KISAH TARWIYAH, ARAFAH HINGGA TASYRIQ

Hari TARWIYAH, tepatnya tanggal 8 Dzulhijjah, disebut tarwiyah terkait dengan sejarah munculnya oase zam-zam, ia menjadi suatu tanda akan kenabian Ismail (irhas) kelak dikemudian hari, peristiwa ini merupakan klimaks dari perjuangan untuk mengejar rezki halal, yang dilakukan oleh Sayidatiy (siti) Hajar baina shoffa & marwah, maka ikhtiyar Hajar dijawab Allah dengan kemurahan dan fadhilah-Nya berupa air yang memancar-mancar (zumma-zumma). Maka dari oase inilah kemudian beberapa suku-suku Arab bermigrasi dan turut mendiami kawasan Baitullah Kabah yang kelak akan lebih agung untuk dibangun, karena perpindahan ini maka pada awalnya Mekkah disebut ummul quro yang berarti induknya kampung-kampung, atau ibu kota dalam penyebutan saat ini. Bagi para jamaah haji yang mengambil sunnah haji tarwiyah, mereka telah terlebih dahulu turun ke Minna (tanazul) untuk bermukim dikawasan itu sebelum ke Arafah, namun mereka harus bertanggung jawab secara pribadi, baik terhadap biaya, keselamatan dan kesehatannya, mengapa demikian? karena kebijakan yang terkait ibadah haji, pemerintah Indonesia tidak mengambil sunnah Tarwiyah ke Minna, melainkan langsung bergerak ke Arafah untuk wukuf. Perjalanan Tarwiyyah ini sangat syahdu dan heroik, tampak sekali para jamaah haji semangat beribadah yang menyala-nyala. Begitu terang ruh ibadah dari orang-orang yang sangat ingin menghaturkan ibadah hajinya yang sempurna pada Allah semata, memang mengambil sunnah Tarwiyah lebih berat dibandingkan dengan yang langsung bermalam di Arafah, namun kepuasan akan dirasakan jauh lebih kuat oleh orang yang bertekad bulat dan berkesungguhan mewujudkannya.

HARI ARAFAH, tepatnya 9 Dzulhijah, Mengapa disebut Arafah karena hari ini adalah hari untuk mengenal jati diri kita, terkait dengan hari pertemuan antara Adam AS dengan Hawa RA, konon Adam diturunkan di kawasan India. sedangkan Hawa diturunkan di Jazirah Arabia, tepatnya di kawasan Wadi Jeddah (sekarang Bandar Jeddah yang berarti nenek), bertahun-tahun mereka terpisah dan kemudian ditakdirkan Allah untuk berjumpa di jabal Rahmah di areal padang Arafah. Nah, disinilah para Jemaah Haji berkumpul untuk melaksanakan rukun Haji Terpenting yaitu Wukuf (Haji adalah arafah, memperbanyak istighfar, berdzikir, melantunkan kalimah thayyibah setulus hati, bertaubat dan mendengarkan khutbah Arafah yang isinya mengingatkan kita dari mana kita berasal (min aina), dimana dan untuk apa kita hidup (fii aina) serta hendak kemana kita berpulang (ilaa aina). Pada hari Arafah ini Allah berkenan mengampunkan banyak sekali permohonan ampun dari manusia yang selalu berdosa, insyaallah termasuk kita yang tengah mencari ampunan Allah dengan berpuasa Arafah pada hari ini. Yang terpenting adalah kita selalu merawat kesadaran ini, sebagai insan yang harus terus mengabdi kepada Allah, siapapun dan apapun profesi serta posisi kita, beramal dan berkarya untuk Allah saja, kemudian membulatkan semangat untuk menata hidup kita sesuai dengan cara hidup yang Allah tuntunkan, bukankah selama ini kita terus menerus menderita atau merugikan orang lain jika menata hidup ini dengan cara dan keinginan nafsiah kita? Marilah kita saling mengingatkan untuk sadar diri dan mengingat Allah agar kita tidak tersesat dan keliru jalan untuk pulang.

