7 BUDAYA MALU PARA JURU KISAH MUSLIM INDONESIA

image

7 RASA MALU YANG HARUS JURU KISAH MILIKI. DARI APA SAJA?

“Salah satu dari perkara yang telah diketahui manusia dari ucapan Nabi terdahulu: Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah sesukamu” (HR Muslim)

“Semua malu itu baik” (HR. Muslim)

“Rasa malu tidak akan datang kecuali bersama kebaikan” (HR. Bukhari)

“Tidaklah (perkataan atau perbuatan) keji itu menyertai sesuatu sama sekali kecuali membuatnya buruk, dan tidaklah malu itu menyertai sesuatu sama sekali kecuali membuatnya indah”

1. TIDAK PERSIAPAN MATERI:
Kesanggupan kita untuk berkisah adalah amanah, siapapun pengundang kita memiliki besar harapan agar ada perubahan sikap dan perilaku anak-anak yang akan kita dakwahi,  perlu sekali untuk secara cermat menyusun skenario penceritaannya.  Kemudian secara khusus menyusun ceirta dengan target kognitif (pengetahuan apa dari kisah), target afektif (respon dan sikap apa yg harus muncul), target konatif (semangat apa yang akan kita berikan)  serta target spiritual (ruh apa yang akan kita bangkitkan dari kesadaran anak). Jika kita asal berkisah tanpa target (asal lucu, heboh) maka sebenarnya kita harus malu kepada penyelenggara,  karena tidak bisa melayani sesuai harapan.  Dan jangan salahkan mereka jika akan berpikir ulang untuk mengundang kita kembali.
Perlu kita sadari,  dari hari ke hari permintaan berkisah dan mendongeng semakin tinggi kualitas yang diharapkan penyenggara. Target perubahan apa yang diinginkan,  sebisa mungkin kita penuhi.  Apalagi untuk anak kita sendiri,  maka harus lebih sempurna.

2. TIDAK KOMERSIALISASI AYAT
Berkisah berdasar riwayat (qurani & nabawi)  merupakan kewajiban kita untuk menyampaikan.  Jika ada pihak yang meminta kita untuk berkisah,  maka pada hakekatnya mereka sudah membantu kita untuk melaksakan kewajiban agung itu.  Jadi paradigmanya adalah merekalah yang berjasa kepada kita,  bukan sebaliknya kita yang berjasa apalagi menjual jasa. Pantang bagi ahli kisah untuk mengkomersialisasikan ayat kebenaran,  seharusnya kita Malu besar kepada Allah yang telah berfirman dan kepada Rasulullah yang meriwayatkan.

3. MALU TERLAMBAT: Di berbagai forum berkisah, biasanya anak-anak hadir tepat waktu,  panitia juga jauh-jauh hari berusaha untuk tepat waktu.  Adakalanya mundur karena ketiadak siapan atau protokoler tertentu jika menghadirkan pejabat.  Selayaknya kita hargai mereka (adab)  dengan tepat waktu dan tepat janji.  Amat buruk kebiasaan double job dalam pelayanan ini,  karena akan sangat mengecewakan audien dan panitia,  bagaimana tidak? Juru kisahnya datang terlambat tampil hanya sesaat,  karena kebelet bertutur lagi ditempat yang lain.

4. MALU MENGOTORI JIWA ANAK.
Menjaga perkataan dan perbuatan sangatlah penting bagi para juru kisah muslim,  seringkali kecerobohan penggunaan perkataan atau gerak-gerik kita menjadi perobek citra juru kisah muslim,  alih-alih mencari perhatiaan dan segarnya suasana,  ternyata justru menghancurkan citra baik dan kehormatan kita dihadapan anak. ingati bahwa belum tentu yang baik dari kita direkam dan ditiru anak,  yang ada justru kata-kata buruk kita yang lengket dimemori mereka. Untuk yang demikian kita mesti malu dan hati-hati.

5. MALU MENJIPLAK (PLAGIASI). Proses belajar Amati,  tiru dan modifikasi sangat efektif untuk jenis pengetahuan dan ketrampilan berkisah ini. Akan lebih berfaedah dan menimbulkan tradisi yang baik, apabila kita ringan hati menyebutkan asal referensi dari penulis atau pencpta ceritanya. Mengelabuhi audien dengan ucapan atau tindakan yang menunjukan apa yang kita bawakan adalah karya kita,  merupakan tabiat yang amat buruk. Tidaklah menjadi rendah mengakui pencipta suatu karya yang kita bawakan.  Bukankah pencipta lagu saja ikhlas lagunya dibawakan oleh penyanyi lain,  bahkan menjadi tenar? Karena itu jangan malu untuk mengapresiasi (tribute and salute)  kepada pencipta,  dan mendidik diri pula untuk malu membawakan karya orang lain terus menerus,  jadi kapan kita berkarya?  Malu juga dong, karena tidak berkembang!

