MEMULAI ZUHUD DARI HAL YANG RINGAN-RINGAN

image

TENTUNYA kita semua paham akan zuhud. Zuhud adalah rasa di mana kita lebih condong kepada akhirat dibandingkan duniawi. Dan ternyata, sedikitnya ada dua peringkat zuhud, yakni zuhud terhadap dunia dan zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia.

Zuhud terhadap dunia adalah perigkat utama yang apabila seseorang mampu mencapainya, maka ia akan dengan sendirinya mampu berlaku zuhud terhadap apa-apa yang di tangan manusia. Tetapi, pada sebagian orang, zuhud terhadap dunia hampir-hampir tak dapat dilakukan sebelum memulai zuhud yang paling ringan, yakni zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia.

Zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia adalah menahan keinginan maupun kehendak untuk memiliki serta menguasai apa yang menyenangkan dari tangan orang lain, sebagaimana mendekatnya seseorang kepada orang yang sedang memegang kekuasaan.

Jika kita berbuat baik terhadap orang lain dikarenakan mengharapkan pemberian harta, perhiasan, makanan, atau ha-hal lain yang memberikan ini merupakan akhlak yang bertentangan dengan zuhud.

Sikap ini dirasakan sebagai suatu perilaku yang tidak tulus, dan kerap kali membuat kita cenderung hanya mau mendekat saat ada yang kita inginkan dari dirinya. Kita kehilangan kemampuan untuk melihat orang tersebut secara utuh sebagaimana manusia yang memiliki bnayak kelebihan. Kita juga tidak bisa menerimanya secara tulus sebagai sesama muslim. Karena, sesungguhnya apa yang kita lihat bukanlah dirinya, melainkan hartanya, kekuasaannya, atau bahkan sebagian kecil dari nikmat yang ada padanya. []

Referensi: Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan/Mohammad Fauzil Adhim/Pro-U Media

SEMOGA KITA TERMASUK YANG BERTANYA BUKAN YANG DITANYA

image

Allah akan memberikan kesempatan bagi penghuni surga, untuk bertanya kepada penghuni neraka (saqar)

مَا سَلَكَكُمْ فِى سَقَرَ ﴿٤٢﴾

“Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?”

قَالُوا۟ لَمْ نَكُ مِنَ ٱلْمُصَلِّينَ ﴿٤٣﴾

“Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang me-laksanakan salat, ”

وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ ٱلْمِسْكِينَ ﴿٤٤﴾

“dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin, ”

وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلْخَآئِضِينَ ﴿٤٥﴾

“bahkan kami biasa berbincang (untuk tujuan yang batil), bersama orang-orang yang membicarakannya, ”

وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ ﴿٤٦﴾

“dan kami mendustakan hari pembalasan, ”

حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلْيَقِينُ ﴿٤٧﴾

“sampai datang kepada kami kematian.” ”

Demikian yang terkisah dalam surah Al Mudatsir 42-47, semoga Allah memelihara keimanan,  keislaman dan akhlak kita semasa hidup hingga waktuperjumpaan kita dengan-Nya, aamiin

MURNIKAN AGAMA KITA UNTUK ALLAH SEMATA

Jenis – jenis Riya’
Dalam Perkara Agama

image

Riya’ badan
———————-
Memperlihatkan bentuk tubuh yang pucat, rambut acak-acakan, suara yang parau, mata yang cekung, bibir yang layu, sehingga menunjukkan sedemikian rupa ia dalam beribadah sampai tidak sempat mengurus diri sendiri

Riya’ Perhiasan
—————————
Memiliki bekas sujud di wajah, memakai pakaian wol, pakaian yang lusuh, pakaian tambalan dsb, sehingga orang menilainya sebagai orang yang zuhud  dan ahli ibadah

Riya’ Perkataan
————————-
Memberi nasihat, peringatan, berdebat supaya menunjukkan dalamnya ilmu, dan menunjukkan bibir yang terus bergerak di hadapan orang banyak agar disebut ahli dzikir dsb

Riya’ Perbuatan
————————-
Memanjangkan bacaan saat berdiri dalam shalat, memanjangkan ruku, sujud dan menampak kekhusyu’an di hadapan orang banyak dsb

Riya’ Pergaulan
————————–
Memamerkan bahwa para ulama telah berkunjung kepadanya sehingga orang -orang kagum kepadanya dan meminta berkah, memamerkan guru – gurunya agar orang lain kagum dan meminta nasihat darinya

(“Mukhtashar Minhajul Qoshidin” karya Ibnu Qudamah)

SAFAR UNTUK BERKISAH

image

Kita berkomitmen untuk melayani umat untuk bertutur kisah.  Rela meninggalkan rumah untuk menjelajah berbagai daerah.
Apabila direnungi,  maka tugas atau perjalanan telah banyak menyita waktu kita, apalagi yang sudah memiliki nama dan penggemar yang lebih banyak.
Agar safar kita bermakna,  izinkan saya mengingatkan para sahabat dengan sedikit renungan semasa menjalani rihlah dakwah berkisah:

1. Hakekatnya hidup ini adalah safar. Safar dari alam azali menuju alam akhirat. Ada beberapa terminal yang harus kita singgahi: alam rahim,  alam dunia,  alam,  barzakh,  alam kubur dan alam makhsyar.
Safar merupakan kepingan dari kesadaran akan hakekat hidup kita,  perjalanan panjang ini menjawab 3 pertanyaan mendasar “darimana kita berasal, untuk apa kita hidup,  dan kemana akan menuju? ”
2. Saat ini kita berada pada fase safar dunia: hakekat hidup kita adalah untuk melaksanakan kewajiban dan menghadapi ujian-ujian hidup itu sendiri. Barang siapa yang berhasil melaksanan tugas dan kewajiban itu,  maka ia akan memperoleh balasan kebaikan yang telah ia kerjakan. Namun barang siapa yang gagal maka ia akan mendapat hukuman dikarenakan kelalaiannya dlm menjalankan tugas dan menempuh ujian tersebut.

