Membanggakan Diri

Pertama, pengertian I’jaab bin Nafsi mengandung beberapa arti. Antara lain: “Rasa senang, tertarik, atau kagum.”A’jabahul-amruartinya “sesuatu itu telah menjadikannya senang”, u’jiba bihi, artinya, “ia menjadi terikat dengannya”. (Kitab lisanul-Arab, 1/185)

Allah SWT berfirman:

وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ

Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. (QS. al-Baqarah [2] : 221)

قُل لَّا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ

Katakanlah, “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu.” (QS. al-Maidah [5] : 100)

كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ

Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. (QS. al-Hadiid [57] : 20)

Kedua, kemegahan, kemuliaan, dan kebesaran. A’jabahul-amru, artinya ‘merasa megah’, ‘mulia’, atau ‘besar dengan sesuatu’. Seorang mu’jib berarti ‘orang yang merasa megah, agung dan besar’ ketika ia memiliki sesuatu, baik kebaikan atau keburukan. (Kitab lisanul-Arab,1/185)

Allah Ta’ala berfirman:

وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئًا

Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.(QS. at-Taubah [9] : 25)

Menurut istilah dalam dakwah, I’jaab bin-nafsi yaitu ‘rasa senang dan bahagia, baik pada diri pribadi, kata-kata, ataupun perbuatan yang dilakukannya, tanpa memperhitungkan orang lain’. Sama saja, baik kesenangan itu karena suatu kebaikan atau keburukan, yang terpuji atau tercela. Jika dalam rasa senangnya itu disertai sikap mengejek atau merendahkan perbuatan orang lain, maka hal tersebut disebut ghuruur atau sangat ‘ujub’. Dan bila rasa senangnya disertai dengan merendahkan pribadi orang lain, maka hal itu dinamakan takabbur atau sangat ‘ujub’ sekali. (Mukhtashar Minhaj al-Qashidiin, hal 247-248)

Faktor-Faktor Penyebab I’jaab Bin-Nafsi

Seseorang yang terbiasa hidup di bawah asuhan orang tua yang memiliki suka dipuji, disegani —baik dalam hal kebaikan atau kebathilan, kekbal terhadap nasihat atau kritik, dan hal-hal lain yang termasuk dalam kategori I’jaab bin-nafsi—berpeluang besar terkena penyakit itu, kecuali bagi mereka yang mendapat rahmat Allah.

Oleh karena itu, Islam memberikan penegasan akan keharusan para orang tua untuk selalu berpegang teguh dengan manhaj (aturan Allah) —sebagaimana yang telah saya kemukakan ketika membahas bahaya israaf— karena hanya hal itu sajarah yang dapat memelihara mereka dari segala bentuk penyimpangan serta dapat menjadi suri teladan bagi seluruh anggota keluarganya.

Sanjungan dan Pujian

Ada sebagian orang yang senantiasa memperoleh pujian atau sanjungan secara langsung yang tidak memperhatikan adab memuji yang diajarkan oleh Islam, ia akhirnya tergila-gila dan mabuk kepayang karenanya. Lalu, ia beranggapan bahwa sanjungan dan pujian itu karena kelebihan dan kehebatan yang dimilikinya yang tidak dimiliki orang lain. Cetusan hati ini akan terus-menerus menari-nari dalam jiwanya sampai akhirnya ia tertimpa i’jaab bin-nafsi(membanggakan diri). Semoga Allah melindungi kita hal tersebut.

Barangkali inilah sebabnya Rasulullah shallahu alaihi wassalam mencela sanjungan dan pujian di hadapan orang yang dipuji, tetapi harus memperhatikan adab-adab yang beliau ajarkan. Mujahid bin Abi Mu’ammar meriwayatkan bahwa suatu hari pernah ada seseorang yang memuji seorang pemimpin. Kemudian Miqdad ibnul-Aswad menaburkan tanah ke mukanya, kemudian berkata:

“Rasulullah memerintahkan kami untuk menaburkan tanah kemuka orang yang suka memuji”. (HR. Muslim)

