Menyukai Seseorang Hanya Karena Allah

Pengertian “seseorang” dalam hadist ini menurut pendapat para ulama ditujukan kepada seorang muslim, karena sesungguhnya kita dianjurkan untuk mengambil teman setia orang-orang yang berasal dari kalangan muslim secara keseluruhan. Tetapi, sudah barang tentu hubungan dan kecintaan ini diletakkan dalam porsi yang berbeda-beda, karena harus disesuaikan dengan tingkat ketaatan dan kedekatan yang bersangkutan dengan Allah Ta’ala. Barangsiapa di antara mereka (kalangan kaum muslimin) yang lebih banyak durhakanya, berarti kita harus lebih membencinya dan lebih menjauhinya. Barangsiapa yang lebih banyak ketaatannya kepada Allah Ta’ala, berarti kita harus lebih mencintainya dan lebih mendekat kepadanya. Tetapi, Anda akan menjumpai sebagian orang, apabila ada orang lain yang datang kepadanya dengan penampilan yang hina, ia langsung mendiamkannya dengan sejadi-jadinya dan mengiranya sebagai orang fasiq serta mencurigainya dengan hal yang bukan-bukan. Sikap seperti ini menunjukkan keminiman pengetahuan agama yang bersangkutan. Padahal, kita diperintahkan untuk bersikap pertengahan dan adil adlam segala sesuatu.

Allah Ta’ala berfirman: وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) yang adil dan pilihan.

” (QS. Al-Baqarah [2] : 143) وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا

“Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah [2] : 269)

Hikmah yang diambil dari pengertian diatas menganjurkan kepada kita untuk meletakkan segala sesuatu pada tempatnya masing-masing. Termasuk sikap bijak ialah bila Anda orang-orang shalih, maka banyak hadist yang mengetengahkan bab ini, antara lain yang terdapat dalam Kitab Shahih Muslim. Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersabda : “Allah Ta’ala berseru pada hari Kiamat: ‘Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku, pada hari ini Aku akan menaungi mereka di bawah naungan-Ku pada hari yang tiada naungan, kecuali hanya naungan-Ku’.” (HR. Muslim) Dalam sebuah hadist shahih lainnya disebutkan bahwa di antara tujuh macam orang yang mendapat naungan dari Allah pada hari tiada naungan kecuali hanya naungan-Nya ialah: “Dan orang lelaki yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu karena Allah, dan berpisah karena Allah pula.” (HR. Bukhari) Ibnu Umar ra telah mengatakan, “Demi Allah. Seandainya aku puasa (sunnah) pada siang hari tanpa pernah berbuka, melakukan qiyam malam hari tanpa tidur, dan membelanjakan hartak sebanyak-banyaknya di jalan Allah, tetapi kemudian aku tidak menyukai orang-orang yang taat dan tidak membenci orang-orang tukang maksiat, tentulah aku khawatir bila Allah akan menjungkalkan diriku dengan muka di bawah ke dalam neraka.” Demikian itu, karena agama Islam ini adalah agama saling menyukai dan agama yang bersih, bukan agama kepalsuan. Oleh karena itu, kita lihat ada sebagian orang yang mengerjakan shalalt, puasa, haji, dan umrah, meskipun demikian mereka terhina, karena mereka menyukai dan bertemuan setia dengan orang-orang yang menyukai kerusakan dan kemungkaran. Hal yang diwajibkan bagi seorang muslim ialah hendaknya tidak menyukai kecuali orang yang bertaqwa dan tidak membenci seseorang kecuali orang yang durhaka, meskipun dia adalah saudara sendiri, ayah, atau ibunya. Karena Rasulullah shallahu alaihi wassalam bersabda: “Seseorang itu akan mengikuti tuntunan teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud) Hanya ahli agamalah yang layak untuk dijadikan teman dalam kehidupan ini, karena ahli agama sebagaimana yang diungkapkan oleh Al-Hasan Al-Basri akan senantiasa memelihara kehormatan anda, baik ketika Anda ada maupun sewaktu Anda tidak ada. Diwajibkan bagi seorang muslim ialah sebagaimana yang telah saya katakan sejak semua, hendaknyalah dia mencintai orang-orang yang shalih dan mendekati mereka serta tidask membenci mereka. Membenci mereka sama artinya dengan menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan. Imam Syafi’i rahimatullah mengatakan, “Kucintai orang-orang shalih, meksipun aku bukan termasuk dari mereka dengan harapan mudah-mudahan aku beroleh syafa’at (dari Allah) berkat mereka. Dan kubenci orang yang pekerjaannya maksiat, meskipun kita sama dalam hal pekerjaan”. Maka muridnya Imam Ahmad, dalam pujiannya kepada gurunya mengatakan, “Engkau menyukai orang-orang yang shalih, karena engkau adalah seseorang dari mereka, hanya berkat kalianlah kami beroleh syafa’at.” Imam Ahmad mengatakan demikian karena Imam Syafi’i termasuk keluarga Rasulullah Shallahu alaihi wassalam (dari kalangan Bani Hasyim). Diantara atsar yang dinukil dari Al-Hasan Ibnu Ali Ibnu Abu Thalib, penghulu para pemuda ahli surga, menyebutkan bahwa dia suka duduk bersama dengan orang-orang miskin, dan tidak mau makan kecuali bersama dengan mereka, sehingga sikapnya itu menjadi bahan pergunjingan orang-orang. Ia menjawab, “Aku telah mendengar bahwa Allah Ta’ala pernah mewahyukan kepada Dawud alaihis salam, ‘Hai Dawud, Aku melihatmu suka duduk bersama dengan orang-orang kalangan atas. Jika engkau tidak ingin tersentuh oleh adzab-Ku, maka duduklah bersama dengan orang-orang miskin, makanlah bersama mereka, dan minumlah bersama dengan mereka’.” Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s