DONGENG AKTIFKAN SIMPUL SARAF

Bayi-bayi yang rajin didongengi terbukti memiliki simpul saraf (myelin) yang lebih aktif. Sudahkah Anda melakukannya?


Sejak si kecil masih dalam kandungan, Rika sudah biasa mendongeng untuk anaknya. Banyak hal yang diceritakan, mulai dari aktivitas yang sedang dilakukannya sampai cerita-cerita sarat pesan moral yang dibaca dari beragam buku. Hingga anaknya lahir, Rika masih terus melakukan kebiasaan tersebut. Sambil memandikan, menyuapi dan bersiap tidur pun, ibu satu anak ini menyelipkan satu-dua cerita. Hasilnya? “Saya lihat perkembangan anak saya lebih cepat dibanding bayi-bayi seusianya. Saya rasa memang banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan mendongeng pada anak sejak bayi,” ujarnya.

Ada lagi contoh nyata: seorang mempelai perempuan memilih satu lagu khusus untuk mengiringi pernikahannya. Ketika ditanya alasannya, dengan lugas ia menjawab, “Lagu ini rasanya akrab sekali di telinga saya. Katanya sewaktu bayi saya sering didongengi cerita yang tertulis sebagai syair lagu ini.” Wah, masa sih efek dongeng pada bayi bisa sedahsyat itu?

AKTIFKAN SIMPUL SARAF

“Dari banyak penelitian sudah dibuktikan bahwa mendongeng pada anak memang banyak sekali manfaatnya. Jangankan sejak bayi, bahkan ketika si anak masih dalam kandungan pun mendongeng sudah bisa dilakukan,” ujar Andi Yudha Asfandiyar, seorang pemerhati anak yang sudah berulang kali mengikuti seminar tentang dongeng di berbagai negara. Jadi kalau ada pertanyaan mulai kapan bayi bisa didongengi, jawabannya adalah sejak indra pendengaran bayi mulai berfungsi di dalam kandungan.

Ibarat sebuah gelombang radio, dengan bercerita pada anak berarti orang tua mengirim sinyal pada buah hatinya. “Kalau dilakukan dengan ketulusan hati, ‘transmisinya’ jadi semakin kuat. Anak bisa merasakan meski belum memahami sepenuhnya,” tambahnya.

Di beberapa kesempatan, Andi Yudha selalu menekankan bahwa dongeng bisa mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan ketahanan mental anak. Ia lantas menguraikan manfaat yang bisa diperoleh dari aktivitas mendongeng pada bayi:

* mengaktifkan simpul saraf

Banyak penelitian membuktikan, cerita-cerita yang didengar anak sejak bayi dapat mengaktifkan simpul-simpul saraf di otaknya (myelin). Cara kerjanya sederhana saja kok. Seperti halnya senam otak, banyaknya informasi yang didapat anak dapat membuat otak si kecil menjadi lebih aktif. Ini pun berimbas pada perkembangan IQ-nya.

* merangsang indra

Dongeng yang disampaikan dapat merangsang indra bayi, terutama indra pendengaran dan penglihatan. Banyak pakar yang sependapat bahwa 5 tahun pertama dalam kehidupan anak merupakan masa emas atau masa sedang giat-giatnya anak menyerap berbagai hal yang didengar dan dilihat. Jadi, meski belum bisa memberikan respons yang berarti, semua cerita yang disampaikan orang tua akan ditangkap oleh indra pendengaran dan penglihatannya untuk kemudian direkam dalam memorinya. Kedua indra tersebut juga jadi terlatih menangkap sedemikian banyak informasi.

* perkembangan lebih cepat

Banyaknya informasi yang didapat oleh bayi bisa mengoptimalkan pertumbuhannya. “Jangan heran kalau bayi yang lebih sering mendengar cerita nantinya jadi lebih cepat tengkurap, merangkak dan sebagainya. Itu semua akibat perkembangan otaknya lebih optimal karena banyaknya rangsang yang diterima,” lanjut Andi Yudha.

