DEMI CINTA PADA GAZA

Demi Gaza

Aku Shafwan. Umurku 7 tahun.
Sejak tiga bulan lalu, setiap hari, aku dan Ali mengumpulkan batu-batu. Kami menyimpannya di bawah reruntuhan rumah Syahida. Teman perempuan kami yang telah pergi. Akibat dari senjata-senjata itu yang setiap malam seringkali terdengar suaranya menderu di angkasa dan esoknya, selalu saja ada teman kami yang syahid. Syahida tertimpa dinding rumahnya. Sedangkan ibu dan adik-adiknya, kala itu sedang berada di dalam ruang tidur. Ketika satu benda berat menembus atap rumahnya kemudian menimbulkan ledakan. Menceraikan setiap bagian tubuh mereka serta memisahkan jiwa-jiwa dari raganya.
Kata ibuku, ”Mereka bertemu Rabb-nya dengan bangga.”

Teringat ketika itu..
Aku sedang berada di rumah. Saat sayup-sayup. Ali, sahabatku berteriak-teriak memanggil namaku, ”Shafwaaaan.. Shafwaaaan.. Shafwaaaan..” Ketika sampai di pintu, Ali mengetuk pintu rumah kami dengan keras. Teriakan Ali tak seperti biasanya, ketika mengajakku bermain. Aku segera berlari keluar dari kamarku. Karena terburu-burunya, aku menabrak sebuah kursi hingga terjatuh. Saat pintu kubuka, kusaksikan Ali terbungkuk dengan nafas terengah kelelahan. Tampaknya ia tadi habis berlari.
”Ada apa, Ali..??”, tanyaku.
Ali menunjuk ke satu arah. ”Syahida.. Syahida.. rumah Syahida, semalam terkena serangan mereka.”, di wajahnya tergambar ketegangan yang sangat.
Aku kaget. Segera kupakai sepatuku. Kemudian menarik tangan Ali untuk berlari. Di dadaku gemuruh. Aku sendiri tak bisa gambarkan, apa yang kurasakan. Aku hanya berlari sambil tak melepaskan tangan Ali.
Hancur.. rumah besar itu.. hancur.
Tak terlihat lagi bentuknya. Hanya puing-puing yang berserakan. Aku dan Ali berdiri di gerbang rumah yang sudah tak berbentuk itu. Seorang bapak, keluar dari reruntuhan sambil menggendong satu tubuh kecil. Ia berkata pada kakek tua berpakaian bergaris yang sedang menunggu. “Hanya ada dia, yang lain di kamar. Tak bisa dikeluarkan.”
Dari jauh, aku mencoba menajamkan penglihatanku. Itu Syahida, sebutku dalam hati. Karena tubuh itu terbungkus jaket biru. Jaket yang selalu dipakai Syahida, kemanapun ia pergi. Kata Syahida, itu adalah jaket pemberian ayahnya, yang telah syahid lebih dulu, diterjang peluru-peluru Israel. Bapak yang menggendong Syahida, berjalan semakin dekat dan melewati kami. Tubuh itu tertutupi banyak debu, tak bergerak tanpa nyawa. Ali dan aku berpandangan. ”Itu Syahida.”, kata Ali. Aku mengangguk lemah.
Tiba-tiba, Ali menarikku keras. ”Ayo!!!” Aku mengikutinya. Langkah-langkahnya sangat cepat. Namun, kakiku mengikutinya terus. Entah mau kemana dia. Ali mengajakku naik ke sebuah bukit kecil di dekat pagar perbatasan. Kemudian berhenti dipuncaknya. Matahari pagi menyinari perbatasan. Kami memandang keseberang pagar. Di mana rumah-rumah nyaman berdiri tanpa takut diserang. Aku hanya menatap jauh kesana. Lalu memandang Ali. Ada satu rasa yang tumbuh kala itu. Seperti sebuah panggilan yang mencoba menenangkanku. Seperti panggilan ibu yang selalu kudengar. Tapi, aku sendiri tak mengerti. Meski aku tau harus berbuat apa.
”Kau tau maksudku kan, Shafwan..?”, tanya Ali.
Aku mengangguk kuat. Sudah waktunya. Kami saling berhadapan dan memegangi pundak. Ali menatapku tajam dan pandanganku menembus ke dalam mata Ali.
“Bismillaah.. Sekarang waktunya.”, ikrar kami.
“Kita mulai mengumpulkan batu.”, kata Ali.
”Untuk melindungi keluarga kita.”
”Teman-teman kita.”
”Tetangga kita.”
”Melindungi Gaza.”
”Melindungi Palestina.”
Ali mengeratkan cengkeramannya di bahuku. Akupun begitu. Dan kami saling mengangguk. Yakin..

