzar. Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang siksanya merata di mana-mana”.  

(Al-Insaan : 7).

SEPERTI APA ALLAH?

Khalifah Ali bin Abi Thalib berkata:

”Barangsiapa yang mengaitkan Allah dengan berbagai kondisi maka sesungguhnya ia tidak mempercayai keesaan-Nya, yang menyerupakan Dia dengan sesuatu, sebenarnya ia tidak mengenal-Nya sedikitpun. Siapa yang menduga dapat melukis-Nya, maka bukan Dia yang  ia lukiskan. Orang yang mengkhayalkan-Nya, maka bukan Dia yang ia khayalkan. Waktu tidak sama Dia, Wujud-Nya mendahului waktu, keberadaan-Nya tidak didahului oleh ketidak beradaan. Asal-nya mendahului permulaan. Dari penciptaan atas indra diketahui Dia tdak beridera, dengan pertentangannya dengan berbagai hal, diketahui bahwa Dia tidak memiliki pertentangan dan persamaan dengan berbagai hal, dan diketahui tak ada sesuatu yang menyamai-Nya. Dia tidak terbatas oleh batas, tidak terhitung dengan jumlah. Kata Munzu (sejak) ditolak oleh qadim-Nya kata Qad (sesudah) tidak sejalan dengan sifat azalli-Nya Dia tidak melahirkan apapun, sehingga Dia tidak dipandang dilahirkan oleh apapun. Dia terlalu tinggi untuk punya putra, terlalu suci untuk punya istri. Khayalan tidak dapat menyangka-Nya, maka mustahil memberikan kualitas kepada-Nya. Pengertian tak dapat memikirkannya, mak bagimana memberi bentuk untuk-Nya, Indera tak dapat menangkap-Nya, maka bagaimana Dia dapat diraba? Malam dan siang tidak menjadikann-Nya tua; terang dan gelap tak menjadikan-Nya berubah. Dia tidak didalam sesuatu, tetapi tidak juga diluar-Nya, Dia menyampaikan berita tetapi bukan dengan lidah, tidak juga dengan bunyi. Dia mendengar bukan dengan telinga dan bukan pila dengan organ pendengaran, dia melihat tetapi bukan dengan alat penglihatan. Dia berkata tanpa mengeluarkan kata. Dia mengingat tetapi tidak dengan menghafal. Dia bertekad tetapi bukan dengan ketetapan hati. Dia mencintai tanpa perasaan dan Dia menaruh belas kasih tanpa perih, Dia membenci tanpa derita dan Dia marah tanpa gejolak hati”. (Dalam Nahju Balaghah-puncak kefasihan)

KISAH DIBALIK CERITA

Ku Hibur Aku Dengan Doaku

1. Benar, semua ada ilmunya, maka pemahaman yang benar tentang cerita akan menjadi dasar keahlian bertutur kata secara benar bertanggung jawab pada saat bertutur cerita, tepat pada sasaran dan terhindar dari malapraktek bercerita

2. Kontak Batin adalah Kunci, sudah seharusnya kita terus menerus membangun kontak batin dengan anak-anak, kesuksesan dalam menanamkan nilai agama sangat terpengaruh oleh hal ini. Karenanya kita didengar dan disayangi bahkan selalu merasa dekat. Disanalah kesempatan memberikan lapisan batin untuk ketahanan mental mereka serta menginstall sifat-sifat terpuji lainnya. membangun kontak batin lebih efektif  apabila dilakukan melalui cerita. Bisa saja berupa dongeng ataupun  pengalaman hidup kita sendiri, baik yang manis maupun pahit, bahkan sering kali lebih berkesan bagi anak

3. Dengan cerita ataupu dongeng, nasehat dan nilai-nilai agama menjadi lebih ramah anak, mereka mendapatkan banyak nilai dan pengetahuan tanpa merasa di khutbahi

4. Adakah metode yang lebih akurat dan presisi menghidupkan imajinasi selain cerita dan mendongeng? Saya rasa tidak ada yang setara, Dalam hitungan sepersekian detik, atau Sesaat setealh mendengar tuturan cerita dari mulut kita, merekapun mengimajinasikannya dalam berbagai citra mentalnya. Jika ada alat yang bisa menampilkan apa yang ada dibenak mereka pasti menjadi kejutan besar keragaman dan keunikan imajinasi mereka itu

5. Emosi anak perlu disalurkan dan terus dilatih, dengan cerita mereka diajak mengarungi berbagai perasaan manusia. Ia dapat dididik untuk menghayati kesedihan, kemalangan, derita dan nestapa. Ia dapat pula diajak untuk berbagi kegembiraan, kebahagiaan, keberuntungan dan keceriaan. Melaui cerita anak dapat dilatih untuk menghayati berbagai lakon kehidupan manusia. Tak diragukan lagi dongeng sangat luar biasa!