Perkembangan kemampuan ini tidak berhenti sampai di usia bayi saja. Setelah anak tumbuh lebih besar pun banyak manfaat yang masih terasa apabila dongeng sering diperdengarkan pada bayi. “Paling tidak, karena perkembangan otaknya optimal, stimulus apa pun yang diajarkan padanya akan ditangkap lebih cepat.”

* lebih peka

Selain perkembangan kemampuan fisik dan intelektual, bayi-bayi yang sering mendengarkan orang tuanya bercerita diyakini akan tumbuh menjadi anak yang lebih peka. Seiring dengan pertambahan usianya, kepekaan ini akan mendukung sederet sikap positif lainnya, seperti rasa ingin tahu, percaya diri, sikap kritis, kemauan eksploratif, dan sebagainya. Dengan kata lain kecerdasan emosional, spiritual, dan ketahanan mentalnya kian terasah. Memang, tidak semua manfaat positif langsung terasa pada anak sejak bayi karena ada sifat-sifat yang mungkin baru terlihat setelah si anak tumbuh besar.

TAK HANYA MEMBACAKAN BUKU

Banyak yang beranggapan mendongeng untuk bayi hanya bisa dilakukan dengan cara membacakan buku cerita. “Padahal tidak hanya sebatas dengan membacakan buku,” tandas pendongeng yang baru berkeliling ke beberapa kota besar di Indonesia untuk mendongeng di Taman Kanak-Kanak.

Jadi, bagaimana lagi dong cara mendongeng untuk bayi?

1. Sambil beraktivitas

Momen-momen saat bayi makan, mandi, dipangku, ditimang, dan sebagainya bisa dimanfaatkan untuk mendongeng. “Jadi, tidak harus membacakan cerita sebelum tidur. Kalau harus selalu seperti itu sih, bisa-bisa orang tuanya yang tidur duluan,” kelakar Andi. Kendati begitu, boleh-boleh saja membacakan buku cerita tertentu untuk bayi, tapi tidak mutlak harus menggunakan cara tersebut.

2. Gunakan alat bantu

Gunakan alat bantu supaya dongeng menjadi menarik, selain memberi manfaat lebih untuk merangsang indra bayi. Misalnya dot susu yang sudah tidak terpakai diandaikan sebagai topi atau sepatunya sebagai rumah-rumahan. Demikian halnya dengan kapas, popok, botol sampo, dan sebagainya yang bisa dimanfaatkan sebagai pendukung cerita. Kelebatan benda-benda dengan warna yang berbeda-beda itu akan menarik perhatiannya sekaligus merangsang penglihatannya. Selain itu, biarkan si kecil memegang dan merasakan tekstur alat bantu dongeng tersebut yang amat bermanfaat untuk merangsang indra perabanya.

3. Mainkan intonasi suara

Intonasi suara yang berbeda-beda amat bermanfaat bagi indra pendengarannya. Selain itu intonasi yang berbeda-beda ini akan membuat cerita menjadi lebih menarik. “Coba bandingkan antara cerita yang dibacakan orang tua dengan suara datar sambil terkantuk-kantuk dengan cara bertutur yang amat hidup dan variatif. Ada suara tinggi untuk tokoh A, suara rendah untuk tokoh B, suara cempreng untuk tokoh C, dan sebagainya,” saran Andi Yudha.

4. Tambahkan gerakan

Gerakan pantomim sederhana juga bisa disisipkan saat mendongeng. Misalnya ketika bercerita tentang kuda melompat, orang tua dapat menyontohkannya dengan gerakan melompat disertai ekspresi muka yang mendukung. “Tak perlu belajar pantomim secara khusus. Cukup gerakan sederhana saja asal mendukung cerita,” lanjut Andi. Biarkan anak belajar berimajinasi sesuai dengan usianya. Bila si kecil sudah bisa membuat beberapa gerakan, tak ada salahnya memanfaatkan hal tersebut.

