MAZHAB KEBAHAGIAAN & KEBERUNTUNGAN

image

Berkata Ibnul Qayyim -rahimahullah-:

ﻣﻦ ﻋﻼﻣﺎﺕ ﺍﻟﺴﻌﺎﺩﺓ ﻭﺍﻟﻔﻼﺡ ﺃﻥ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻛﻠﻤﺎ ﺯﻳﺪ ﻓﻲ ﻋﻠﻤﻪ ﺯﻳﺪ ﻓﻲ ﺗﻮﺍﺿﻌﻪ ﻭﺭﺣﻤﺘﻪ، ﻭﻛﻠﻤﺎ ﺯﻳﺪ ﻓﻲ ﻋﻤﻠﻪ ﺯﻳﺪ ﻓﻲ ﺧﻮﻓﻪ ﻭﺣﺬﺭﻩ، ﻭﻛﻠﻤﺎ ﺯﻳﺪ ﻓﻲ ﻋﻤﺮﻩ ﻧﻘﺺ ﻣﻦ ﺣﺮﺻﻪ، ﻭﻛﻠﻤﺎ ﺯﻳﺪ ﻓﻲ ﻣﺎﻟﻪ ﺯﻳﺪ ﻓﻲ ﺳﺨﺎﺋﻪ ﻭﺑﺬﻟﻪ، ﻭﻛﻠﻤﺎ ﺯﻳﺪ ﻓﻲ ﻗﺪﺭﻩ ﻭﺟﺎﻫﻪ ﺯﻳﺪ ﻓﻲ ﻗﺮﺑﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻗﻀﺎﺀ ﺣﻮﺍﺋﺠﻬﻢ ﻭﺍﻟﺘﻮﺍﺿﻊ ﻟﻬﻢ.
ﻭﻋﻼﻣﺎﺕ ﺍﻟﺸﻘﺎﻭﺓ ﺃﻧﻪ ﻛﻠﻤﺎ ﺯﻳﺪ ﻓﻲ ﻋﻠﻤﻪ ﺯﻳﺪ ﻓﻲ
ﻛﺒﺮﻩ ﻭﺗﻴﻬﻪ،ﻭﻛﻠﻤﺎ ﺯﻳﺪ ﻓﻲ ﻋﻤﻠﻪ
ﺯﻳﺪ ﻓﻲ ﻓﺨﺮﻩ ﻭﺍﺣﺘﻘﺎﺭﻩ ﻟﻠﻨﺎﺱ
ﻭﺣﺴﻦ ﻇﻨﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ،ﻭﻛﻠﻤﺎ ﺯﻳﺪ ﻓﻲ ﻋﻤﺮﻩ ﺯﻳﺪ ﻓﻲ ﺣﺮﺻﻪ،ﻭﻛﻠﻤﺎ ﺯﻳﺪ ﻓﻲ ﻣﺎﻟﻪ ﺯﻳﺪ ﺑﺨﻠﻪ ﻭﺇﻣﺴﺎﻛﻪ،ﻭﻛﻠﻤﺎ ﺯﻳﺪ ﻓﻲ ﻗﺪﺭﻩ ﻭﺟﺎﻫﻪ ﺯﻳﺪ ﻓﻲ ﻛﺒﺮﻩ ﻭﺗﻴﻬﻪ.
ﻭﻫﺬﻩ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺍﺑﺘﻼﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ
ﻭﺍﻣﺘﺤﺎﻥ ﻳﺒﺘﻠﻲ ﺑﻬﺎ ﻋﺒﺎﺩﻩ، ﻓﻴﺴﻌﺪ ﺑﻬﺎ ﺃﻗﻮﺍﻡ ﻭﻳﺸﻘﻰ ﺑﻬﺎ ﺃﻗﻮﺍﻡ