6. MALU  TAK BERTANGGUNG JAWAB (TABRAK LARI), berani berbuat,  maka berani bertanggung jawab,  jangan sampai kita bercerita yang buruk, lalu setelah selesai kita pulang.  Namun persoalan tidak sampai disitu, kenapa? Karena pada akhirnya panitia menjadi repot dibuatnya: anak-anak justru jadi liar,  peralatan sound syten rusak, ada anak jadi minder karena kita olok-olok,  atau justru ada pamitia yang tersinggung sehingga terjadi konflik psikologis antara panitia dengan masyarakat. Anda yang nabrak,  orang lain yang mempertanggung jawabkannya.
Janganlah dilakukan,  berempatilah,  atau anda akan diturunkan dengan tidak pantas dari panggung berkisah.

7. MALU MEMBANGGAKAN DIRI
Semua jamaah sangat merindukan sosok pendakwah dan juru kisah yang sopan dan rendah hati,  melengkapi kemahiran serta kefasihan dalam bertutur kisah hidayah. Namun mereka sering kecewa dengan kebiasaan juru kisah yang sering menceritakan kehebatan atau kesuksesannya berkisah ditempat atau waktu yang lain. Apalagi kemudian membanding-bandingkan kemampuan, senioritas atau keilmuan dengan penutur kisah yang lain. Perilaku yang demikian bukannya akan menjadikan masyarakat meletakkan mahkota kehebatan dikepala kita,  namun justru akan menjadikan orang melepaskan jubah kita,  hendaknya kita malu untuk melakukannya.  Lepas mahkota didapat, tanggal pula jubah tanpa hormat.

Advertisements

7 LANGKAH BERKISAH TARIKH & SIRAH

image

1. Kuasailah alur cerita, adegan, dialog dari sumber bacaan yang terpercaya. Bila perlu bacalah berulang-ulang hingga benar-benar dikuasai. Ingatlah, penguasaan terhadap pakem cerita amat esensial pada jenis cerita ini, bila tidak terkuasai kita akan terjebak kepada improvisasi yang merusak.(rekomendasi: Kisah Para Nabi/qishashul anbiya: Ibnu Katsir, Shirah Nabawiyah: Shafiyurrahman Almubarakfury, Shirah Ibnu Hisham, Bidayah Wa Nihayah: Ibnu Katsir)

2. Ceritakan kisah tersebut apa adanya, tanpa bumbu-bumbu cerita yang tidak relevan, jangan bumbui kisah perjuangan yamh agung dengan humor, apabila memang dirasa tidak tepat.

3. Usaha untuk membuat cerita lebih menarik biasanya difokuskan pada unsur suspence, ekspresi, penekanan pada adegan-adegan heroik dan dialog yang kuat.

4. Bagian-bagian cerita yang belum saatnya disampaikan pada usia anak tertentu hendaknya disunting secara bijaksana, tanpa mengganggu keutuhan sejarah.usahakanlah agar cerita yang terlalu bercabang-cabang dapat terangkai dalam satu alur yang padu.

5. Sampaikanlah kisah-kisah tersebut pada sekelompok anak yang memang belum pernah mendengarkannya, Bila ada anak yang tahu jalan ceritanya, ingatkan sejak awal agar tidak mengganggu teman-temannya dengan dengan memberi komentar dan tebakan-tebakan, Bila tidak tahan untuk memberi komentar ditengah-tengah cerita, ingatkanlah kembali secara bijaksana. Tegurlah bahwa apa yang diucapkannya itu mengganggu kita, namun tetaplah tersenyum ramah.

6. Ajaklah anak didik kita mengambil hikmah dari kisah itu, berikan motivasi untuk meneladani tokoh dan perbuatan yang mulia, ajaklah mereka menjauhi perbuatan yang tercela. Sebaiknya nasehat yang diselipokan ditengah cerita tidak terlalu panjang. Hal ini akan terasa menjengkelkan bagi anak-anak, hikmah sebaiknya disampaikan pada akhir cerita.

7. Buatlah RefleksiDiri serta Janji Untuk berubah sesai dengan titik tekan nilai keteladanan atau kepribadian tokoh yang telah kita kisahkan,  jangan lupa ajaklah mereka berdoa agar menguatkan azzam dan bersabar untuk meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga bermanfaat.