5. Libatkan perasaan

Seperti sudah disebutkan di atas, ketulusan orang tua bisa menjadi “transmisi” yang kuat untuk mengirim sinyal pada bayi. Ikatan batin bisa dibangun dari aktivitas tersebut. Begitu juga rasa sayang dan perhatian orang tua dapat terungkap di situ. “Banyak orang tua yang sekadar mengikuti teori untuk membacakan cerita pada bayinya meski sedang jengkel atau lelah. Jangan salah, bayi bisa merasakan itu semua lo,” kata Andi.

6. Semua hal bisa diceritakan

Ingat, tidak cuma cerita yang sarat dengan pesan moral yang bisa didongengkan pada si kecil. Kejadian sehari-hari yang paling sederhana pun bisa diceritakan. Misalnya saat mengganti popok, menyuapinya, mengajaknya jalan-jalan di taman kompleks dan sebagainya. “Untuk usia ini, cerita dengan pesan moral boleh saja sesekali diperdengarkan, tapi tidak tiap kali bercerita harus ada tokoh antagonis dan protagonisnya,” tukas Andi. Cerita yang mau didongengkan bisa disiapkan sebelumnya dengan menyontoh buku. Bisa juga spontan karena ada kejadian menarik saat itu. Intinya, banyak hal bisa dijadikan cerita untuk si kecil.

7. Batasi waktunya

Rentang perhatian dan konsentrasi bayi masih sangat terbatas. Itulah sebabnya, tidak disarankan untuk membacakan si kecil buku cerita yang tebal sampai selesai. “Cukuplah selama 2-5 menit sebagai permulaan,” sarannya. Meski waktunya singkat, tapi kalau frekuensinya sering, lebih terasa manfaatnya.

8. Kesabaran

Satu hal yang juga harus menyertai kegiatan mendongeng adalah kesabaran ekstra. Bagaimana tidak? Karena respons yang ditunjukkan bayi sering tidak terlihat. Berbeda dari anak yang usianya lebih besar, yang responsnya sudah lebih jelas, semisal senang, sebal, tertarik dan sebagainya.

Jadi, orang tualah yang harus jeli mengamati situasi, apakah bayinya sedang “enak” didongengi atau sebaliknya. “Cari kesempatan yang enak bagi orang tua maupun bayinya,” saran Andi pula.

JANGAN SALAH PILIH

Meski memberi sederet manfaat, ada beberapa hal yang mesti dicermati kala bercerita pada bayi. Yang pasti, orang tua harus pandai memilah-milah bahan cerita. Jauhkan cerita yang dapat berdampak negatif, seperti cerita tentang menjelek-jelekkan kelemahan orang lain. “Yang seperti ini ya tidak benar. Kalau yang diceritakan tidak pas, bisa-bisa malah mengganggu perkembangannya,” tukas pria yang pernah mengikuti pelatihan mengenai masalah anak-anak atas undangan ACCU-UNESCO, di Tokyo, Jepang ini.

Lalu, cerita apa lagi yang sebaiknya tidak didengar anak? “Antara lain, keluh kesah orang tua, baik mengenai keharmonisan rumah tangga maupun masalah finansial. Contohnya, ibu yang curhat pada bayinya mengenai sang mertua. Yang seperti ini jelas kurang bijaksana disamping tentu saja sama sekali tidak bermanfaat bagi anak,” tandasnya.

Selain itu orang tua harus menyadari bahwa di usia ini bayi begitu cepat menyerap semua informasi. Kalau sampai ada informasi yang keliru, bisa jadi efeknya tidak langsung terlihat saat itu juga, melainkan setelah si bayi tumbuh lebih besar. Runyam kan?