HARI NAHAR; ya tepatnya tanggal 10 Dzulhijjah dalam kalender Hijriyahnya, terhitung mulai maghrib, kita telah memasuki hari nahar, dimana kita bisa bergembira dengan hadirnya Hari Raya Iedul Adha,. NAHAR artinya menumpahkan darah binatang qurban (udhiyah/adha), nama hari ini adalah disandarkan pada kisah Ibrahim yang pernah menyembelih 300 an atau lebih lembu untuk disedekahkan kepada ummatnya, sebagian mereka memuji kedermawanan Ibrahim, yang telah bersedekah sedemikian besar jumlahnya. Mendengar bisik-bisik kagum ummatnya Ibrahim bergumam “Jangankan ratusan kambing, jika Allah yang memberikan perintah untuk mengurbankan anakku pun, maka akan aku berikan”. Rupanya ucapan itu dicatat dan disaksikan Allah, hingga pada suatu ketika Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih putranya melalui 2 kali mimpi di Arafah dan 1 kali lagi di Minna, maka derajat ulul azmi (yang paling sabar) tersejarahkan dengan peristiwa penyembelihan Ismail ini, disalah satu puncak perbukitan di kawasan Minna … tentu kelanjutan ceritanya sudah kita ketahui dan ingat kembali. Pada malam hari ini, jamaah haji bergerak ke Muzdalifah untuk bermukim sementara hingga tepat tengah malam nanti, untuk merasakan gambaran yaumul makhsyar dan hisab nanti, di lapangan yang terbentang tanpa atap atau tenda, semua tergolek pasrah dalam dzikir, sungguh sangat menggetarkan jiwa saat melihat bahkan terlibat diantara jutaan manusia tergolek dalam pasrah dan kepasrahan yang paling mendalam sepanjang hayat mereka, dalam ritus dahsyat ini. Keadaannya berjubel namun suasananya haru dan senyap. Yang sibuk adalah proses dropping jamaah dengan bus-bus dari arafah ke tempat ini. Dan terlihat pula diantara mereka ada yang sibuk mengumpulkan kerikil untuk dilontarkan ke jamarat besok pagi. Bagi yang mengambil nafar pertama akan langsung berjalan kaki sejauh 5-6 km, melalui Aziziah atau mahbas jien menuju Kabah untuk thawaf ifadhah dan sya’i sebagai penutup rukun haji mereka. Pada hari ini di minna dan seluruh dunia Islam dilaksanakan prosesi pemotongan binatang kurban yang diserahkan kepada panitianya, sebagai wujud syukur kepada Allah atas nikmat yang telah banyak. Semoga kurban kita tahun ini diterima sebagai perwujudan ketaqwaan kita, dan diganjar ampunan serta fadhilah-Nya.

HARI TASYRIK artinya hari menjemur daging, setelah hari nahar maka kaum dhuafa, fuqara dan masakin akan disenang-senangkan oleh orang yang mampu diantara ummat kita, selama tiga hari, yaitu 11, 12 dan 13 dzulhijjah, maka selama hari tasyrik kita dilarang berpuasa karena adanya suasananya keakraban diantara kita, yang kaya bersanding dengan orang miskin dengan akhlak rendah hati, selama 3 hari ke depan kita masih diberikan kesempatan untuk memotong hewan kuran, processing dan mendistribusikan secara merata ke seantero ruang dakwah dan silaturrahim, bahkan non muslim pun boleh menerimanya. Semoga kemesraan ini janganlah cepat berlalu. Saya sempat tercenung mendengar jawaban dari saudara-saudara kita di Gaza ketika kita akan mengirimkan dana untuk pembelian binatang kurban, mereka menjawab “Tahun ini tidak usah mengirimkan binatang kurban kepada kami, lebih baik dikirimkan kepada saudara kita di syuriah yang lebih membutuhkan”…saya geleng-geleng kepala karena maksud hati menyumbang kepada mereka yang kita pandang menderita, ternyata akhlak iffah (memelihara martabat diri) mereka membuat kami malu, bukankah bangsa kita saat ini sudah hampir kehilangan rasa malu!

One thought on “KISAH TARWIYAH, ARAFAH HINGGA TASYRIQ

  1. sangat bagus teknik bercerita di kak Bimo untuk anak2. saya seng kalau bisa membagi2 kan ilmu pengetahuan yg di miliki oleh kak Bimo. saya Erna witin dari flores indonesia, sekarang di Itali. saya sedang buat tesis: cerita2 dngeng indonesia. kalau bisa minta bantuan sama kak Bimo utk kirim saya teknik, psicologi dalam bercerita. maksudx buku2 terbitanNya, mungkin bisa lewat email, face book. makasi ya,, slmt Natal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s