TIGA MASJID SUCI

BERKAH DARI SEKITAR MASJIDIL AQSHA 

(Majalah Hidayatullah Juni 2016)
Bulan istimewa, negeri istimewa, orang-orang istimewa. Ketiganya istimewa bukan karena diistimewakan oleh manusia, tapi karena diistimewakan oleh Allah dan Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wa sallam.

Mengistimewakan apa yang diistimewakan Allah dan Rasul-Nya adalah bagian dari aqidah kita. Mengingkarinya adalah bagian dari kelemahan atau kerusakan iman kita.

Di bulan Ramadhan tahun 1437 ini, untuk keenam kalinya kita menghadirkan Imam-imam Huffazh Al-Quran dari Palestina, Negeri Syam.

Ramadhan diistimewakan Allah dengan turunnya Al-Quran di dalamnya, dengan kewajiban berpuasa, dan dengan Lailatul Qadr. Rasulullah muraja’ah hafalan Al-Qurannya kepada Malaikat Jibril di bulan Ramadhan, serta memperbanyak ibadah, sedekah, dan silaturrahim.

Negeri Syam diistimewakan Allah dengan cahaya berkah yang sangat khusus di sekitar Masjidil Aqsha. Syam juga diistimewakan Allah dengan berbagai peristiwa ketaatan para Nabi dan Rasul yang menjadi rujukan akhlaq dan adab manusia sepanjang zaman. Rasulullah menganjurkan kita ke Masjidil Aqsha dan ke Syam baik di masa damai maupun perang. Bahkan di masa kelam akhir zaman, ketika fitnah berkecamuk menyebar kekacauan, pembunuhan dan dusta, Rasulullah menganjurkan kita hijrah ke Syam.

Orang-orang ini, para imam, diistimewakan Allah dan Rasulullah dengan Al-Quran yang dihafalnya. Kedudukan para Huffazh Al-Quran istimewa di dunia dan di Akhirat, yaitu apabila akhlaq dan amalnya sesuai dengan apa yang dihafalnya. Orang-orang ini jadi lebih istimewa karena mereka menghafal Al-Quran seraya menghadapi kemungkaran besar terhadap umat Islam, rezim-rezim teroris, penjajah dan penindas: Zionis dan Syiah.

Bulan Ramadhan istimewa, Negeri Syam istimewa, para Imam Huffazh Al-Quran istimewa. Semoga ketiganya menambah kuat ketaqwaan kita kepada Allah Ta’ala.
Apa dan untuk Apa?
Sahabat Al-Aqsha bukan apa-apa, sekadar nama tempat kita berkumpul dan beramal bersama. Seperti evacuation meeting point di gedung-gedung bila terjadi gempa atau kebakaran. Ia berguna untuk memperbaiki cara-cara kita menyambung persaudaraan dengan saudara-saudara Muslim sedunia, khususnya di garis depan Suriah dan Palestina. Karena Rasulullah melakukannya. Selain berdagang, berda’wah, Rasulullah juga mengerahkan pasukan jihad ke Negeri Syam, untuk membebaskan Masjidil Aqsha dari penjajahan kaum kuffar. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq melanjutkannya. Amirul Mu’minin Umar bin Khattab menuntaskannya. Shalahuddin Al-Ayyubi menirunya. Kita juga menirunya.

Bukan cuma setiap tahun, seandainya mampu, setiap hari kita saling berkunjung dengan keluarga-keluarga kita di Negeri Syam. Hanya dengan begitu kita semakin banyak memetik keberkahan untuk kita antarkan ke rumah-rumah rakyat Indonesia sebanyak mungkin. Berkah Allah untuk Negeri Syam sebagai Negeri Tauhid para Nabi, berkah Allah untuk Masjidil Aqsha, berkah Allah untuk da’wah dan jihad Rasulullah, para Sahabat, para ulama, pada Mujahidin dan para Syuhada. 

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Khalid bin Walid, Bilal bin Rabah, Muadz bin Jabal, Abu Hurairah, Abu Darda’, Shuhaib bin Sinan, semoga Allah ridhai mereka semua, adalah sebagian sahabat yang syahid di Syam. Menurut tarikh tidak kurang dari 10 ribu Sahabat Rasulullah syahid di negeri itu.