“Diantara tanda-tanda kebahagiaan dan keberuntungan adalah jika seorang hamba itu bertambah ilmunya maka bertambah pula ketawadhuan dan kasih sayangnya, dan ketika bertambah amalannya maka bertambah pula rasa takut dan keberhati-hatiannya, dan ketika bertambah umurnya maka berkuranglah ambisinya (terhadap dunia), dan jika bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan serta pengorbanannya, dan jika bertambah tinggi kedudukan dan jabatannya maka bertambahlah pendekatannya kepada manusia dan memenuhi keperluan mereka serta tawadhu’ dihadapan mereka.
Sedangkan tanda kesengsaraan adalah jika bertambah ilmunya maka bertambahlah kesombongan dan kebanggaan dirinya, dan ketika bertambah amalannya maka bertambahlah keangkuhan serta perendahannya terhadap manusia dan terlalu berbaik sangka pada dirinya sendiri, dan ketika bertambah umurnya maka bertambah pula ambisinya (terhadap dunia), dan ketika bertambah hartanya maka bertambah pula kekikirannya serta menahan hartanya, dan ketika bertambah tinggi kedudukannya serta jabatannya maka bertambahlah keangkuhan serta kecongkakannya.
Inilah perkara-perkara yang Allah menguji dan memberikan cobaan kepada para hamba-Nya, maka berbahagialah dengan hal tersebut suatu kaum dan merugilah kaum yang lainnya”.

MEMULAI ZUHUD DARI HAL YANG RINGAN-RINGAN

image

TENTUNYA kita semua paham akan zuhud. Zuhud adalah rasa di mana kita lebih condong kepada akhirat dibandingkan duniawi. Dan ternyata, sedikitnya ada dua peringkat zuhud, yakni zuhud terhadap dunia dan zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia.

Zuhud terhadap dunia adalah perigkat utama yang apabila seseorang mampu mencapainya, maka ia akan dengan sendirinya mampu berlaku zuhud terhadap apa-apa yang di tangan manusia. Tetapi, pada sebagian orang, zuhud terhadap dunia hampir-hampir tak dapat dilakukan sebelum memulai zuhud yang paling ringan, yakni zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia.

Zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia adalah menahan keinginan maupun kehendak untuk memiliki serta menguasai apa yang menyenangkan dari tangan orang lain, sebagaimana mendekatnya seseorang kepada orang yang sedang memegang kekuasaan.

Jika kita berbuat baik terhadap orang lain dikarenakan mengharapkan pemberian harta, perhiasan, makanan, atau ha-hal lain yang memberikan ini merupakan akhlak yang bertentangan dengan zuhud.

Sikap ini dirasakan sebagai suatu perilaku yang tidak tulus, dan kerap kali membuat kita cenderung hanya mau mendekat saat ada yang kita inginkan dari dirinya. Kita kehilangan kemampuan untuk melihat orang tersebut secara utuh sebagaimana manusia yang memiliki bnayak kelebihan. Kita juga tidak bisa menerimanya secara tulus sebagai sesama muslim. Karena, sesungguhnya apa yang kita lihat bukanlah dirinya, melainkan hartanya, kekuasaannya, atau bahkan sebagian kecil dari nikmat yang ada padanya. []

Referensi: Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan/Mohammad Fauzil Adhim/Pro-U Media

SEMOGA KITA TERMASUK YANG BERTANYA BUKAN YANG DITANYA

image

Allah akan memberikan kesempatan bagi penghuni surga, untuk bertanya kepada penghuni neraka (saqar)

مَا سَلَكَكُمْ فِى سَقَرَ ﴿٤٢﴾

“Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?”

قَالُوا۟ لَمْ نَكُ مِنَ ٱلْمُصَلِّينَ ﴿٤٣﴾

“Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang me-laksanakan salat, ”

وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ ٱلْمِسْكِينَ ﴿٤٤﴾

“dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin, ”

وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلْخَآئِضِينَ ﴿٤٥﴾

“bahkan kami biasa berbincang (untuk tujuan yang batil), bersama orang-orang yang membicarakannya, ”

وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ ﴿٤٦﴾

“dan kami mendustakan hari pembalasan, ”

حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلْيَقِينُ ﴿٤٧﴾

“sampai datang kepada kami kematian.” ”

Demikian yang terkisah dalam surah Al Mudatsir 42-47, semoga Allah memelihara keimanan,  keislaman dan akhlak kita semasa hidup hingga waktuperjumpaan kita dengan-Nya, aamiin