3. Pada fase kehidupan dunia ini, setiap safar hidup kita,  harus ditetapkan tujuan,  route,  pertimbangan jarak dan waktu menempuhnya. start kita dari terminal rahim kemudian finish adalah kematian.

4. Seorang juru kisah yang akan safar, baik secara pribadi maupun bersama-sama, sudah tentu mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, sejak menentukan tujuan yang jelas, mencari informasi route yang akan ditempuh,  kendaraan yang dipilih,  memilih imam safar,  menjaga adab safar dan menjaga safar kita tetap bernilai fi sabilillah.

5. Adakalanya safar tengah berlangsung, namun bisa jadi kita tidak berhasil menjangkau tujuannya. Misalnya harus diturunkan ditengah jalan karena sakit,  atau berubah arah, atau bisa dikarenakan telah mendahului ketetapan usia sebelum tercapai cita-cita safarnya. Namun yang sering terjadi adalah secara fisik kita sampai tujuan, namun secara nilai fie sabilillah sia-sia pahalanya, dikarenakan tidak menjaga adab dan keikhlasan hati.

6. Sebagai tanda syukur,  tampillah sebaik mungkin saat berkisah dan memotivasi orang untuk berkisah. Hanya dikarenakan Allah selalu menyaksikan setiap gerak-gerik kita melakukannya,  buatlah mereka puas, dengan pamrih Allah menjadi semakin mencintai kita,  lalu Beliau merahmati kita semua. Maka yang demikian itu layak disebut Ibadah.

7. Waspadailah setiap keinginan diri untuk tampil memukau,  jika dorongannya adalah untuk dikenang manusia karena kehebatan kita, atau agar berulang serta bertambahnya nominal harta yg kita terima. Decak kagum dan tepuk tangan memang manis, namun ia hanyalah candu yang memabukkan, jika demikian safar panjang yang kita lakukan,  pengorbanan anak istri yang kita comot hak waktu serta perhatiannya menjadi sia-sia. Karena mengapa? Karena apa yang kita lakukan hanyalah main-main semata,  ia bukan ibadah tapi bernilai maksiyat. Siapa berani tampil hebat dibawah pandangan Allah yang Maha Melihat?

Wallahu muwafiq ilaa aqwamith thariq

NILAI-NILAI KESADARAN SEBAGAI JURU KISAH MUSLIM

image

1. Kami melihat bahwa, anak-anak dan audien yang berada dihadapan kami, adalah para belia atau sahabat, yang pada hari itu Allah amanahkan,  agar diukir dan dikembangkan fitrah insaniyahnya, mereka bukan obyek atau mainan kesenangan bagi kami,  melainkan tanaman yang harus kami siram dan pupuk dengan Iman,  Islam dan jiwa Ihsan.

2. Kami memandang, bahwa setiap kesempatan atau momentum berkisah,  sebagai ladang amal yang mesti disuburkan,  ia adalah wahana hidup bagi tumbuhnya generasi umat Islam dimasa yang akan datang. Kami ibarat perambah lahan dakwah,  hadir untuk menyuburkan hati, dan bukan untuk bertujuanmeracuni dan mematikan hati.

3. Kami meyakini, bahwa rejeki merupakan ketetapan Allah,  kadarnya sudah ditentukan dan tak akan pernah tertukar.  Rezeki itulah yang akan kami sumbangsihkan untuk kemajuan dakwah Islam dikalangan anak-anak. Tak akan kami simpan ghill dan hasud, terhadap siapapun yang bergerak bersama atau yang tidak bersama kami dalam wadah beraktivitas ini. Kami yakin bahwa ‘siapa mencari Allah,  maka akan menemukan rezeki-Nya,  namun siapa mencari rezeki-Nya saja ia tak akan akan memperoleh wajah Allah.

4. Apakah yang kami lakukan ini merupakan profesi? Kami akan jawab “iya” meskipun SEBENARNYA apapun yang kita lakukan adalah BERDAKWAH. Apabila kami ditanya apakah yang kita kerjakan adalah Dakwah?  Maka kami jawab “Iya”. Karena kita meniatinya sedemikian adanya. Adapun rejeki itu adalah akibat yang sepenuhnya telah kami serahkan kepada kebijaksanaan Allah.  Antara mencari maisyah dan dakwah merupakan dua hal yang berbeda, meskipun keduanya merupakan ibadah yang tak terhingga nilai amal dan pahalanya.

5. Kami menyadari, bahwa kami merupakan bagian dari gerakan besar menyebar luaskan dakwah Islamiyah,  yang berasal dari umat untuk memajukan umat  Islam sedunia. Kami bukanlah kaum elitis atau ekslusif, yang dengan adanya keahlian atau kelebihan yang dititipkan Allah kepada kami,  pada akhirnya kami menyadari bahwa apa yang kita miliki akan ditanyakan dan dimintai pertanggung jawabnnya oleh Allah,  baik secara pribadi maupun bersama. Akan dihisab baik dampak kinstrukti maupun destruktif (na’udzubillahi min dzalika) dari kiprah yang terus kami jalani.

6. Kami mensyukuri,  Allah mempersaudarakan kami dalam komunitas,  semata-mata demi lebih meringankan kewajiban dan memperbesar pengaruh kebaikan dari dakwah dikalangan anak-anak yang kami jalani,  semoga Allah selalu menjaga keutuhan dan ketulusan dalam setiap aktivitas kami,  dan menjauhkan kami dari cerai berai yang melemahkan gerak langkah pergerakan ini.