Abdul Rahman bin Abi Bakrah meriwyatkan dari ayahnya bahwa pernah seseorang memuji orang lain di dekat Rasulullah shallahu alaihi wassalam. Melihat hal itu lalu beliau bersabda, “Celakalah bagimu, kamu telah memotong leher saudaramu”. Rasulullah saw mengatakannya dengan berulang kali, kemudian bersabda lagi,”Jika salah seorang dari kalian harus memuji kawannya, maka hendaklah berkata, ‘Aku mengira fulan, dan hanya Allah yang berhak menilai, dan tidak sepatutnya seseorang menyucikan sesuatu mendahului penilaian Allah, aku mengira dia itu -jika telah mengetahuinya- begitu dan begini’.”(HR Bukhari dan Muslim)

Berteman Dengan Orang yang Ujub

Sebagaimana kita ketahui, seseorang akan sangat dipengaruhi oleh kawannya, apalagi jika kawan itu memiliki kharisma pribadi yang kuat, keahlian, dan pengalaman dalam kehidupan. Ia akan terpengaruh oleh semua yang diungkapkan kepadanya. Maka jika kawannya menderita penyakit ‘ujub’, maka dengan mudah ia juga akan dijangkiti penyakit yang sama.

Terlena Kenikmatan dan Melupakan Allah

Segolongan aktivis dakwah ada yang telah dianugerahi nikmat oleh Allah, baik berupa harta, ilmu, kemampuan, kedudukan, dan sebagainya. Kemudian ia terlena oleh nikmat itu, dan melupakan Allah yang memberi nikmat itu. Di bawah pengaruh kenikmatan itu, akhirnya ia berbisik di dalam hatinya bahwa yang memperoleh nikmat seperti ia hanyalah orng-orang yang memiliki kemampuan dan kelebihan. Seperti diungkapkan Qur’an:

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي ۚ

“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.”(QS. al-Qashas [28] : 78)

Bisikan seperti itu terus-menerus akan menguasai hatinya, sehingga mengira dirinya dan apa yang dilakukan, sekalipun ia melakukan kebathilan, itu i’jaab bin-nafsiWallahu’alam.

 

Dampak Buruk Akibat Membanggakan Diri

I. Terhadap Pribadi Aktivis.

Dampak buruk akibat membanggakan diri, di mana para aktivis dapat terjerat dalam perangkap: sikap angkuh, bahkan sombong.

Inilah pengaruh pertama yang timbul akibat I’jaab bin Nafsi. Ini karena acapkali seorang yang membanggakan diri akan menjurus kepada sikap peremehan akan jiwanya, yakni menghilangkan porsi jiwa untuk introspeksi atau ber-muhasabah.

Keadaan seperti itu semakin lama akan semakin menambah akutnya penyakit, sampai merembet kepada sikap mencela dan mengecilkan perbuatan orang lain. Itulah yang dinamakan angkuh (ghuruur). Atau bisa jadi penyakitnya terus meningkat kepada sikap merasa lebih tinggi dari orang lain, sambil mencela pribadi-pribadi mereka. Itulah yang dinamakan sombong (takabbur). Baik ghuruur maupun takabbur mempunyai dampak yang membahayakan, dan akibatnya akan membinasakan.

Terhalang Dari Restu Allah

Orang yang membanggakan diri umumnya akan selalu mengandalkan dan bertumpu pada pribadinya dalam setiap masalah. Ia lupa atau melupakan Penciptanya, Yang Mengatur semua urusannya, dan Yang Menganugerahkan semua nikmat kepadanya, lahir dan bathin. Keadaan semacam itu akan menjadikan dirinya tidak dihiraukan dan tidak ditolong oleh Allah dalam setiap sepak terjangnya. Sesungguhnya telah menjadi ketentuan Allah SWT terhadap makhluk-Nya, yakni Dia tidak akan memberi pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang sombong lagi membanggakan diri. Allah hanya akan memberikan pertolongan kepada mereka yang tidak menyombongkan diri dan menghilangkan campur tangan setan dalam dirinya serta yang sepenuhnya berlindung kepada-Nya semata.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَن

“Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami”. (QS. Al-Ankabut [29] : 69)

Dalam hadist qudsi Allah SWT berfirman :

“…Sesungguhnya hamba akan terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan melaksanakan ibadah sunnah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya, Aku akan menjadi tangannya yang ia memegang dengannya, Aku akan menjadi kakinya yang ia berjalan dengannya. Dan jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, akan Aku kabulkan permohonnya, dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, maka Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari)

