Pak Soeparjo Yang Memantik Api Bakat

Hari Sabtu itu, pak Soeparjo, guru bahasa Indonesia kami, menceritakan hikayat Ajisaka, semua menyimak dengan seksama, entah mengapa seorang anak yang biasanya menjadi biang keributan dikelas itu terdiam (tumben waras), ikut mendengarkan dongeng usang itu sampai usai. Diakhir penceritaannya, pak Parjo memberikan tugas, “Besok senin kalian semua harus berani maju, untuk menceritakan dongeng ini dihadapan teman sekelas!”

Hari Minggu, entah karena pengaruh “obat” apa, si tengil berisik itu mengorek dan mengulang dongeng Ajisaka, dalam batinnya ada keinginan akan maju mendongeng seperti konco-konco lainnya.

Hari Senin, ketika jam terakhir pelajaran pak Parjo lupa, bahwa ada tugas mengulang cerita, maka anak tengil itu mengacungkan jari lalu bertanya, “Pak jadi maju ndongeng nggak?”
Maka pak Parjo menjawab,”Oh iya saya lupa, baiklah siapa yang akan maju mendongeng?” tanya beliau serta menebarkan pandangan seantero kelas….suasana pun hening…cep klakep, sebagian pandangan mata temannya menunjukkan kejengkelan kepada pengusul kegiatannya…”ngapain juga harus diingatkan, bikin repot saja”.
“Ya sudah kamu saja yang maju!” Perintah beliau kepada.
Maka bocah item yang konon di persona nongrata-kan teman sekelas itu, maju lucah mendongeng, sedang yang lainnya hanya menonton saja, mungkin mereka heran, ternyata si -kriminal cilik ini bisa tampil didepan kelas (ra ngiro).
Ternyata peristiwa itu adalah momentum untuk pertama kalinya bagi si bocah tengil ngeyil itu menikmati sebuah panggung entertainment,, yang sensasi asyik saat bercerita itu, membuatnya menjadi ketagihan untuk mengulang-ulang, hingga sekarang.

Salam hormat dan doa kangen pak Soeparjo (74 tahun) guru bahasa Indonesia kami, semoga panjang yuswo dan semakin ditresnani Allah ta’ala..aamiin