MENGENAL ALLAH YUK

.

Ananda tersayang… Apabila Engkau ditanya : Siapakah Tuhanmu ? Maka katakanlah : tuhanku adalah Allah, yang memelihara diriku dan memelihara semesta alam ini dengan segala ni’mat yang dikurniakan-Nya. Dan dialah sembahanku, tiada sesembahan yang benar selain Dia.

Ananda … Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Segala puji hanya milik Allah Tuhan Pemelihara semesta alam”.  

(Al-Faatihah : 1).
Semua yang ada selain Allah disebut Alam, dan aku adalah salah satu dari semesta alam ini.  

Selanjutnya jika ananda ditanya : Melalui apa dirimu mengenal Tuhan ? Maka hendaklah anda jawab : Melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah : malam, siang, matahari dan bulan. Sedang di antara ciptaan-Nya ialah : tujuh langit dan tujuh bumi beserta segala mahluk yang ada di langit dan di bumi serta yang ada di antara keduanya.

Ananda, kita bisa membacanya dalam alquran, Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang,  matahari dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan janganlah (pula kamu bersujud) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu benar-benar hanya kepada-Nya beribadah” (Fushshilat : 37). 

Dan firman-Nya :
“Artinya : Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang telah menciptakan  langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas  ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang, sentiasa mengikutinya  dengan cepat. Dan Dia (ciptakan pula) matahari dan bulan serta   intang-bintang (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah hanya hak Allah mencipta dan memerintah itu. Maha Suci Allah Tuhan semesta    alam”. (Al-A’raaf : 54).
Tuhan inilah yang haq disembah. Dalilnya, firman Allah Ta’ala :
“Artinya : Wahai manusia ! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan  kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertaqwa, (Tuhan)  yang telah menjadikan untukmu bumi sebagai hamparan dan langit  sebagai atap, serta menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu  Dia menghasilkan segala buah-buahan sebagai rizki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”. (Al-Baqarah : 22). 

Dan macam-macam ibadah yang diperintah Allah itu, antara lain : Islam (Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji), Iman, Ihsan, Do’a, Khauf (takut), Raja’ (pengharapan),Tawakkal, Raghbah (penuh minat), Rahbah (cemas), Khusyu’ (tunduk), Khasyyah(takut), Inabah (kembali kepada Allah), Isti’anah (memohon pertolongan), Isti’adzah (meminta perlindungan), Istighatsah (meminta pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan), Dzabh (penyembelihan) Nadzar dan macam-macam ibadah lainnya yang diperintahkan oleh Allah. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah,  karena itu janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya di  samping (menyembah) Allah”. (Al-Jinn : 18).
Karena itu barangsiapa yang menyelewengkan ibadah tersebut untuk selain Allah, maka dia adalah musyrik dan kafir. Firman Allah Ta’ala :
“Artinya : Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain di  samping (menyembah) Allah, padahal tidak ada satu dalilpun baginya  tentang itu, maka benar-benar balasannya ada pada tuhannya. Sungguh  tiada beruntung orang-orang kafir itu”. (Al-Mu’minuun :117).
Dalil-dalil macam Ibadah : 

1.    Dalil Do’a.
Firman Allah Ta’ala :

“Artinya : Dan Tuhanmu berfirman : Berdo’alah kamu kepada-Ku niscaya   akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya, orang-orang yang enggan untuk beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan  hina-dina”. (Ghaafir : 60).
Dan diriwayatkan dalam hadits : 

“Artinya : Do’a itu adalah sari ibadah”. ( Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam  Al-Jaami’ Ash-Shahiih, kitab Ad-Da’waat, bab 1. “Maksud hadits ini  adalah bahwa segala macam ibadah, baik yang umum maupun yang  khusus, yang dilakukan seorang mu’min, seperti mencari nafkah yang   halal untuk keluarga, menyantuni anak yatim dll, semestinya diiringi  dengan permohonan redha Allah dan pengharapan balasan ukhrawi. Oleh karena itu Do’a (permohonan dan pengharapan tersebut) disebut oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sari atau otak ibadah, karena sentiasa harus mengiringi gerak ibadah”).

2.    Dalil Khauf (takut).
Firman Allah Ta’ala :
“Artinya : Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah  kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (Ali ‘imran : 175).
3.    Dalil Raja’ (pengharapan).
Firman AllahTa’ala.
“Artinya : Untuk itu barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhanya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah  mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (Al-Kahfi : 110).
4.    Dalil Tawakkal (berserah diri).
Firman Allah Ta’ala :
“Artinya : Dan hanya kepada Allah-lah supaya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.  

(Al-Maa’idah : 23).

“Artinya : Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang akan mencukupinya”.