Gugur Saat Menghadapi Ujian atau Kesulitan

Orang yang pongah biasanya tidak menaruh perhatian terhadap masalah tazkiyah (kebersihan jiwa) dan masalah perbekalan yang harus dipersiapkan dalam menempuh sesuatu perjuangan. Manusia seperti itu pasti akan mudah gugur dan menjadi lemah ketika menghadapi ujian atau kesulitan. karena ia tidak mengingat Allah ketika dalam ketenteraman, maka Allah pun tidak menginatnhya pula pada waktu ia tengah menghadapi kesulitan. Maha benar Allah SWT yang berfirman-Nya:

إِنَّ اللّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ ﴿١٢٨﴾

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. An-Nahl [16] : 128)

Firman-Nya yang lain :

وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“…Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut [29] : 69)

Tepat pula apa yang pernah disabdakan oleh Nabi SAW ketika beliau memberi nasihat kepada Ibnu Abbas ra lewat sabdanya :

“…Peliharalah hak-hak Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya sebagai pendukungmu. Ingatlah Allah ketika engkau dalam keadaan lapang, niscaya Ia akan mengingatmu di kala engkau tengah menghadapi kesulitan.” (HR. Ahmad)

Dijauhi dan Dibenci Manusia

Orang yang berlaku ‘ujub’ pada hakikatnyamengundang kemurkaan Allah. Maka barangsiapa yang dimurkai Allah, niscahya akan dimurkai pula oleh penghuni langit, hyang selanjutnya akan merembet kepada kemurkaan penduduk bumi. Kita akan menyaksikan orang yang ‘ujub’ itu ditinggalkan dan dibenci manusia. Mereka tidak mau melihat ataupun mendengarkan perkataannya. Sebagaimana diriwayatkan oelh Bukhari dan Muslim dalam salah satu hadist, Rasulullah SAW berkata:

“Sesungguhnya Allah SWT jika mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berkata: ‘Sesungguhnya Aku mencintai fulan, maka cintailah dia’. Maka penghuni langit pun akan mencintainya. Kemudian dia diterima dengan baik oleh penduduk bumi. Sebaliknya, jika Allah murka terhdap seorang hamba, maka Ia memanggil Jibril, dan berkata, ‘Sesungguhnya Aku membenci fulan, maka bencilah dia’. Kemudian Jibril membencinya dan berseru kepada penguhi langit agar membecinya. Kemudian malaikat membencinya. Kemudian diletakkan kebencian kepada penduduk bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mendapat Hukuman dan Pembalasan Allah, Cepat atau Lambat.

Sikap ‘ujub’ juga mengakibatkan hukuman dan pembalasan Allah, cepat atau lambat. Selama hidup di dunia mungkin ia akan ditimpa azab yang pedih sebagaimana azab yang telah menimpa umat-umat sebelumnya, atau paling tidak, ia akan menderita kegelisahan, dilanda perpecahan, dan keresahan jiwa, sebagaimana dialami umat masa kini. Rasulullah Shallahu alaihi was sallam bersabda:

“Ketika seorang berjalan dengan pongah dan bangga terhadap dirinya, maka Allah akan membenamkannya ke dalam tanah, dan ia akan meronta-ronta sampai datangnya hari kiamat.”(HR. Bukhari dan Muslim)

II. Terhadap Amal Islami.

Lebih Mudah Dicabik-cabik dan Selanjutnya Dihancurkan

Sikap ‘ujub’ juga tidak akan mampu menghasilkan manfaat apapun kecuali setelah melalui beban yang banyak dan memakan waktu yang lama. Hal seperti itu berlaku pula dalam konteks mengarungi amaliyah dakwah. Banyak terjadi, suatu gerakan dakwah yang akhirnya kandas atau tidak mampu membuahkan hasil yang baik kendati telah banyak mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran gara-gara para aktivisnya banyak yang bersikap ‘ujub’ tatkala menghadapi ujian dan kesulitan. Hal ini dapat kita pahami, karena pada umumnya, orang yang bersikap ‘ujub’ akan tumpul ketajaman bashirah-nya (mata-hatinya).

Menjadikan Masyarakat Antipati Terhadap Harakahnya

Sudah merupakan hal yang lumrah jika banyak manusia yang menjauh, bersikap antipati, bahkan akan akan membenci kala melihat orang-orang yang berperilaku ‘ujub’. Jadi, jika dalam diri para aktivis harakah banyak yang berperangai ‘ujub’, maka sudah dapat dipastikan amal Islami yang tengah diupayakan oleh harakah tersebut tidak akan mendapat tempt di hati masyarakat luas.