7 LANGKAH UNTUK MENGHINDARI UJUB, SUMAH DAN RIYA DALAM BERKISAH

image

Pernahkah mendengar bahwa ujub (kagum,  bangga diri), Riya (pamer amal)  dan sum’ah (suka populer)  adalah virus amal yang membinasakan?
Jika tidak dikarenakan besarnya bahaya ketiga akhlak buruk ini,  maka Rasulullah sangat takut kita akan binasa oleh ketiganya.
Selain syirik asghar ia juga melumerkan nilai kebaikan dan pahala,  sehingga pengidapnya akan ditempatkan di jubul hazn (liang kepedihan)  neraka,  dimana Rasulullah menggambarkan, jubul haz letaknya didasar neraka yang tak ada asapnya (inti panas).. na’dzubillahi min dzalik.
Semoga catatan kecil ini dapat membantu para sahabat juru kisah muslim Indonesia,  lebih berhati-hati dan semakin khauf kepada Allah ta’ala serta tidak mengidap penyakit jiwa yang membinasakan ini.

1. HAYATI KALIMAT TAKBIR DALAM SHOLAT: Bahwa kebesaran hanya milik Allah ta’ala,  kita hanyalah makhluk kecil yang tiada alasan secuilpun untuk kagum diri dan mencari-cari muka dihadapan makhluk.  Adanya gunung,  bumi,  galaksi dan semesta adalah bukti ayat-ayat kebesaran Allah,  yang menunjukkan Sang Maha Pencipta yang tak terhingga-hingga.
MASUKKAN KEBESARAN ALLAH DALAM HATI,  NISCAYA AKAN TERBUANG KEBESARAN MAKHLUK DARI HATI KITA.

2. SENANTIASA MENJAGA “ONLINE” DZIKIR: dalam surat alhasyr 2 Allah mengingatkan sebab orang masuk neraka,  diakibatkan oleh ia lupa mengingat Allah, sehingga mereka lupa kepada jati diri mereka sebagai hamba-Nya,  yang ia pikirkan adalah syahwat, dunia serta kebesarannya. Maka ia mudah lupa diri sehingga merebut kebesaran Allah dan sibuk dengan diri sendiri.

3. SELALU SADAR AKAN PENGAWASAN ALLAH (muraqabah) : Dalam qs alhasyr 1 pula Allah menggunakan kata Alkhobir yang berarti Maha Waspada,  kewaspadaan Allah meliputi apa saja yang lahir maupun yang batin,  bahkan lintasan hati yg sepersekian detikpun amat mudah beliau saksikan.  Jika karena adanya cctv saja kita enggan mencuri di supermarket,  maka jiwa penutur cerita seharusnya lebih peka dan takut apabila saat tampil,  justru lupa dan tidak beradab dihadapan ke Maha Waspadaan Allah, INGAT UNTUK MENGINGAT APAPUN GERAK GERIK KITA SAAT CERAMAH DIPERSAKSIKAN ALLAH.

4. MENGAITKAN DAKWAH BILHIKAYAT & RIWAYAT KITA DENGAN MATA RANTAI DAKWAH RASULULLAH: bahwa kita bertutur kisah,  baik dihadapan anak maupun dewasa,  hakekatnya adalah sedang mengemban amanah dari kekasih kita nabi Muhammad SAW,  rasa amanah yang kuat menjalankan missi ini,  enggan mengkhianatinya dengan mencari pamrih popularutas duniawi. Rasulullah menyaksikan shalawat yang kita ucapkan lalu menjawabnya,  jangan sampai kita ucapkan shalawat yang nabi enggan menjawabnya dikarenakan ketidak tulusan kita mengucapnya.

5. PASTIKAN INI ADALAH AMAL AKHIRAT: sebaik-baik bekal adalah taqwa,  relakah diri kita menuju akherat tanpa bekal,  sedang orang lain membawa bekal,  sungguh merupakan kesia-siaan amal bagi kita, padahal ini kesempatan dari Allah kita mengumpul bekal pahala ilmu jariyah dengan bertutur kisah hikmahnkepada anak-anak. Nabi bersabda “Adakalanya seseorang tampak beramal akhirat,  padahal itu hanyalah amal dunia,  berapa banyak orang yang tampak beramal dunia padahal ia melakukan amal akhirat”.

6. SIAPA TAHU,  SAAT BERKISAH ITULAH HUSNUL KHATIMAH KITA. Banyak orang mendambakan kematian husnul khatimah,  mungkin saat mencari ilmu,  bisa jadi saat sholat,  bisa juga saat membaca quran,  atau sdg berjihad fie sabilillah,  ditempat tidur dgn derajat syahid. Alangkah indahnya saat kita ikhlas tanpa JUBSUMRIYA kita diwafatkan.  Namun pertakutilah keadaan saat kita lepas kendali diri, pada saat itulah detik terakhir kita bernafas… Na’udzubillahi min dzalik.