Pendidikan Antikorupsi Lewat Dongeng

Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia – Wujudkan Indonesia Bebas dari Korupsi

Opini:  FAISAL DJABBAR

pejabat korupsi harus mati

Saddam Husein, mantan presiden dan pemimpin besar Irak, terdidik dalam dongeng. Dalam buku Man and The City, yang ditulisnya sendiri, saddam bercerita betapa dirinya sangat terpengaruh cerita-cerita ibunya. Saddam menuturkan, dia kerap dipeluk ibunya sambil ibundanya bercerita tentang para leluhur. “Ibu saya mendongengkan cerita-cerita sambil membelai rambut saya”, tulis Saddam. Sejumlah pengamat menduga, dongeng-dongeng yang didengar Saddam banyak mempengaruhi kepribadiannya setelah dewasa. Saddam banyak terinspirasi oleh cerita dongeng sang ibunda.

Pengalaman serupa terjadi pada Hans Christian Andersen. H. C. Andersen, penulis cerita anak terkemuka abad 19, melalui autobiografinya, The True Story of My Life, menulis, “Setiap minggu ayahku membuat gambar-gambar dan menceritakan dongeng-dongeng”. Ibunya pun melakukan hal yang sama. Sang ibu mengenalkan dongeng-dongeng legenda rakyat. Kecemerlangan Andersen menyusun kisah dipengaruhi pengalaman batin masa kecil. Ketika dia menggambarkan dalam benaknya dongeng yang diceritakan orang tuanya.

Berdasar pengalaman dua tokoh besar tadi, kita barangkali bisa mengatakan bahwa dongeng ikut andil dalam pembentukan karakter anak. Karena itu, dongeng berfungsi sebagai media pendidikan nilai-nilai keluhuran. Menyebarkan pesan moral tanpa anak menyadari dirinya sedang disuntik nilai-nilai kebaikan.

Dongeng menjadi jalan mewujudkan kaidah dasar, bahwa penanaman nilai dapat dilakukan tanpa kesan memaksa dan menekan. Malahan dongeng dan kegiatan mendongeng membentuk benih-benih sikap positif. Sikap yang terus-menerus dibentuk hingga menjadi karakter anak setelah dia dewasa.

Harus diakui, dongeng punya pengaruh luar biasa. Anak-anak, target utama penceritaan dongeng, mudah terbujuk oleh cerita-cerita dongeng. Penelitian mengungkapkan bahwa dongeng bisa mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual anak. Dongeng sanggup mengembangkan moral; guna mengetahui perbuatan yang baik dan buruk.

Psikolog Ninok Widiantoro mengatakan, dongeng bisa menciptakan sisi kepekaan sang anak. Tokoh dan karakter yang diceritakan dalam dongeng akan selalu diingat oleh sang anak, apakah itu tokoh baik maupun tokoh jahat. Cerita dongeng juga dapat berpengaruh bagi kesembuhan anak yang sedang sakit, terutama dampak psikologisnya. Selain itu, dari berbagai cara untuk mendidik anak, dongeng merupakan cara paling ampuh dan efektif untuk memberikan sentuhan humanis dan sportifitas bagi anak. Dongeng berpengaruh pada cara berpikir, moral, dan tingkah laku.

Dongeng membentuk dan mengembangkan imajinasi anak. Hal ini selaras dengan hasil kajian Robert Fulghum. Pakar anak ini, dalam salah satu bukunya, pernah mengatakan bahwa imajinasi lebih kuat dari pengetahuan dan impian lebih kuat dari fakta. Fulghum bahkan menegaskan, menghadirkan dunia imajinasi sejak dini sangat bermanfaat bagi kesehatan anak.

Selain itu, dongeng berguna untuk memasukkan nilai dan etika secara halus kepada anak. Dongeng akan menanamkan sikap mental yang bersemangat dan tanggung jawab pada diri si anak. Pesan moral, ajaran pekerti, dan pendidikan karakter yang terkandung dalam dongeng akan memberikan keteladanan dan panutan bagi anak.(http://www.kpk.go.id/ 2009/2/16 10:49:57 – 1)

Atas dasar pemikiran seperti itu, rupanya dongeng sejalan dengan tujuan pendidikan antikorupsi.Yakni pembentukan manusia yang mempunyai pemahaman, sikap, dan perilaku yang anti terhadap korupsi. Terutama pendidikan antikorupsi kepada anak dini usia.