Dengan demikian, tujuan yang hendak mereka raihpun akan semakin sulit dan berat untuk direalisasikan. Itulah dua hal terpenting dari dampak buruk perilaku ‘ujub’ terhadap harakah Islamiyah. Wallahu’alam.

 

Fenomena dan Cara Mengatasi Membanggakan Diri

Pertama, menganggap diri suci.

Fenoma pertama dari sikap i’jaab bin-nafsi yakni jika orang selalu menganggap suci atau merasa memiliki harkat dan kedudukan yang tinggi. Orang-orang semacam itu seakan berpura-pura lupa terhadap firman Allah yang menyebutkan, ” .. Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah Yang Maha Mengetahui tentang orang yang bertaqwa”. (QS : an-Najm : 32)

Kedua, sulit menerima nasihat.

Fenomena kedua, jika orang sulit menerima nasihat dari orang lain atau senantiasa menghindari nasihat. Padahal, Rasulullah pernah mengatakan bahwasanya tidak ada kebaikan sedikitpun pada suatu kaum jika mereka tidak saling menasihati dan enggan menerima nasihat.

Ketiga, senang mendengarkan cacat dan aib orang lain.

Fudhail bin Iyadh rahimamullah berkata : “Sesungguhnya di antara ciri-ciri orang munafik ialah mereka senang mendengarkan aib salah seorang temannya”. (Kitab al-Awaa-iq)

Kiat dan Cara Mengatasi I’jaab Bin-Nafsi

Dengan mengetahui berbagai sebab yang mendorong sikap ‘ujub tentunya kita akan lebih mudah mencari cara untuk mengatasi dan mencabut akar penyakit ini. Berikut akan saya bentangkan beberapa kiat dan caranya.

Pertama, selalu mengingat hakikat jiwa manusia.

Orang-orang yang membanggakan diri seharusnya berusaha memahami bahwa jika bukan karena uluran rahmat Allah, sesungguhnya mereka itu tidak akan pernah menjad apa-apa. Mereka seharusnya ingat bahwa dirinya diciptakan dari tanah yang diinjak-injak oleh kaki, kemudian dari air mani, yang tabu untuk dilihat. Kemudian setelah meninggal dunia mereka akan dikembalikan lagi ke tanah menjadi sosok mayat yang busuk yang akan dijauhi oleh manusia-manusia yang masih hidup. JIka mampu merenungkan kenyataan itu dengan sebaik-baiknya, insya Allah akan mampu menolak kehadiran ‘ujub’ dalam hati kita.

Kedua, sesungguhnya nikmat dan karunia yang telah diberikan oleh Allah, baik terhadap manusia maupun terhadap makhluk-makhluk-Nya yang lain, sangatlah banyak.Sebagaimana firman-Nya : ” .. Dan jika kalian hitung nikmat-nikmat Allah, niscaya tidak akan mampu menghitungnya ..” (QS : Ibrahim :34). Dengan senantiasa merenungkan kenyataan tersebut kita akan selalu merasa lemah faqiir ((sangat membutuhkan) kemurahan Allah serta akan dapat menyucikan sekaligus membentengi rohani kita dair penyakit ‘ujub ini.

Ketiga, men-tafakur-i datangnya kematian dan perjalanan setelahnya.

Dengan senantiasa men-tafakur-i bahwasayanya setiap makhluk hidup yang ada di dunia ini mau tida mau akan menghadapi kematian sert perjalanan sesudahnya kematian tersebut, maka akan dapat mencabut akar sikap ‘ujub dari dalam jiwa kita.

Keempat, senantiasa mengingat hakikat kehidupan dunia.

Orang yang ‘ujub seharusnya menyadari bahwasanya kehidupan dunia ini diciptakan oleh Allah sebagai ladang akhirat bagi dirinya dan masa bagi dia untuk menempatinya sangatlah pendek, atau singkat saja. Sebaliknya, akhirat itu kekal, dan disanalah dia akan menetap untuk selama-lamanya. Jika terus-menerus direnungi atau di tafakur-i, kenyataan tersebut juga akan dapat menangkal kehadiran ‘ujub di dalam hati kita sekaligus akan memicu semangat kita dalam melakukan pengabdian kepada-Nya.

Kelima, mengkaji ayat-ayat Ilahi serta Sunnah Rasulullah.

