KISAH DIBALIK CERITA

Ku Hibur Aku Dengan Doaku

1. Benar, semua ada ilmunya, maka pemahaman yang benar tentang cerita akan menjadi dasar keahlian bertutur kata secara benar bertanggung jawab pada saat bertutur cerita, tepat pada sasaran dan terhindar dari malapraktek bercerita

2. Kontak Batin adalah Kunci, sudah seharusnya kita terus menerus membangun kontak batin dengan anak-anak, kesuksesan dalam menanamkan nilai agama sangat terpengaruh oleh hal ini. Karenanya kita didengar dan disayangi bahkan selalu merasa dekat. Disanalah kesempatan memberikan lapisan batin untuk ketahanan mental mereka serta menginstall sifat-sifat terpuji lainnya. membangun kontak batin lebih efektif  apabila dilakukan melalui cerita. Bisa saja berupa dongeng ataupun  pengalaman hidup kita sendiri, baik yang manis maupun pahit, bahkan sering kali lebih berkesan bagi anak

3. Dengan cerita ataupu dongeng, nasehat dan nilai-nilai agama menjadi lebih ramah anak, mereka mendapatkan banyak nilai dan pengetahuan tanpa merasa di khutbahi

4. Adakah metode yang lebih akurat dan presisi menghidupkan imajinasi selain cerita dan mendongeng? Saya rasa tidak ada yang setara, Dalam hitungan sepersekian detik, atau Sesaat setealh mendengar tuturan cerita dari mulut kita, merekapun mengimajinasikannya dalam berbagai citra mentalnya. Jika ada alat yang bisa menampilkan apa yang ada dibenak mereka pasti menjadi kejutan besar keragaman dan keunikan imajinasi mereka itu

5. Emosi anak perlu disalurkan dan terus dilatih, dengan cerita mereka diajak mengarungi berbagai perasaan manusia. Ia dapat dididik untuk menghayati kesedihan, kemalangan, derita dan nestapa. Ia dapat pula diajak untuk berbagi kegembiraan, kebahagiaan, keberuntungan dan keceriaan. Melaui cerita anak dapat dilatih untuk menghayati berbagai lakon kehidupan manusia. Tak diragukan lagi dongeng sangat luar biasa!

6. Role model, Anak-anak akan mudah memahami sifat-sifat, figur-figur dan perbuatan yang baik, dan sebaliknya mana diantara itu semua yang yang buruk. Melalui cerita kita juga dapat memperkenalkan akhlak dan figur seorang yang baik dan pantas diteladani,. demikian pula sebaliknya. Bercerita dapat berperan dalam proses pembentukan watak seorang anak.

7. Kekayaan hidup yang kita wariskan ! Melalui cerita kita dapat menyajikan kemungkinan kejadian kehidupan manusia, dan pengalaman atau sejarah kehidupan yang riil, maka dengan ini anak-anak akan terlatih memahami berbagai makna kehidupan beserta bahkan hukum-hukum kehidupan manusia. Pengalaman batinnya akan lebih kaya, dan ini akan sangat membantu kematangan jiwanya.

8. Jiwa yang matang dan kokoh tidak mudah terombang-ambing oleh rayuan, godaan dan tantangan hidup. Ia akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang tegar dan berprinsip, dalam menghadapi segala situasi dan kondisi

9. Setiap saat kita berdoa ”Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukannya jalan orang-orang yang engkau murkai dan bukan pulanjalannya orang-irang yang sesat”. Mengapa kemudian kita tidak setiap saat menghayati kisah dan peri hidup mereka dalam 300an ayat itu?

10. Dalam pandangan agama dongeng yang melahirkan sistem kepercayaan seperti mengumbar mitos dan legenda adalah membahayakan keyakinan. Ia lebih berbahaya dari pada sekedar cerita cabul, sadis, horor atau fatalistik. Setiap pendongeng semetinya bertanggung jawab atas dongengan yang ia berikan, jangan menjadi pendongeng TABRAK LARI, yang membuat terluka bahkan matinya Keimanan serta akhlak anak-anak .. sungguh naif dan tidak terpuji

11. Dalam berbagai kitab suci pun tertulis, tentang buruknya kesombongan, ketamakan dan kedengkian, ketiganya merupakan biang segala sifat buruk lainnya.. semua tragedi kemanusiaan berawal dari ketiganya. Sudah sepatutnya perhatian kita sebagai THE CHARACTER BUILDER untuk memusnahkan ketiga mentalitas setan ini, dari jiwa anak anak kita. Nabi Muhammad menyebutnya dengan “TIGA HAL YANG MENGHANCURKAN”

12. Ada empat sifat utama yang menjadi induk seluruh kemuliaan akhlak manusia; ia adalah rendah hati, sederhana, kehati-hatian dan keyakinan. Keempat sifat ini akan berkombinasi dan konfigurasi melahirkan genre akhlak baik seluruhnya (Abu hanifah)

T adalah Tawadhu’ Q adalah Qana’ah,

W adalah wara’i dan yang terakhir adalah Y yang mengisyaratkan Yaqin (sayyid sabiq)

Dan Moralitas islam adalah TAQWA / MUTTAQIN (Abul a’la al maududiy)

13. Jika ayah ibu dan keluarga kembali mendongeng, maka akan ada kampung dongeng, tak lama berselang akan ada kota dongeng dan negeri dongeng akan terwujud, Yang paling penting sekarang adalah menyadarkan semua komponen dan elemen bahwa tidak semua dongeng layak untuk di sampaikan kepada hati bersih putra-putri kita

14. Sebenarnya kita akan mengajak anak-anak untuk meneladani tokoh dongeng atau tokoh besar dalam sejarah ini? Pertanyaan ini serupa dengan dongeng Cinderela salju dengan fatimah azzahra? Shena atau Cut Nyak Dien? Superman atau Muhammad. Kadangkala gelisah dan tersadar “Jangan-jangan karakter jadi-jadian yang akan  kita transformasikan untuk kepribadian bangsa ini”

15. Sebagai pendongeng kita terus mendewasakan diri untuk menjawabnya secara jujur dan sabar. Anak-anak yang menderita, dikarenakan kemiskinan, keterbelakangan dan kesenjangan lainnya, lebih berhak untuk kita gembirakan dibandingkan dengan anak yang menghadirkan pendongengnya, hanya karena mampu membayarnya. Sedangkan anak-anak kurban bencana dan konflik orang dewasa(yang jelas yang tidak dimengertinya oleh mereka), adalah lebih utama disembuhkan luka batinnya, daripada anak anak yang telah terbiasa gembira dengan  ketersedian fasilitas sesuai mereka

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s