(Ath-Thalaaq : 3).
5.    Dalil Raghbah (penuh minat), Rahbah (cemas) dan Khusyu’ (tunduk).
Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Sesungguhnya mereka itu sentiasa berlomba-lomba dalam  (mengerjakan) kebaikan-kebaikan serta mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh minat (kepada rahmat Kami) dan cemas (akan siksa Kami), sedang mereka itu selalu tunduk hanya kepada Kami”. (Al-Anbiyaa : 90).
6.    Dalil Khasy-yah (takut).
Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku”. (Al-Baqarah : 150).
7.    Dalil Inabah (kembali kepada Allah).
Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu serta berserah dirilah  kepada-Nya (dengan mentaati perintah-Nya), sebelum datang adzab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat tertolong (lagi)”.  

(Az-Zumar : 54).
8.    Dalil Isti’anah (memohon pertolongan).
Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan”. (Al-Faatihah : 4).
Dan diriwayatkan dalam hadits. 

“Artinya : Apabila kamu memohon pertolongan, maka memohonlah pertolongan kepada Allah”. (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jaami’  ‘Ash-Shahiih, kitab Shifaat Al-Qiyaamah wa Ar-Raqa’iq wa Al-Wara : bab 59 dan riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad. Beirut Al-maktab Al-Islami 1403H jilid 1 hal. 293, 303, 307).

9.    Dalil Isti’adzah (meminta perlindungan).
Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Katakanlah Aku berlindung kepada Tuhan yang Menguasai subuh”. (Al-Falaq : 1).
Dan firman-Nya :  

“Artinya : Katakanlah Aku berlindung kepada Tuhan manusia. Penguasa manusia”. (An-Naas : 1-2).

10.    Dalil Istighatsah (meminta pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan).
Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : (Ingatlah) tatkala kamu meminta pertolongan kepada Tuhanmu untuk dimenangkan (atas kaum musyrikin), lalu diperkenankan-Nya bagimu”. (Al-Anfaal : 9).
11.    Dalil Dzabh (penyembelihan).
Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Katakanlah. Sesungguhnya shalatkku, penyembelihanku,  hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam, tiada  sesuatu-pun sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri (kepada-Nya)”. (Al-An’am : 162-163).
“Artinya : Allah melaknat orang yang menyembelih (binatang) bukan karena Allah”. (Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya, kitab  Al-Adhaahi, bab 8 dan riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad, jilid 1, hal. 108, 118 dan 152)
12.    Dalil Nadzar. Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang siksanya merata di mana-mana”.  

(Al-Insaan : 7).

SEPERTI APA ALLAH?

Khalifah Ali bin Abi Thalib berkata:

”Barangsiapa yang mengaitkan Allah dengan berbagai kondisi maka sesungguhnya ia tidak mempercayai keesaan-Nya, yang menyerupakan Dia dengan sesuatu, sebenarnya ia tidak mengenal-Nya sedikitpun. Siapa yang menduga dapat melukis-Nya, maka bukan Dia yang  ia lukiskan. Orang yang mengkhayalkan-Nya, maka bukan Dia yang ia khayalkan. Waktu tidak sama Dia, Wujud-Nya mendahului waktu, keberadaan-Nya tidak didahului oleh ketidak beradaan. Asal-nya mendahului permulaan. Dari penciptaan atas indra diketahui Dia tdak beridera, dengan pertentangannya dengan berbagai hal, diketahui bahwa Dia tidak memiliki pertentangan dan persamaan dengan berbagai hal, dan diketahui tak ada sesuatu yang menyamai-Nya. Dia tidak terbatas oleh batas, tidak terhitung dengan jumlah. Kata Munzu (sejak) ditolak oleh qadim-Nya kata Qad (sesudah) tidak sejalan dengan sifat azalli-Nya Dia tidak melahirkan apapun, sehingga Dia tidak dipandang dilahirkan oleh apapun. Dia terlalu tinggi untuk punya putra, terlalu suci untuk punya istri. Khayalan tidak dapat menyangka-Nya, maka mustahil memberikan kualitas kepada-Nya. Pengertian tak dapat memikirkannya, mak bagimana memberi bentuk untuk-Nya, Indera tak dapat menangkap-Nya, maka bagaimana Dia dapat diraba? Malam dan siang tidak menjadikann-Nya tua; terang dan gelap tak menjadikan-Nya berubah. Dia tidak didalam sesuatu, tetapi tidak juga diluar-Nya, Dia menyampaikan berita tetapi bukan dengan lidah, tidak juga dengan bunyi. Dia mendengar bukan dengan telinga dan bukan pila dengan organ pendengaran, dia melihat tetapi bukan dengan alat penglihatan. Dia berkata tanpa mengeluarkan kata. Dia mengingat tetapi tidak dengan menghafal. Dia bertekad tetapi bukan dengan ketetapan hati. Dia mencintai tanpa perasaan dan Dia menaruh belas kasih tanpa perih, Dia membenci tanpa derita dan Dia marah tanpa gejolak hati”. (Dalam Nahju Balaghah-puncak kefasihan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s