Di dalam kedua sumber ajaran Islam tersebut terkandung penjelasan, keterangan, sekaligus tuntunan yang jelas dan tuntas mengenai bagaimana seharusnya akita berperilaku, sekaligus menangkal dan mengobati aneka penyakit hati yang kerap menggerogoti rohani kita, termasukdalam hal mengobati an menangkal penyakit ‘ujub ini.

Keenam, menghadiri majelis ilmu

Dengan senantiasa menghadiri majelis-majelis ilmu, khususnyayang tema-temanyabanyak membahas masalah penyakit-penyakit hati dan cara mengatasinya, akan dapat membantu kita dalam membersihkan hati dan menjaganya dari terserang penyakit ‘ujub.

Ketujuh, menjenguk mereka yang tengah menghadapi sakaratul maut serta ziaarah kubur.

Menjenguk orng-orang yang tengah menderita sakit, terlebih yang tengah menghadapi proses sakaratul maut, kemudian menyaksikan serta men-takafur-i bagaimana mereka akhirnya dimandikan, dibungkus kafan, dan dikubur, akan memberikan terapi yang cukup ampuh terhadap prilaku ‘ujub ini. Begitu pula dengan sering melakukan ziarah kubur akan menggerakkan kedalaman hati seseorang dan mendukungnya untuk tiadk berlaku ‘ujub atau penyakit-penyakit rohani.

Kedelapan, mencontoh kehidupan para ulama salaf.

Kita harus senantiasa mencontoh kehidupan para ulama salaf, khususnya cara-cara yang mereka lakukan untuk mengatasi sikap ‘ujub yang muncul pada dirinya. Dengan mengetahui contoh-contoh dari mereka akan membawa kita kepada keinginan untuk meneladani dan ber-qudwah kepadanya. Atau paling tida berpaya untuk menyerupai dan meniru mereka dalam mencabut akar penyakit kita ini, serta menutup semua celah yang dapat menerumuskan diri ke dalam sikap ‘ujub.

Kesembilan, berlatih menolaknya.

Kita harus senantiasa berlatih menolak atau membunuh sikap perilaku ‘ujub yang kerap bersemayam dalam diri kita, kemudian meletakkannya pada tempat yang benar.Misalnya, dengan memaksakan diri untuk senantiasa berusaha menolong kawan yang tengah dilanda kesusahan atau orang-orang yang tengah didera penderitaan, seperti yang banyak digambarkan dalam kehidupan para ulama salaf.

Diriwayatkan bahwa saat Khalifa Umar ibn Khattab ra melakukan perjalanan ke negeri Syam, beliau harus melintasi sebuah sungai. Beliau kemudian turun dari keledainya dan melepas kedua sandalnya, lalu dipegangnya. Setelah itu beliau pun segera turun ke dalam sungai bersama keledainya. Melihat pemandangan seperti itu Abu Ubaidah berkata kepadanya, “Engkau telah berbuat sesuatu yang mengejutkan penduduk negeri ini, wahai Khalifah”. Mendengar ucapan Abu Ubaidah seperti itu Khalifah Umar mengusap dadanya sambil berkata : “Kalau saja bukan engkau yang mengatakan hal itu, wahai Abu Ubaidah ..!” Beliau terdiam sejenak lalu berkata lagi, “Sungguh engkau dahulu adalah manusia yang paling tercela, kemudian memuliakanmu dengan Rasul-Nya . Jika engkau ingin mencari kemuliaan dari selain keduanya (Allah dan Rasul), maka niscaya Allah akan menghinakanmu kembali”.

Kesepuluh, senantiasa bermuhasabah, sebelum mengerjakan sesuatu.

Dengan mendahulukan muhasabah atau melakukan introspeksi dan pertimbangan sebelum melakukan segala sesuatu, khususnya terhadap kemungkinan terjadinya ‘ujub, akan dapat mengantisipasi serta meminimalkan berkembangnya penyakit ini serta akan mempermudah proses penyembuhan pernyakit rohani ini. Wallahu’alam.