Nilai-Nilai Antikorupsi dalam Dongeng

Pendidikan antikorupsi adalah perpaduan pendidikan nilai dan karakter. Sebuah karakter yang dibangun di atas landasan kejujuran, integritas, dan keluhuran. Dalam kaitan itu, dongeng bisa menjadi sarana penanaman nilai-nilai antikorupsi. Pertanyaannya, nilai-nilai antikorupsi seperti apa yang selayaknya diberikan melalui dongeng?

Kita mengetahui, korupsi bisa timbul karena dua sebab. Sebab pertama, korupsi karena kebutuhan (corruption by need). Korupsi yang timbul ketika penghasilan tidak lagi bisa menanggung kebutuhan dasar sehari-hari. Jalan keluarnya biasanya dengan mengambil sikap menyimpang. Melakukan korupsi. Sebab kedua, korupsi karena keserakahan (corruption by greed). Tidak puas dengan satu gunung emas, cari gunung emas kedua dan ketiga. Sudah punya rumah, ingin motor. Sudah ada motor, mau mobil. Mobil terbeli, ingin mobil mewah.

Kedua jenis korupsi tersebut, korupsi karena kebutuhan maupun karena kerakusan, memang tak bisa ditolerir. Namun, penanganan keduanya mengharuskan cara berbeda. Korupsi karena kebutuhan timbul karena kondisi obyektif yang tidak mendukung. Karena sistem yang tidak memberikan harapan kesejahteraan. Oleh sebab itu, perbaikilah sistem.

Sementara, korupsi karena kerakusan disebabkan kondisi subyektif. Kondisi internal seseorang. Adanya sifat tamak, tidak puas, dan keinginan memperkaya diri sendiri. Korupsi yang dikerjakan oleh mereka yang nuraninya sudah buta. Ingin sejahtera tanpa mau kerja keras. Karenanya, untuk memberantas korupsi jenis ini, perbaikilah orangnya.

Korupsi karena tamak lebih bahaya ketimbang korupsi karena kebutuhan. Kerakusan, dusta, ketidakjujuran merupakan perilaku yang bisa terbentuk sejak kecil. Sejak masa kanak-kanak.

Perilaku ini adalah kumpulan dari apa yang dialami dalam proses hidup, mulai usia dini hingga dewasa. Teori psikologi kognitif menguatkan argumen ini. Menurut psikologi kognitif, apa yang kita dengar, lihat, pikirkan, rasakan, dan alami akan mempengaruhi cara pandang dan perilaku kita.

Singkatnya, perilaku kita merupakan resultante dari apa yang kita pikir, rasa, dan lakukan. Dengan demikian, apa yang kita lihat dan dengar semasa kecil juga akan membentuk karakter kita bila dewasa kelak.

Karena itu, nilai-nilai antikorupsi dalam dongeng adalah nilai-nilai yang mempromosikan kesederhanaan, kejujuran, dan daya juang. Selain itu, juga nilai-nilai yang mengajarkan kebersamaan, setiakawan, dan kedisiplinan.

Namun, tentu saja, tidak semua cerita dalam dongeng bisa berguna. Kita pasti ingat dongeng si kancil mencuri ketimun petani. Si kancil dikisahkan hewan yang cerdas, cerdik, dan lincah. Dengan kecerdikannya, si kancil mengelabui petani, untuk kemudian berhasil mencuri ketimun. Si kancil sulit tertangkap oleh petani. Suatu kali petani berhasil menangkap basah si kancil. Tetapi dengan kelihaiannya, kancil berkelit dari jerat hukuman.

Cerita kancil di atas mungkin saja telah meracuni pikiran anak. Anak mengira mencuri adalah sesuatu yang wajar. Anak memiliki anggapan bahwa kepintaran merupakan keunggulan seseorang yang bermanfaat untuk mencuri.

