KISAH SEBONGKAH BATU

imagesKita mulai kisahku ini, dari sebuah tambang mineral dibumi Kurdistan, yang didalamnya terdapat  kandungan logam yang cukup besar, salah satunya adalah diriku, sebongkah batu yang kaya dengan mineral besi, aku adalah benda yang nantinya akan menjadi istimewa, diantaranya dikarena kebiasaanku yang lain dari pada bongkahan lainnya.

Ketahuilah, Sebagai makhluk Allah, aku juga memiliki bahasa untuk bertasbih kepada-Nya. Diantara tasbihku,  secara khusus aku memanjatkan sebuah doa, dan doa inilah yang nantinya  akan menjadikan aku amat berbeda dengan besi-besi yang lainnyai.

“Yaa Allah .. yaa khairal khalqi..ijinkanlah aku menjadi salah satu besi penguat salah satu penguat atau penghias, diantara ketiga masjid suci Mu, kerinduan kami kepada Baitullah kabahdi Makkah, masjid Nabawi dan Al aqsha, telah menjadikanku gelisah, ijinkan aku memuaskan dahaga rinduku ini.”

Ribuan Tahun aku telah berdoa, ketekunanku dalam berdoa itu, telah membawaku pada sebuah pintu keberuntungan. Suatu hari tiga orang penambang telah menjangkau tubuhku, aku adalah sebongkah batu besi yang yang paling sulit diangkat ke permukaan tanah, mengingat sejarah pembentukan wujudku ini, menjadikanku berbeda dengan batu yang berada di sekitarku. Panas inti bumi dan lava pijar telah membentuknya menjadi batu istimewa yang mengandung zat logam besi mentah yang berkah. Ketahuilah bahwa aku mencair pada panas suhu 1000 derajat dan baru membeku pada suhu 600 derajat.

Jamahan kasar tangan para penambang dan congkelan linggis tak aku rasakan, mungkin inilah yang menjadi tebusan terwujudnya cita-citaku, yaitu menjadi salah satu besi pengokoh pada salah satu diantara tiga Baitullah suci. Waktu terus berjalan dan aku mengalami perpindahan tempat hingga wujudku, sejak dari tempat asalku dilembah tua itu. Kini aku memasuki satu tahap penyaringan dalam alat penyaringan yang kotor dan berisik merusak telinga manusia. Kemudian ku masuki kawasan ubupan panas yang baunya amat menyengat, hingga ku relakan diriku kembali meleleh tanpa bentuk dalam tanur peleburan yang menyala bak kawal neraka Jahanam.

Setelah dicetak menjadi logam batangan, aku semakin kencang membangun harapan, semoga aku segera dicetak menjadi sebuah besi tulangan beton, atau hiasan Indah untuk mempercantik Baitullah…syukur-syukur jika akan dicetak menjadi gembok pengaman pintu dan isi kabah yang dimuliakan itu. Itulah mimipiku, agar aku turut dirindukan dalam hati dan lisan doa orang-orang mumin yang rindu untuk menziarahinya.

Namun hatiku kini menjadi perih karena kecewa? Penantianku  rupanya akan sia-sia, aku mulai disisihkan oleh pande besi yang tertua, dari kawan-kawanku, yaitu  besi batangan lainnya,  aku sering gemas saat melihat pande besi tua itu menunjuk-nunjukan telunjuk hitamnya kearah diriku.Dalam benak aku berprasangka “Apakah aku akan dijadikan tapal kuda? Pisau dapur? engsel pintu kamar mandi? atau pagar rumah mewah penguasa di Iraq?”. Semakin hari aku semakin gelisah karena tak kunjung ada kepastian untuk diolah menjadi benda apa dan untuk apa? Hingga pada suatu pagi aku diseret dan di bakar dalam ubupan besi yang menyala-nyala terang, pukulan demi pukulan aku terima sambil bertasbih memasrahkan diri, apapun yang Allah tentukan untukku tak akan salah dan serba indah..masyaallah tabarakallah”demikian suara batinku . aku tidak tahu apa yang ada dibenak pande besi tua itu.

Aku semakin heran, mengapa aku diperlakukan tidak lazim seperti besi yang lainnya , terlebih-lebih saat aku dicampurkan dengan cairan kaca, yang kini ia senyawa tak terpisahkan dengan zat besiku.

Batang besi tubuhku,  kini telah berwujud, aku adalah sebilah pedang besi kaca, batang tubuh yang dahulu besar kini telah mampat dan mengecil, karena gemblengan baja lain yang tak terkira lagi banyaknya, kini aku padat namun lentur serta diasah amat tajam. Saat itu aku meronta-ronta serta berderai tangisan “Mengapa aku harus dijadikan alat membunuh, aku menjadi sarana menumpahkan darah oleh manusia serakah!”. Aku,  sang Pedang besi kaca, kini semakin galau dan tiap saat menagih janji atas doa-doa kepada  Allah.

Kawan, jawaban dari Allah barulah aku dapatkan, ketika suatu hari datanglah seorang pria gagah nan santun menemui kriya besi yang telah membentuk dan meriasku selama ini, hingga menjadi sebuah pedang yang istimewa, dikarenakan kualitas dan keindahanku….aku kini  terkesiap, ternyata calon pemilik dirinya adalah Sultan Saladin yang terkenal itu!

