SAFAR UNTUK BERKISAH

image

Kita berkomitmen untuk melayani umat untuk bertutur kisah.  Rela meninggalkan rumah untuk menjelajah berbagai daerah.
Apabila direnungi,  maka tugas atau perjalanan telah banyak menyita waktu kita, apalagi yang sudah memiliki nama dan penggemar yang lebih banyak.
Agar safar kita bermakna,  izinkan saya mengingatkan para sahabat dengan sedikit renungan semasa menjalani rihlah dakwah berkisah:

1. Hakekatnya hidup ini adalah safar. Safar dari alam azali menuju alam akhirat. Ada beberapa terminal yang harus kita singgahi: alam rahim,  alam dunia,  alam,  barzakh,  alam kubur dan alam makhsyar.
Safar merupakan kepingan dari kesadaran akan hakekat hidup kita,  perjalanan panjang ini menjawab 3 pertanyaan mendasar “darimana kita berasal, untuk apa kita hidup,  dan kemana akan menuju? ”
2. Saat ini kita berada pada fase safar dunia: hakekat hidup kita adalah untuk melaksanakan kewajiban dan menghadapi ujian-ujian hidup itu sendiri. Barang siapa yang berhasil melaksanan tugas dan kewajiban itu,  maka ia akan memperoleh balasan kebaikan yang telah ia kerjakan. Namun barang siapa yang gagal maka ia akan mendapat hukuman dikarenakan kelalaiannya dlm menjalankan tugas dan menempuh ujian tersebut.

3. Pada fase kehidupan dunia ini, setiap safar hidup kita,  harus ditetapkan tujuan,  route,  pertimbangan jarak dan waktu menempuhnya. start kita dari terminal rahim kemudian finish adalah kematian.

4. Seorang juru kisah yang akan safar, baik secara pribadi maupun bersama-sama, sudah tentu mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, sejak menentukan tujuan yang jelas, mencari informasi route yang akan ditempuh,  kendaraan yang dipilih,  memilih imam safar,  menjaga adab safar dan menjaga safar kita tetap bernilai fi sabilillah.

5. Adakalanya safar tengah berlangsung, namun bisa jadi kita tidak berhasil menjangkau tujuannya. Misalnya harus diturunkan ditengah jalan karena sakit,  atau berubah arah, atau bisa dikarenakan telah mendahului ketetapan usia sebelum tercapai cita-cita safarnya. Namun yang sering terjadi adalah secara fisik kita sampai tujuan, namun secara nilai fie sabilillah sia-sia pahalanya, dikarenakan tidak menjaga adab dan keikhlasan hati.

6. Sebagai tanda syukur,  tampillah sebaik mungkin saat berkisah dan memotivasi orang untuk berkisah. Hanya dikarenakan Allah selalu menyaksikan setiap gerak-gerik kita melakukannya,  buatlah mereka puas, dengan pamrih Allah menjadi semakin mencintai kita,  lalu Beliau merahmati kita semua. Maka yang demikian itu layak disebut Ibadah.

7. Waspadailah setiap keinginan diri untuk tampil memukau,  jika dorongannya adalah untuk dikenang manusia karena kehebatan kita, atau agar berulang serta bertambahnya nominal harta yg kita terima. Decak kagum dan tepuk tangan memang manis, namun ia hanyalah candu yang memabukkan, jika demikian safar panjang yang kita lakukan,  pengorbanan anak istri yang kita comot hak waktu serta perhatiannya menjadi sia-sia. Karena mengapa? Karena apa yang kita lakukan hanyalah main-main semata,  ia bukan ibadah tapi bernilai maksiyat. Siapa berani tampil hebat dibawah pandangan Allah yang Maha Melihat?

Wallahu muwafiq ilaa aqwamith thariq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s