Karena itu, sesuai nilai antikorupsi yang ingin disebarkan, maka kita perlu cerita dongeng yang memuat figur-figur yang jujur, berani, kompetitif, dan bertanggungjawab. Bukan figur yang memakai kecerdikannya untuk memperdaya orang lain.

Dongeng dan mendongeng adalah salah satu bentuk pendidikan nilai, yang pada gilirannya mendukung upaya pendidikan antikorupsi. Sebuah pendidikan antikorupsi yang dimulai dari usia dini.

Pendidikan antikorupsi diharapkan membentuk karakter individu, hingga pada gilirannya akan membentuk karakter bangsa secara keseluruhan.

Faisal Djabbar

Fungsional Deputi Pencegahan Direktorat Pendidikan & Pelayanan Masyarakat KPK

Jangan Durhakai Anakmu!

Pernah suatu ketika ada seorang bapak yang mengeluh kepada Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab ra mengenai anaknya yang durhaka. Orang itu mengatakan bahwa putranya selalu berkata kasar kepadanya dan sering kali memukulnya. Maka, Umar pun memanggil anak itu dan memarahinya.

“Celaka engkau! Tidakkah engkau tahu bahwa durhaka kepada orangtua adalah dosa besar yang mengundang murka Allah? Bentak Umar.

“Tunggu dulu, wahai Amirul Mukminin. Jangan tergesa-gesa mengadiliku. Jikalau memang seorang ayah memiliki hak terhadap anaknya, bukankah si anak juga punya hak terhadap ayahnya?” Tanya si anak.

“Benar,” jawab Umar.

“Lantas, apa hak anak terhadap ayahnya tadi?” lanjut si Anak.

“Ada tiga,” jawab Umar. “Pertama, hendaklah ia memilih calon ibu yang baik untuk putreanya. Kedua, hendaklah ia menamainya dengan nama yang baik. Dan ketiga, hendaklah ia mengajarinya al-Quran.”

Maka, si Anak mengatakan, “Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku tidak pernah melakukan satu pun dari tiga hal tersebut. Ia tidak memilih calon ibu yang baik bagiku; ibuku adalah hamba sahaya jelek berkulit hitam yang dibelinya dari pasar seharga dua dirham, lalu malamnya ia gauli sehingga ia hamil mengandungku. Setelah aku lahir pun ayah menamaiku Ju’al,  dan ia tidak pernah mengajariku menghafal al-Quran walau seayat.”

Ju’al adalah sejenis kumbang yang selalu bergumul pada kotoran hewan. Bisa juga diartikan seorang yang berkulit hitam dan berparas jelek atau orang yang emosional. (Lihat Al-Qamus Al-Muhith, hal. 977).

“Pergi sana! Kaulah yang mendurhakainya sewaktu kecil, pantas kalau ia durhaka kepadamu sekarang,” bentak Umar kepada si Ayah. (Disadur dari kuthbah Syaikh Dr. Muhammad Al-Arifi, Mas’uliyatur Rajul fil Usrah. Lihat Ibunda Para Ulama, Sufyan bin Fuad Baswedan, hal. 11-12.)

Pembaca budiman, satu hal yang perlu kita renungkan dari kisah di atas adalah; cobalah untuk menengok diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain. Bisa jadi, ada sesuatu yang salah pada diri kita.

Piilihkan Calon Ibu yang Shalihah

Hendaklah setiap muslim memilihkan bagi anak-anaknya seorang ibu muslimah yang mengenal hak Rabbnya, hak suami dan hak anak. Hendaklah ia memilihkan ibu yang mengenal tugas hidupnya. Seorang ibu yang mengenal posisinya di dalam hidup ini. Seorang ibu yang memiliki rasa kecemburuan terhadap agama dan sunnah Nabinya -sholallahu ‘alaihi wasallam-.