Singkat cerita, hidupku kini sibuk dengan husnuzhan kepada allah, menerka-nerka kebahagiaan selanjutnya, allah telah memuliakan dirinya saat berada ditangan tuan pedang yang tepat. Pemilikku adalah seorang sultan yang santun, ia tak banyak berkata-kata selain kalimat yang baik dan santun, mulutnya selalu berzikir dan hafalan qurannya pun selalu menjadi untaian kalam yang tak tertandingi kemerduannya, apalagi saat aku bersamanya, berjalan dan berderap dalam ekspedisi agung, yaitu pembebasan Masjidil Aqsha di Yeruslem palestina…”ya!!! Masjidil Aqsha Palestina!” Seru hatiku.

Kini aku tampak paling gagah dan terhormat diantara 4000 pedang milik 4000 orang pasukan perang muslim, yang kesemuanya hafal Alquran itu, Perjalanan Iraq dan Mesir telah kami lampaui. Hingga pada suatu masa yang amat penting. Sultan Saladin telah berhadapan dengan musuh besarnya, yaitu Raja Richard berhati singa yang telah kondang garang serta perkasa.

Inilah adalah salah satu episode perang salib yang terkenal itu.Tatkala raja Richard telah berhadapan dengan Sultan Shalahudin, keduanya terlibat dalam pembicaraan yang amat serius, hingga akhirnya terjadilah perang mental diantara keduanya. Lihatlah! Kini keduanya saling mempertontonkan kehebatan pedang masing-masing. Ricard yang mengerikan menghunus pedang besarnya. Lalu ia tebaskan ke sebuah batu hingga batu itu terbelah berkeping-keping, sedang pedangnya tetap utuh dan teracung pongah. Dalam hatinya Ricard seakan sesumbar “Inilah pedang yang terkuat, dan hanya bisa diayunkan orang yang kuat seperti aku, pedang ini akan mematahkan pedang-pedang prajurit mu Saladin, menciutkan semua nyali dan akan mencabik daging, bahkan meremukkan tulang-tulang yang tertimpa”.
Sesaat kemudian Tuan Saladin menghunus pedang kecil tipisnya, dialah aku! Lalu dengan tenang Tuanku Saladin melemparkan sebuah sapu tangannya yangg terbuat dari sutra tipis ke udara, lalu membiarkannya jatuh diatas  tipis tubuhku, yang hanya diam tak bergerak…dan nyaris tanpa suara, kain itupun terbelah dua. Suasana hening, saat ku melirik kea rah mata Richard, rupanya ia memandang takjub pula, dan hati singanya kini mulai meleleh, bersamaan dengan bergidik karena ngeri. Aku bias memahami, bahwa yang Richard bayangkan adalah pedang tipis tubuhku ini, aku bukanlah pedang yang dipergunakan  untuk dihantamkan seperti pedangnya,  tetapi untuk langsung ditusukkan ke organ vital manusia, aku bukan hanya untuk menyobek daging tapi mampu menguliti dengan amat cepatnya. Dan dengan pedang tipis dan ringan seperti aku, maka kecepatan dan tebasan akan menjadi seperti kilatan tak terlihat kecuali setelah tertanam ditubuh lawan berkali-kali hunjaman. Apalagi jika dimainkan dengan kehandalan seorang maestro pedang setingkat Tuanku Saladin. Maka Richard kemudian mencari-cari alas an untuk mundur karena ngeri..beberapa saat kemudian terdengar pengumuman kemenangan besar ada pada pasukan penghafal quran ini, yang penghulunya adalah Tuanku Saladin, yang amat perhatian kepada ku..walhamdulillah semua scenario perjalan hidupku indah, doaku terkabul sudah. Aku adalah bagian dari sejarah kalian!

Para pembaca yang budiman, Pedang itu matang adalah prototipesenjata ideal sebagaimana keindahan kepribadian Sultan Saladin pemiliknya, yang nyata matang jiwa dan keimananya. Ia lahir dari proses penempaan jiwa yang unik, sepanjang hidupnya. Maka kini kita dapat memahami, bahwa antara pemilik dan senjata yang digenggamnya merupakan paduan yang harmonis. serta menampakkan keindahan dari citra kepribadian, diantara manusia dan wujud lahiriah pedangnya, sungguh menakjubkan, keserasian antara akhlak saladin dan estetika pamor senjata tersebut. subhanallah kita telah belajar tentang kepribadian yang matang dibandingkan dengan sekadar tampak matang karena karbitan..mari kita menempa anak-anak kita, agar mereka menjadi kokoh dan kuat mengangkat dan mengusng amanah kemenangan Islam terhadap rekadaya kebatilan. Jangan beiarkan mereka hanya menjadi manusia lembek bak besi berkualitas rendah yang hanya untuk dipakai sebagai perhiasan pemanis pandangan, atau sekadar perkakas rumah yang murah harganya. Tempalah mereka laksana besi yang lebih keras paling tidak untuk kita jadikan rangka baja rumah-rumah Allah, atau lambungkan rasa tanggung jawab kita untuk mengawal pematangan mereka untuk menjadi besi yang lebih kuat dengan tarbiyah peleburan dan tempaan dakwah, plus didesain dengan keahlian tinggi agar mereka menjadi orang-orang yang diperhitungkan dalam sejarah, bukan sekedar dihitung serta tak menjadi kurban sejarah…semoga kita mampu mewujudkannya, Amien.

(Saya tulis dantara debu safari dongeng  UANG JAJAN UNTUK GAZA 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s