Menyukai Seseorang Hanya Karena Allah

Pengertian “seseorang” dalam hadist ini menurut pendapat para ulama ditujukan kepada seorang muslim, karena sesungguhnya kita dianjurkan untuk mengambil teman setia orang-orang yang berasal dari kalangan muslim secara keseluruhan. Tetapi, sudah barang tentu hubungan dan kecintaan ini diletakkan dalam porsi yang berbeda-beda, karena harus disesuaikan dengan tingkat ketaatan dan kedekatan yang bersangkutan dengan Allah Ta’ala. Barangsiapa di antara mereka (kalangan kaum muslimin) yang lebih banyak durhakanya, berarti kita harus lebih membencinya dan lebih menjauhinya. Barangsiapa yang lebih banyak ketaatannya kepada Allah Ta’ala, berarti kita harus lebih mencintainya dan lebih mendekat kepadanya. Tetapi, Anda akan menjumpai sebagian orang, apabila ada orang lain yang datang kepadanya dengan penampilan yang hina, ia langsung mendiamkannya dengan sejadi-jadinya dan mengiranya sebagai orang fasiq serta mencurigainya dengan hal yang bukan-bukan. Sikap seperti ini menunjukkan keminiman pengetahuan agama yang bersangkutan. Padahal, kita diperintahkan untuk bersikap pertengahan dan adil adlam segala sesuatu.

Allah Ta’ala berfirman: وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) yang adil dan pilihan.

” (QS. Al-Baqarah [2] : 143) وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا

“Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah [2] : 269)

Hikmah yang diambil dari pengertian diatas menganjurkan kepada kita untuk meletakkan segala sesuatu pada tempatnya masing-masing. Termasuk sikap bijak ialah bila Anda orang-orang shalih, maka banyak hadist yang mengetengahkan bab ini, antara lain yang terdapat dalam Kitab Shahih Muslim. Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersabda : “Allah Ta’ala berseru pada hari Kiamat: ‘Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku, pada hari ini Aku akan menaungi mereka di bawah naungan-Ku pada hari yang tiada naungan, kecuali hanya naungan-Ku’.” (HR. Muslim) Dalam sebuah hadist shahih lainnya disebutkan bahwa di antara tujuh macam orang yang mendapat naungan dari Allah pada hari tiada naungan kecuali hanya naungan-Nya ialah: “Dan orang lelaki yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu karena Allah, dan berpisah karena Allah pula.” (HR. Bukhari) Ibnu Umar ra telah mengatakan, “Demi Allah. Seandainya aku puasa (sunnah) pada siang hari tanpa pernah berbuka, melakukan qiyam malam hari tanpa tidur, dan membelanjakan hartak sebanyak-banyaknya di jalan Allah, tetapi kemudian aku tidak menyukai orang-orang yang taat dan tidak membenci orang-orang tukang maksiat, tentulah aku khawatir bila Allah akan menjungkalkan diriku dengan muka di bawah ke dalam neraka.” Demikian itu, karena agama Islam ini adalah agama saling menyukai dan agama yang bersih, bukan agama kepalsuan. Oleh karena itu, kita lihat ada sebagian orang yang mengerjakan shalalt, puasa, haji, dan umrah, meskipun demikian mereka terhina, karena mereka menyukai dan bertemuan setia dengan orang-orang yang menyukai kerusakan dan kemungkaran. Hal yang diwajibkan bagi seorang muslim ialah hendaknya tidak menyukai kecuali orang yang bertaqwa dan tidak membenci seseorang kecuali orang yang durhaka, meskipun dia adalah saudara sendiri, ayah, atau ibunya. Karena Rasulullah shallahu alaihi wassalam bersabda: “Seseorang itu akan mengikuti tuntunan teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud) Hanya ahli agamalah yang layak untuk dijadikan teman dalam kehidupan ini, karena ahli agama sebagaimana yang diungkapkan oleh Al-Hasan Al-Basri akan senantiasa memelihara kehormatan anda, baik ketika Anda ada maupun sewaktu Anda tidak ada. Diwajibkan bagi seorang muslim ialah sebagaimana yang telah saya katakan sejak semua, hendaknyalah dia mencintai orang-orang yang shalih dan mendekati mereka serta tidask membenci mereka. Membenci mereka sama artinya dengan menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan. Imam Syafi’i rahimatullah mengatakan, “Kucintai orang-orang shalih, meksipun aku bukan termasuk dari mereka dengan harapan mudah-mudahan aku beroleh syafa’at (dari Allah) berkat mereka. Dan kubenci orang yang pekerjaannya maksiat, meskipun kita sama dalam hal pekerjaan”. Maka muridnya Imam Ahmad, dalam pujiannya kepada gurunya mengatakan, “Engkau menyukai orang-orang yang shalih, karena engkau adalah seseorang dari mereka, hanya berkat kalianlah kami beroleh syafa’at.” Imam Ahmad mengatakan demikian karena Imam Syafi’i termasuk keluarga Rasulullah Shallahu alaihi wassalam (dari kalangan Bani Hasyim). Diantara atsar yang dinukil dari Al-Hasan Ibnu Ali Ibnu Abu Thalib, penghulu para pemuda ahli surga, menyebutkan bahwa dia suka duduk bersama dengan orang-orang miskin, dan tidak mau makan kecuali bersama dengan mereka, sehingga sikapnya itu menjadi bahan pergunjingan orang-orang. Ia menjawab, “Aku telah mendengar bahwa Allah Ta’ala pernah mewahyukan kepada Dawud alaihis salam, ‘Hai Dawud, Aku melihatmu suka duduk bersama dengan orang-orang kalangan atas. Jika engkau tidak ingin tersentuh oleh adzab-Ku, maka duduklah bersama dengan orang-orang miskin, makanlah bersama mereka, dan minumlah bersama dengan mereka’.” Wallahu’alam.