Hal ini karena seorang ibu adalah madrasah yang akan meluluskan anak-anak Anda. Apabila ibu tersebut baik, maka ia akan menyusukan kebaikan dan ketakwaan. Namun bila ibu tersebut buruk, maka ia akan memberikan keburukan juga. Sebagai contoh nyata, Zubair bin ‘Awam. Ia merupakan hasil dari didikan ibundanya, Shafiyah binti Abdul Muththalib, sehingga ia pun tumbuh di atas tabiat dan budi pekertinya. Di kemudian hari, ia pun memilihkan calon ibu bagi anak-anaknya seorang wanita mulia, Asma binti Abu Bakar. Sehingga, ia pun melahirkan generasi orang-orang yang memiliki keagungan, Abdullah, Al-Mundzir dan ‘Urwah.

Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu ‘anhu- dididik oleh dua wanita mulia; di waktu kecil ia bersama ibunya, Fathimah binti Asad dan ketika menginjak remaja ia bersama Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- .

Abdullah bin Ja’far adalah penghulunya bangsa Arab yang paling dermawan sekaligus pemuda Arab yang cerdas. Ayahnya meninggal ketika ia masih kecil. Maka ibunya, Asma binti ‘Umais berusaha untuk membesarkannya. Ia adalah sosok ibu yang memiliki keutamaan dan kecerdasan yang luar biasa.

Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah adalah orang yang pandai dan cemerlang. Ia telah mewarisi dari ibunya, Hindun binti ‘Utbah sesuatu yang tidak ia warisi dari ayahnya, Abu Sufyan. Hindun berkata ketika anaknya, Mu’awiyah berada di dalam dekapannya, “Apabila Mu’awiyah hidup dalam umur panjang, maka ia akan memimpin kaumnya.” Ia juga bertutur, “Celakalah kaumnya apabila tidak dipimpin seseorang dari kaumnya.” Kelak, bila Mu’awiyah -radhiyallahu ‘anhu- memiliki kebanggaan dengan kemampuan dan keahliannya dalam berpendapat, maka ia selalu menisbatkannya kepada ibunya sehingga akan mengetarkan pendengaran musuh-musuhnya, seraya berkata, “Saya adalah anak dari Hindun.”

Abu Hafsh Umar bin Abdul Aziz termasuk raja yang paling menakjubkan, adil dan mulia. Ibunya, Ummu ‘Ashim binti ‘Ashim bin Umar bin Khaththab. Ia adalah orang yang paling sempurna di zamannya dan yang paling mulia. Ibunya adalah seorang wanita yang dinikahkah oleh Umar dengan anaknya, ‘Ashim. Tidak ada yang dibanggakan darinya baik dari segi harta maupun nasab kecuali perkataannya yang jujur ketika menesehati ibunya. Dialah yang menurunkan akhlak kakeknya Al-Faruq kepada Umar bin Abdul Aziz.

Pilihkan Nama yang Terbaik

Hendaklah seorang muslim memilih nama-nama yang terbaik dan terindah sebagai bentuk pelaksanaan atas apa yang telah ditunjukkan dan dianjurkan oleh Nabi -sholallahu ‘alaihi wasallam-. Dari Abu Darda’ -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata : Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

إِنَّكُم تُدْعَونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُم وَأَسْمَاءِ آبَائِكُم فأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُم

“Sesungguhnya kalian akan dipanggil di hari Kiamat dengan nama-nama anak kalian dan dengan nama ayah-ayah kalian. Maka perbaguslah nama kalian.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad hasan)
Dari Ibnu Umar -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata : Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى اللّهِ عَبْدُ اللّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَـنِ

“Sesungguhnya nama-nama kalian yang paling disukai oleh Allah Azza wa Jalla adalah Abdullah dan Abdurrahman.”  (Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya).