7. DOA PERLINDUNGAN DARI SYIRK KHAFI & KAFARATUL MAJLIS: Lazimkan doa “Allahumma inni a’udzu usyrika bika wa ana a’lamu wa astaghfiruka limaa laa a’lamu” (ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari kesyirikan kepada Mu,  dan aku berlindung kepadamu dari apa yang tidak kami ketahui (riya sumah)”
Tutuplah dengan doa kafaratul majlis agar kesalahan yang mungkin terjadi,  baik sengaja atau tidak sengaja (termasuk salah hati)  dimaafkan dan dilupakan Allah SWT… Wallahu a’lam

Ingati,  bahwa kita berkisah agar Islam besar,  bukan kita yang besar.

7 KEBIASAAN RUHIYAH YANG SANGAT MEMPENGARUHI KETAATAN & KEHIKMATAN AUDIEN KEPADA PENUTUR KISAH

image

1. Cahaya Wajah,  buah dari wudhu yang tuntas,  cahaya selalu menjadi arah memandang. Kendatipun tanpa kostum yang menarik,  muka yang bening bercahaya sudah menawan hati serta meredam suasana riuh.

2. Ketenangan penampilan: ketenangan dimiliki orang-orang yang anggota tubuhnya tenang,  sekali_kali tak akan tenang fisik sebelum akalnya tenang, dan akal belum akan tenang jika hatinya belum tenang. Ketenangan batin adalah buah dari kelaziman dzikrullah filqalbi.

3. Ucapan Basmallah: apapun amal perbuatan baik yang didahului denan basmallah akan mepnjauhkan bala dan ganguan. Termasuk bertutur cerita. Sadarilah bhw Allah yg akan menjadikan hati mereja cenderung kepada kita. Dongeng yg jorok, kecentila atau lelucon hanya menarik syahwat saja.  Namun basmallah (pemahaman bahwa kita akan melakukannya karena Allah)  menjadi energi yg besar dan menaklukkan hati audien kita.

4. Ucapan salam yg tulus, mengucapkan doa salam yg tulus, akan membuahkan jawaban yg dikabulkan (selamat,  rahmat,  barakah).  Apalagi yg menjawab anak-anak suci dan jumlahnya banyak. ia akan berlipat ganda daya pengaruhnya. Jangan sampai keinginan mendapat kesan bagus dalam mengucap salam justru menjadi kesia-siaan amal karena sekedar mengucap kata salam.

5. Tahajud,  Allah akan berikan qaulan tsaqila (kata yg berat) sehingga akan mengendap ke hati-hati pendengar kita,  bisa jadi suara kita cempreng tak enak didengar namun pengaruh kata-kata sangat kuat tergurat dihati mereka.

6. Ruh Kisah: ianya kesungguhan niat untuk mengubah keadaan buruk menjadi lebih baik. Bilamana kita berkisah,  dan yang mendorong kita adalah suatu keprihatinan atau rasa takut akan munculnya generasi yang lemah, maka apa yg kita tutur dan tuliskan akan dirasakan dan dibela oleh kecenderungan hati mereka,  tanpa banyak penolakan dari audien, ia meluncur menyusupi relung hati mereka. Bahkan menghidupkan hati yang sudah mati.

7. Doa sebelum dan sesudah berkisah, agar mereka senantiasa menerima kebenaran,  kebaikan dan mengecapi keindahan Islam,  Allah yang akan menyampaikan maksud dari amal dakwah melalui kisah yang disampaikan.
Yaa muqallibal qulub,  tsabit quluubana ‘ala diinika

Semoga Kita Tak Salah Arah,  Salah Kaprah Dan Salah Kiprah

PUISI DI HADAPAN ERDOGAN

“Suara kami telah serak.

Ya Allah, jangan biarkan menara kami tanpa suara adzan. 

Panggilkanlah lebah untuk membuatkan kami madu. 

Atau setidaklah berilah kami sarangnya.

Menara-menara kami sudah kehilangan cahaya. 

Jangan biarkan langit juga tanpa bintang.

Jangan biarkan negeri Islam kami tanpa orang Muslim. 

Berilah kami kekuatan. 

Jangan biarkan medan jihad tanpa orang-orang kami yang tangguh.

Jangan sampai barisan pasukan kami tanpa pemimpin hebat. 

Supaya kami tahu bagaimana menghentikan musuh. Jangan biarkan kami tanpa semangat.

Jangan sampai kumpulan yang tinggal satu-satunya ini juga tercerai-berai. 

Karena itu berilah mereka pemimpinnya.

Jangan biarkan kami tanpa cinta, air, udara, dan negeri. Jangan biarkan negeri Islam kami tanpa orang Muslim.”

image