6 SIKAP POSITIF YANG KITA KEMBANGKAN SEBAGAI JURU KISAH

image

Saya ingin membahas secara ringkas,  rangkai ungkapan tentang sikap positif,  yang ideal untuk kita kembangkan, sebagai sesama juru kisah

ASAH, ASIH, ASUH, NGAYOMI, NGAYANI, NGAYEMI

1. Saling Asah: hidupkanlah tradisi berbagi ide, ilmu,  ketrampilan, pengalaman dan hasil uji coba. dimana satu sama lain selalu antusias untuk membagikannya, maka kemudian akan menimbulkan rasa gembira dihati apabila melihat sahabatnya semakin berkembang. Namun jangan lupakan adab untuk selalu berterima kasih atas pemberian yang sangat berharga itu.  Selain itu, tradisi saling mengasah pengetahuan dan ketrampilan akan menjadikan kemampuan kita semakin efektif, presisi dan indah.  Disanalah kita semua akan banyak merasakan nilai tambah dalam berkisah.

* Saling Asih: Saling menghormati dan menyayangi satu sama lain, bukanlah ungkapan utopis,  kondisi itu sangat mungkin kita kembangkan. Mulailah dari saling mendoakan saat saling berjauhan,  insyaallah akan muncul kerinduan di hati-hati kita. Dipenghujung surah maryam, Allah berjanji “Bagi orang-orang yang beriman dan senantiasa beramal sholeh,  Allah akan mewujudkan rasa mawaddah”
Saya jadi teringat petunjuk Rasulullah kepada kita semua, “Tidak tergolong sebagai umatku,  jikalau yang tua tidak mengasihi yang muda,  dan yang muda menghormati yang tua”

* Saling Asuh: Setiap orang memiliki keunikan sendiri,  baik pola pikir,  pola tindak, pola sikap,  talenta dan watak kepribadiannya. Setiap kita mesti belajar untuk matang approach kepada mereka,  keluwesan berhubungan satu sama lain (momong-ngemong), akan melahirkan keindahan dalam seni pergaulan.  Dikarenakan setiap pribadi itu unik,  tidaklah pantas saling mencari keburukan,  mengungkit kekurangan atau membanding-bandingkan yang satu dengan yang lain. Mari kita kembangkan husnuzhan dalam bersahabat,  jikalau persoalan atau friksi kita mencari baikanya bagaimana (bukan benar salah) dengan mengedepankan akhlakul karimah.
Bukankah kita ini sudah berkomitmen untuk mempersaudarakan diri?

* NGAYOMI, artinya saling melindungi,  Islam mengharuskan kita untuk saling melindungi, baik harta,  darah,  kehormatan, keutuhan keluarga,  sanggar,  reputasi saudara kita. Setiap pribadi mesti bergegas-gegas tampil sebagai penolong bagi saudarany,  sepanjang kita masih menolong saudara kita Allah selalu bersedia untuk menolong kita. Alangkah indahnya, jika saat kita saling berjumpa, maka akan merasakan rasa teduh dan aman. Apabila ada api perselisihan yang muncul,  maka sesegera mungkin dipadamkan,  bukan justru dihembus-hembuskan angin panas pula. Semoga akan lebih banyak yang bernaung dan merasakan faedah kebersamaan dalam persaudaraan ini… aamiin.

* NGAYANI,  Sesuai kehendak Allah Ar Razaq,  rejeki kita tidaklah tidak sama,  namun yang terpenting dalam hati kita sangat ingin semuanya mendapatkan kesejahteraan yang layak, yang mampu bisa menyantuni yang kekurangan,  yang bijak bisa memberi solusi kepada yang belum mapan dalam nafkah. Hidup-hidupkanlah jiwa “Ngrejekeni” atau jiwa yang melimpah/abundance. Dalam berbagai ekspresi simpati-empati sebagai warga persaudaraan. Namun demikian tetap menjaga akhlak ikhlas (tulus tanpa menyakiti)  dan iffah (menjaga marwah diri). Yang demikian hanya akan terbina kokoh apabila didasarkan oleh keimanan yang terus dipelihara dan berkembang.

* NGAYEMI,  Saling menjaga ketenangan,  memotivasi,  menjamin kerahasiaan dan mengucapkan kata-kata yang salam/menentramkan. Tidak ada su’uzhan,  marah atau dendam. Dalam jiwa kita harus terpasang mekanisme penghapus kemarahan. Sahabat Rasulullah yang bernama Hatim Thayyi disebut Rasulullah sebagai ahli surga, dikarenakan mutabaah yang sukses dalam memaafkan semua manusia yang berbuat salah kepadanya, baik sengaja ataupun tidak,  setiap menjelang tidur ia menghapus rasa marah dan kemudian memaafkannya, batulah ia terpejam dalam tidur menuju qiyamullailnya.
Penting bagi kita,  untuk tidak membuat persoalan yang merusak hubungan,  atau mencari-cari masalah,  apalagi mempermasalahkan setiap masalah. Insyaallah akan terwujud keadaan aman dan damai (ayem) , sehingga kita lebih tenang dan progresif dalam beramal dakwah ini.

Semoga Allah saudara-saudara semua memaafkan saya,  jika masih belum mampu mewujudkan 6 sikap positif diatas.  Semoga Allah memampukan kita untuk terus bersaudara dalam ikatan keimanan,  dan tidak dikeluarkan dari ahlu dakwah dan ibadah… Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s