Ajarkan al-Quran kepada Anak

Dalam al-Quran terkandung sejumlah Tarbiyah Imaniyah. Yang dimaksud Tarbiyah Imaniyah adalah mengikat si kecil sejak ketergantungannya kepada pilar-pilar keimanan, membiasakannya sejak ia memahami rukun-rukun Islam, serta mengajarkannya pokok-pokok syariat Islam yang mulia semenjak masa tamyiz (mampu membedakan mana yang hak dan mana yang bathil)

Mengajarkannya pilar-pilar keimanan, seperti; iman kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan iman kepada para Rasul-Nya, mengimani adanya pertanyaan dua malaikat, adzab dan nikmat kubur, pembangkitan, surga dan neraka dan semua perkara-perkara yang ghaib.
Mengajarkan rukun-rukun Islam, seperti; shalat, puasa, zakat dan haji. Mengajarkannya dasar-dasar syariat Islam, seperti; peradilan Islam, hukum-hukum Islam, undang-undang dan peraturan dalam Islam.

Dari sinilah akan lahir beberapa hal, di antaranya:

Pertama, Hubbullah (cinta kepada Allah ta’ala). Yaitu dengan menunjukkan nikmat-nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya kepada si kecil. Misalnya, bila si ayah duduk-duduk bersama si kecil ketika sedang makan seraya mengatakan kepadanya: ‘Nak, tahukah engkau siapakah yang telah memberikan makanan ini kepada kita?’

Si kecil akan menjawab: ‘Siapakah wahai ayah?’

Si ayah bertutur: ‘Allah’.

Si kecil balik bertanya: ‘Terus, bagaimana ayah?’

Maka si ayah menjelaskan: ‘Nak, karena Allah yang telah memberi rizqi kepada kita dan kepada semua manusia, maka bukankah Ilah ini yang berhak engkau cintai?’
Si kecil akan menjawab: ‘Tentu, ayah’

Seandainya si kecil sedang sakit, maka orangtua akan membiasakannya untuk selalu berdoa, seraya berkata: ‘Nak berdoalah kepada Allah semoga menyembuhkanmu, sebab Dia-lah yang memiliki penyembuhan’, lalu mendatangkan seorang dokter dan mengatakan: ‘Dokter ini hanya sekedar perantara saja, namun kesembuhan hanya datang dari Allah’. Apabila Dia mentaqdirkan kesembuhan bagi si kecil, maka orantg tua mengatakan: ‘Nak, bersyukurlah kepada Allah’, lalu menjelaskan kepadanya nikmat-nikmat Allah, sehingga si kecil akan mencintai-Nya, sebab Dia-lah yang telah mengaruniakan kesembuhan baginya.

Demikian seterusnya dalam setiap kesempatan dan dalam setiap mendapatkan kenikmatan hendaklah engkau selalu mengaitkannya kepada Yang Memberi nikmat, sehingga dalam hati si kecil tertanam  rasa cinta kepada Allah.

Kedua, Hubburrasul (cinta kepada Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- ). Yaitu dengan mengajarkan kepada si kecil sikap-sikap Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- , keberanian, konsisten, kelemah lembutan, kemurahan, kesabaran dan keihklasan beliau. Dengan hal ini, seorang anak akan mencintai Nabinya -sholallahu ‘alaihi wasallam- .

Ketiga, Muraqabatullah (menumbuhkan sifat merasa terus diawasi oleh Allah Tabaaraka wa ta’ala). Yaitu dengan mengajarkan kepada si kecil bahwa Allah selalu mengetahui dirinya dalam setiap gerakan dan diamnya, sehingga si kecil akan merasa terus diawasi oleh Allah, takut kepada Allah dan ikhlas dalam setiap amalannya hanya mencari keridhaan Allah.

Keempat, Mengajarkan kepada si kecil hukum-hukum halal dan haram. Hendaklah orangtua menjelaskan kepada si kecil tentang hal-hal yang haram sehingga ia bisa menjauhinya, hal-hal yang halal dan mubah agar ia bisa melakukannya serta menjelaskan adab-adan islami supaya ia bisa melaksanakannya.

Semoga kita senantiasa dibimbing oleh Allah agar mampu memenuhi hakhak anak, sehingga kita tidak sampai menzhaliminya, apalagi menyandang gelar orangtua yang durhaka kepada anaknya. *

Abu Hudzaifah, Lc. Penulis seorang penerjemah dan penulis buku-buku islami