Indonesia sedang memerlukan banyak berkah, agar kesejahteraan rakyatnya bukan kesejahteraan palsu yang materialistik semata. Kesejahteraan adab, akhlaq, dan kemakmuran yang membawa rakyatnya semakin taat kepada tuntunan syariah Allah dan Rasul-Nya.

Indonesia sedang memerlukan cermin sejarah dari Negeri Para Nabi, agar perilaku penguasa dan rakyatnya tidak seperti perilaku kaum para pembangkang Nabi-nabi. Para pembangkang yang diazab Allah. Kaum Luth yang membangkang dengan perilaku seks. Kaum Madyan yang membangkang dengan ekonomi. Kaum Fir’aun yang membangkang dengan aqidah dan politik. Kaum ‘Ad dan Tsamud yang membangkang karena kekayaan dan kepintarannya. Kaum Bani Israil yang membangkang karena kesombongan rasialnya. Kaum Ashabul Ukhdud yang bersikap dan bertindak jahat kepada orang-orang beriman.

Kita berharap, Al-Quran yang dilantunkan dan ditadabburi para imam serta kabar-kabar dan hikmah yang mereka tuturkan kepada kita, mentotalkan ketaatan dan cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Kita juga ingin kehadiran mereka mengokohkan persaudaraan dengan keluarga-keluarga kita di garis depan Syam.

Oh ya. Anda betul. Para Imam ini bukan Nabi, bukan Rasul. Adab dan akhlaqnya juga banyak kekurangan. Maklumi saja. Kita juga belum tentu lebih baik dari mereka. Perbaiki kalau ada yang perlu diperbaiki. Doakan kalau ada yang perlu doakan. Tapi kalau ada tabiatnya yang negatif dan berpengaruh buruk pada maksud-maksud mulia di atas, kita pulangkan saja mereka dengan cara yang baik. Lalu datangkan penggantinya. Mereka juga perlu memetik pelajaran-pelajaran dari kita.

Yang penting di atas segalanya, mereka hadir karena Allah, kita menyambut mereka karena Allah. Cukup lah itu membuat kehadiran mereka jadi istimewa. Jangan sampai kita menerima mereka dengan mental pembeli budak belian. Kalau budaknya kuat dan bagus kita sayang, kalau ada kekurangan kita ganyang. Jangan.

Selain melantunkan Al-Quran, mentadabburinya, menyampaikan kabar-kabar terakhir dan hikmah-hikmahnya, lewat mereka, kita mohon Allah izinkan kita menyalurkan dukungan bagi keluarga-keluarga kita yang bersabar dan bertahan di garis depan Suriah dan Palestina.

Mereka bertahan, kita kuatkan, Allah menangkan.
Masih Sedikit
Sejak 2007, belum banyak yang kita lalukan dibandingkan samudera kesabaran dan jihad mereka. Bahkan belum apa-apa dibandingkan keperluan dan penderitaan yang mereka tahankan.

Sumur-sumur air minum, renovasi gedung sekolah, operasional taman kanak-kanak, poliklinik, ambulans, perlengkapan medis untuk penderita kanker, paket-paket makanan, bantuan musim dingin, santunan anak yatim, serta berbagai bantuan darurat semasa perang, belum apa-apa.

Tapi kita yakin, dengan menjaga keikhlasan hati kita saat mengeluarkannya dari harta yang kita cintai, Allah akan maksimalkan daya dan kekuatannya. Allah Maha Tahu dan Maha Berkuasa melakukan apapun.

Kita hanya ingin, meski belum cukup banyak, semua yang baik-baik yang kita lakukan ini akan cukup layak untuk menghapus seluruh dosa kita. Lalu Allah berkenan menyelamatkan kehidupan kita di dunia dan Akhirat.

Kalaupun seandainya, kita mati sebelum sempat melihat Masjidil Aqsha merdeka, sebagaimana dialami oleh Rasulullah dan Abu Bakar, kita sudah melakukan yang terbaik yang mampu kita lakukan. Lalu Allah menghadirkan Umar dan Shalahuddin baru sesudah kita, yang akan membebaskan Masjidil Aqsha dan Negeri Syam sekali lagi.* 
*Relawan Sahabat Al-Aqsha