31 Mei 2010
Sejak pagi, kakak-kakak itu telah merencanakan sesuatu. Aku dan Ali bukannya tidak tau. Bahwa hari ini, adalah jadwal patroli para tentara zionis. Jalan mana yang akan mereka lewatipun, kami sudah tau. Karenanya, jauh-jauh hari, kami sudah pindahkan empat karung batu kami kereruntuhan yang lebih dekat dengan jalan yang akan dilalui oleh mereka.
Dua jam yang lalu. Saat para pemuda akan berangkat. Kami dilarang untuk ikut. Tapi larangan itu kami tidak hiraukan. Beberapa saat ketika terjadi bentrokkan antara para pemuda dan tentara-tentara itu. Kami menyusup ke tempat di mana kami menyimpan batu-batu itu. Desingan peluru, takbir dan benturan batu menjadi satu. Suara yang biasanya hanya kami dengarkan dari jauh. Saat ini begitu dekat. Awalnya aku gentar. Keringat dingin mengaliri tubuhku. Namun, semakin lama, kakiku hampir tak dapat ku tahan. Aku merasakan cairan dalam tubuhku mengalir melaju. Kepalku menguat. Gigiku gemeletuk. Ku tau, Ali pun begitu. Sesaat tadi kulihat matanya tajam menatap keluar.
Setiap terdengar teriakan kesakitan dan teriakan para pemuda intifadha, kami serentak berdiri. Kemudian duduk kembali. Hingga teriakan ke tiga, pertanda robohnya kembali satu pemuda. Aku sudah tak sanggup menahannya. Tanganku meraup sebanyak-banyaknya batu dari karung. Lalu berlari menderas. Keluar dari persembunyianku bersama Ali. Aku dan Ali melemparkan setiap butiran keras di tangan kami dengan sekuat tenaga. Beberapakali, kami bolak-balik masuk ke dalam reruntuhan ketika kehabisan batu. Tapi, kami keluar lagi. Aku dan Ali hanya terus melemparkan batu-batu itu.
Semakin lama lemparanku terasa semakin menguat. Kami bahkan tak menyadari, posisi kami saat itu. Jauh di belakang kami, kakak-kakak pemuda dan di hadapan kami, adalah tentara-tentara bersenjata itu. Bersama lemparan-lemparanku. Tak lagi aku mendengar desingan peluru. Hanya takbir saja yang bersenandung keras di telingaku. Entah lisan siapa yang bertakbir. Aku hanya terus melemparkan batu-batu itu dengan semangat. Sampai suara-suara itu mulai memanggilku.
”Shafwaaaan..!! Shafwaaan..!! Shafwaaaaan..!!”
Kini, badanku terasa ringan. Kupegangi wajahku, kuraba dadaku, karena kulihat, ada wujud yang sama tergeletak di jalanan tempatku berdiri. Aku mengenalinya, kaos abu-abu itu milikku. Tapi, abu-abu itu sebagian besar berubah menjadi merah. Seseorang berusaha mengangkatku. Aku tersenyum. Ya, itu aku. Ku lihat di sampingku, Ali masih tegak berdiri, meluncurkan batu-batu dari tangan-tangannya yang kian perkasa. Hingga tiba-tiba jasadnya limbung dan jatuh ke tanah. Ali bergantian memandangku, lalu ke jasadnya yang juga bersimbah darah. Kemudian kembali manatapku dengan senyum. Selesai sudah. Tangan kami berhenti melemparkan batu. Namun, beberapa zionis terluka parah. Mereka mengerang kesakitan. Aku dan Ali makin melebarkan senyum, sangat puas dengan usaha kami. Masih tersisa 3 karung batu, semoga ditemukan oleh pejuang-pejuang intifadha yang lain. Kami menatap pagar pembatas untuk terakhir kalinya. Tanah itu milik kami kan Allaah..?? Tak kuragukan jawabannya. Hanya terasa haru.
Dalam hati aku berkata..
”Allaah.. ini kami, Shafwan dan Ali.. menemuimu.. dengan bangga.”
Senja mulai habis
Ketika jiwa-jiwa telah sampai pada kemerdekaannya.
Merah saga langit Gaza
Ketika satu demi satu
Lemparan batu terhenti
Cukup terluka satu kali ini
Dan kesturi mewangikan udara
Pertanda jiwa-jiwa yang rela pergi
Tertidur untuk waktu yang lama
Karena ia tidak mati
Abadi bersama Tuhan-nya
Dan menikmatinya dengan senyum
Senyuman bangga
Demi cinta, demi sayang
Pada Gaza.. pada Palestina

Teman, ada kemanusiaan yang terbantai di banyak negeri. Sedang kita terpuruk dalam senang kehilangan rasa kemanusiaan (Kak Fian Gee)

One thought on “DEMI CINTA PADA GAZA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s