(RALAT) FESTIVAL CERITA ISLAMI II

Sayembara DongengBismillahirrahmanirrahim,

Dalam rangka menyambut Silaturrahim Nasional PERSAUDARAAN PENDONGENG MUSLIM INDONESIA I, Insyaallah KOTA DONGENG JOGJAKARTA akan menyelenggarakan

LOMBA CERITA ISLAMI II

TINGKAT NASIONAL

Hari-Tanggal :  Ahad 20 November Oktober 2011
Lokasi : Taman Pintar Kota Jogjaarta
Waktu : jam 09.00 sd Selesai
Tema : “Anak Indonesia Tangguh Beriman”
Judul : Menyesuaikan tema
Durasi : 7 Menit
Teknis : Boleh menggunakan alat peraga

Kategori :

1. Dewasa Putra

2. Dewasa Putri

3. Anak-anak(SD-SMP)

Kriteria Penilaian:

1. Bobot Cerita

2. Rethorika Bercerita

3. Kreativitas

Hadiah :
Juara I Trophy, sertifikat dan Uang Rp 1.500.000
Juara II Trophy, sertifikat dan Uang Rp 1.250.000
Juara III Trophy, sertifikat dan uang Rp 1.000.000

Pendaftaran :
1. Kota Dongeng Production
Jl Cungkuk Raya 189 RT 07/09 Ngestiharjao Kasihan Bantul 55182
2. Yayasan SPA Jogjakarta, JL affandi/Gejayan CT X/14A Pelemkecut Depok Sleman 55281
3. email : kak_bimo@yahoo.com , qnaulia@yahoo.com

Biaya Pendaftaran Rp 30.000

Fasilitas :

Sertifikat, Snack

CP :

0819.0404.1961/ 0856.952.112.49

(Abilawa)

Menumbuhkan Fitrah Bijaksana

Oleh: Shalih Hasyim

BETAPA banyak kita saksikan pemandangan sehari-hari penganiayaan antar sesama manusia. Suami tega menganiaya istrinya. Anak durhaka kepada orangtua, mahasiswa saling lempar batu, sesama warga saling mengacungkan pedang dan golok. Pejabat membohongi yang memilihnya dll.

Kita sering dipuji sebagai bangsa yang santung dan murah senyum. Faktanya, taqarrub, tabattul, tajarrud dan tawajjuh ilallah, kurang terawat. Yang justru kita saksikan, sifat yang mulia yang melekat dalam diri manusia dan khas santun budaya bangsa Indonesia itu telah tergerus oleh sifat susulan yaitu perbuatan zalim (menganiaya orang lain). Sehingga yang menonjol pada diri manusia itu justru sifat bengis dan kejam serta kehilangan rasa kemanusiaan. Banyak kita saksikan para pemimpin suka mempertahankan status quo. Demi kekuasaan, mereka tidak segan-segan mengorbankan dan memperalat rakyat kecil.

Padahal, Allah SWT berfirman dalam Surat Al Infithar, “.. alladzii khalaqaka fasawwaaka fa’adalak.” (Allah yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang)

Sedangkan lawan dari zalim adalah adil, yakni menempatkan sesuatu sesuai tempatnya dan proporsinya. Karena itu, seharusnya kita bisa berlaku adil dan tidak berbuat zalim. Sebab kezaliman hanya akan mendatangkan kemurkaan-Nya di dunia ini.