6. Role model, Anak-anak akan mudah memahami sifat-sifat, figur-figur dan perbuatan yang baik, dan sebaliknya mana diantara itu semua yang yang buruk. Melalui cerita kita juga dapat memperkenalkan akhlak dan figur seorang yang baik dan pantas diteladani,. demikian pula sebaliknya. Bercerita dapat berperan dalam proses pembentukan watak seorang anak.

7. Kekayaan hidup yang kita wariskan ! Melalui cerita kita dapat menyajikan kemungkinan kejadian kehidupan manusia, dan pengalaman atau sejarah kehidupan yang riil, maka dengan ini anak-anak akan terlatih memahami berbagai makna kehidupan beserta bahkan hukum-hukum kehidupan manusia. Pengalaman batinnya akan lebih kaya, dan ini akan sangat membantu kematangan jiwanya.

8. Jiwa yang matang dan kokoh tidak mudah terombang-ambing oleh rayuan, godaan dan tantangan hidup. Ia akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang tegar dan berprinsip, dalam menghadapi segala situasi dan kondisi

9. Setiap saat kita berdoa ”Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukannya jalan orang-orang yang engkau murkai dan bukan pulanjalannya orang-irang yang sesat”. Mengapa kemudian kita tidak setiap saat menghayati kisah dan peri hidup mereka dalam 300an ayat itu?

10. Dalam pandangan agama dongeng yang melahirkan sistem kepercayaan seperti mengumbar mitos dan legenda adalah membahayakan keyakinan. Ia lebih berbahaya dari pada sekedar cerita cabul, sadis, horor atau fatalistik. Setiap pendongeng semetinya bertanggung jawab atas dongengan yang ia berikan, jangan menjadi pendongeng TABRAK LARI, yang membuat terluka bahkan matinya Keimanan serta akhlak anak-anak .. sungguh naif dan tidak terpuji

11. Dalam berbagai kitab suci pun tertulis, tentang buruknya kesombongan, ketamakan dan kedengkian, ketiganya merupakan biang segala sifat buruk lainnya.. semua tragedi kemanusiaan berawal dari ketiganya. Sudah sepatutnya perhatian kita sebagai THE CHARACTER BUILDER untuk memusnahkan ketiga mentalitas setan ini, dari jiwa anak anak kita. Nabi Muhammad menyebutnya dengan “TIGA HAL YANG MENGHANCURKAN”

12. Ada empat sifat utama yang menjadi induk seluruh kemuliaan akhlak manusia; ia adalah rendah hati, sederhana, kehati-hatian dan keyakinan. Keempat sifat ini akan berkombinasi dan konfigurasi melahirkan genre akhlak baik seluruhnya (Abu hanifah)

T adalah Tawadhu’ Q adalah Qana’ah,

W adalah wara’i dan yang terakhir adalah Y yang mengisyaratkan Yaqin (sayyid sabiq)

Dan Moralitas islam adalah TAQWA / MUTTAQIN (Abul a’la al maududiy)

13. Jika ayah ibu dan keluarga kembali mendongeng, maka akan ada kampung dongeng, tak lama berselang akan ada kota dongeng dan negeri dongeng akan terwujud, Yang paling penting sekarang adalah menyadarkan semua komponen dan elemen bahwa tidak semua dongeng layak untuk di sampaikan kepada hati bersih putra-putri kita

14. Sebenarnya kita akan mengajak anak-anak untuk meneladani tokoh dongeng atau tokoh besar dalam sejarah ini? Pertanyaan ini serupa dengan dongeng Cinderela salju dengan fatimah azzahra? Shena atau Cut Nyak Dien? Superman atau Muhammad. Kadangkala gelisah dan tersadar “Jangan-jangan karakter jadi-jadian yang akan  kita transformasikan untuk kepribadian bangsa ini”

15. Sebagai pendongeng kita terus mendewasakan diri untuk menjawabnya secara jujur dan sabar. Anak-anak yang menderita, dikarenakan kemiskinan, keterbelakangan dan kesenjangan lainnya, lebih berhak untuk kita gembirakan dibandingkan dengan anak yang menghadirkan pendongengnya, hanya karena mampu membayarnya. Sedangkan anak-anak kurban bencana dan konflik orang dewasa(yang jelas yang tidak dimengertinya oleh mereka), adalah lebih utama disembuhkan luka batinnya, daripada anak anak yang telah terbiasa gembira dengan  ketersedian fasilitas sesuai mereka