Agar kita bisa terperihara dan tumbuh sifat bijaksana, ada beberapa langkah yang bisa kita kerjakan;

Pertama, menyadari bahwa perbuatan zalim akan kembali kepada pelakunya di dunia ini. Sebab perbuatan Zalimn tak akan menunggu balasan di akhirat.

Dalam sebuah hadits disebutkan, dua perbuatan yang disegerakan siksanya di dunia ini adalah berbuat zalim (al-Baghyu) dan mendurhakai orangtua (‘uququl walidaini).

Kedua, menyadari betapa mahalnya karunia kehidupan yang dianugerahkan kepada kita sehingga bisa menikmati berbagai fasilitas kehidupan adalah atas kebijaksanaan Allah SWT.

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتاً فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Mengapa kamu kafir kepada Allah, Padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?.” (Al Baqarah (2) : 28).

Ketiga, marilah mensyukuri karunia dan kebijaksanan-Nya yang telah menjadikan kita makhluk yang paling mulia/terhormat dibandingkan dengan makhluk yang lain. Sehingga ia akan memuliakan dirinya dan menghormati orang lain.

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيل

“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan [untuk mencari kehidupan], Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Al Isra (17) : 70).

Dalam Surat At Tin ayat 9 disebutkan, Sesungguhnya Allah telah menciptakan kita (manusia) dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Keempat, marilah kita menghayati kebijaksanan-Nya. Alangkah mahalnya karunia akal yang berfungsi untuk memahami ayat-ayat-Nya yang berupa diri sendiri, ayat al-Quran dan ayat yang digelar di alam semesta. Betapa sedihnya jika sudah diberi karunia hidup, tetapi bukan manusia, dan manusia tetapi akalnya mengalami disfungsi. Manusia yang tidak menggunakan akal pikirannya lebih rendah derajatnya daripada binatang ternak.

Al Quran mengatakan, وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (Al Araf (7) : 179).

Kelima, menyadari keadilan-Nya dengan mengetahui betapa karunia Islam merupakan nikmat yang paling mahal dalam kehidupan. Dengannya ruhaninya akan ditumbuh kembangkan secara maksimal.

“Pada hari ini telah KU- sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (Al Maidah (5) : 3).

Keenam, menyadari atas kebijaksanaan-Nya, bahwa orang beriman itu bagian dari keluarga besar kaum muslimin di seluruh dunia. Sehingga akan memiliki kebanggaan korps, berdasarkan keyakinan dan keimanan bukan ikatan yang bersifat lahiriyah yang semu. Dari sini akan memperoleh pelajaran yang amat mahal, ukhuwwah islamiyah. Sebuah persaudaran melebihi dari ikatan nasab.
“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat (49): 10).

Ketujuh, bercermin pada sikap keadilan dan kebijaksanaan para pendahulu kita yang shalih.

Kedelapan, menyadari kehadiran kitab suci, atas rahmat dan kebijaksanaan-Nya.

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَاراً

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Al Isra (17) : 82).

Kesembilan, menyadari terutusnya Rasulullah SAW adalah semata-mata kebijaksanaan-Nya.

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al Jumuah (62) : 2).

Sepuluh, menyadari penciptaan manusia, bumi dan seisinya dengan kebijaksanaan, bukan sekedar permainan.

“Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami ? Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (Al-Mukminun (23) : 115-116).

Banggga akan Islam

Dahulu para sahabat sangat bangga menjadi muslim. Mereka mengatakan, ”Ayahku adalah Islam. Tiada lagi yang aku banggakan selain Islam. Apabila orang bangga dengan suku, bangsa, kelompok, marga, perkumpulan, paham mereka, tapi aku bangga nasabku adalah Islam. Suatu ketika Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu ditanya, ”Keturunan siapa Kamu?” Salman yang membanggakan keislamannya, tidak mengatakan dirinya keturunan Persia, tapi ia mengatakan dengan lantang,

”Saya putera Islam.” inilah sebabnya Rasulullah saw mendeklarasikan bahwa, ”Salman adalah bagian dari keluarga kami –ahlul bait-, bagian dari keluarga Muhammad saw.”

Karenanya, marilah kita menjadikan diri sebagai orang yang meyakini al-Quran dan Islam ini sebagai ketetapan yang tidak ada perselisihan. Marilah kita menjadi orang yang mampu berserah diri kepada Allah dan sosok Muslim bijak yang bangga akan Islam.*